Saudi Umumkan 110 Juta Ton Mineral Tanah Jarang dan Uranium di Madinah, Sinyal Diversifikasi Energi
Baca dalam 60 detik
- Arab Saudi mengklaim menemukan sekitar 110 juta ton bijih mineral tanah jarang dan uranium di Jabal Sayid, Madinah.
- Penemuan ini memperkuat posisi Riyadh dalam rantai pasok global mineral kritis dan program nuklir sipilnya.
- Bagi Indonesia, temuan ini dapat mengubah peta persaingan ekspor mineral dan mendorong percepatan hilirisasi.

Arab Saudi mengungkap temuan cadangan mineral tanah jarang dan uranium yang signifikan di wilayah Madinah, dengan estimasi sumber daya mencapai 110 juta ton bijih. Pengumuman disampaikan Menteri Energi Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, dalam Konferensi Umum Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di Wina, Austria, pekan ini.
Lokasi penemuan berada di proyek Jabal Sayid, sekitar 350 kilometer timur laut Jeddah. Menurut Pangeran Abdulaziz, studi eksplorasi dan geologi mengindikasikan konsentrasi tinggi mineral tanah jarang, terutama unsur berat, serta kadar uranium yang menjanjikan. Data dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang mengutip Kementerian Perindustrian dan Mineral Saudi serta perusahaan tambang negara Maaden menyebutkan potensi 552.000 ton logam tanah jarang berat seperti disprosium dan terbium, 355.000 ton logam tanah jarang ringan seperti neodimium dan praseodimium, serta sekitar 31.000 ton uranium.
Penemuan ini menjadi babak baru diversifikasi ekonomi Saudi yang selama ini bergantung pada minyak. Pangeran Abdulaziz menegaskan bahwa pemanfaatan sumber daya mineral yang beragam krusial untuk pertumbuhan ekonomi dan keamanan pasokan. Langkah ini juga memperkuat posisi Saudi sebagai mitra aktif di pasar energi global, seiring transisi energi yang mendorong permintaan mineral kritis untuk teknologi bersih, elektronik, dan pertahanan.
"Studi eksplorasi dan geologi di proyek Jabal Sayid di Madinah, telah mengungkap perkiraan sumber daya sekitar 110 juta ton bijih dengan konsentrasi tinggi mineral tanah jarang, khususnya unsur-unsur berat, serta konsentrasi uranium yang menjanjikan," ujar Pangeran Abdulaziz.
Pengumuman ini muncul beberapa bulan setelah Saudi dan Amerika Serikat meresmikan kerja sama nuklir sipil pada 22 Juli lalu. Kesepakatan yang ditandatangani Pangeran Abdulaziz dan Menteri Energi AS Chris Wright itu disebut Departemen Energi AS sebagai landasan hukum bagi kemitraan bernilai miliaran dolar selama beberapa dekade, sekaligus membuka akses lebih luas bagi perusahaan AS ke program nuklir sipil Saudi. Kombinasi cadangan uranium dan tanah jarang dinilai memberi Saudi posisi unik untuk mengembangkan siklus bahan bakar nuklir sendiri dan berpotensi mengekspor material tersebut ke AS.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi berlapis. Sebagai negara yang tengah mendorong hilirisasi mineral dan berambisi masuk ke rantai pasok kendaraan listrik, temuan Saudi dapat mengubah lanskap persaingan pasokan mineral kritis. Indonesia memiliki cadangan nikel, kobalt, dan bauksit yang melimpah, tetapi belum menjadi pemain utama di segmen tanah jarang. Jika Saudi berhasil mengembangkan tambangnya, tekanan terhadap harga mineral global bisa meningkat, sementara peluang kerja sama teknologi pengolahan dan pembiayaan dari Timur Tengah justru terbuka lebar.
Selain itu, bagi investor dan pelaku pasar energi, sinyal diversifikasi Saudi ini patut dicermati. Arab Saudi tidak lagi hanya berbicara soal minyak, tetapi mulai membangun portofolio energi yang lebih luas, termasuk nuklir dan mineral kritis. Langkah ini dapat memengaruhi dinamika OPEC+, kebijakan harga minyak, serta arus investasi global di sektor pertambangan. Indonesia perlu merespons dengan mempercepat reformasi regulasi pertambangan dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang geologi dan pengolahan mineral.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya seberapa besar cadangan yang benar-benar dapat diekstraksi, tetapi juga bagaimana Saudi akan mengelola dampak geopolitik dan lingkungan dari eksploitasi uranium serta tanah jarang. Jika berhasil, Riyadh berpotensi menjadi pemain kunci dalam transisi energi global, sekaligus mengubah peta kekuatan ekonomi di Timur Tengah. Indonesia, dengan posisi strategisnya di Asia Tenggara, perlu mempertimbangkan langkah konkret untuk tidak sekadar menjadi penonton dalam pergulatan mineral kritis ini.



