Blokade Laut AS Paksa Iran Alihkan Perdagangan ke Jalur Darat, Mampukah?
Baca dalam 60 detik
- Blokade maritim yang dipimpin AS memukul pelabuhan selatan Iran, memicu percepatan pengalihan arus barang ke koridor utara dan darat.
- Kapasitas jalur darat belum terpakai optimal, tetapi biaya logistik melonjak hingga empat kali lipat dibandingkan rute laut.
- Langkah ini berpotensi mengubah peta perdagangan kawasan dan menciptakan ketergantungan politik baru pada negara tetangga.

Blokade maritim yang dipimpin Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran telah memaksa Teheran mengalihkan sebagian besar aktivitas impor-ekspornya ke jalur darat dan pelabuhan utara. Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh, dalam kunjungan ke Moskow, menegaskan perlunya mengaktifkan perbatasan utara dan mengurangi ketergantungan pada rute laut selatan yang selama ini menjadi tulang punggung perdagangan.
Iran sebenarnya memiliki posisi geografis yang menguntungkan: tujuh negara tetangga melalui darat, akses ke Laut Kaspia, serta koneksi ke Rusia, Asia Tengah, Turki, Irak, Pakistan, dan Kaukasus. Namun, pertanyaan krusialnya adalah apakah jaringan tersebut sanggup menampung volume barang yang biasanya diangkut melalui laut. Data otoritas Iran menunjukkan pelabuhan utara memiliki kapasitas nominal lebih dari 30 juta ton per tahun, tetapi pemanfaatannya belum mencapai sepertiga.
Pengamat ekonomi politik berbasis di London, Alireza Salavati, menilai Iran masih memiliki ruang gerak yang belum dioptimalkan. "Iran memiliki ruang gerak yang lebih besar daripada yang mungkin terlihat dari ketergantungannya pada pelabuhan-pelabuhan selatan," ujarnya kepada DW. Meski demikian, ia mengakui bahwa kapasitas fisik menjadi kendala utama. Satu kapal dengan muatan 50.000 ton, misalnya, membutuhkan sekitar 2.000 perjalanan truk jika setiap truk mengangkut 25 ton.
Perbedaan biaya menjadi ganjalan serius. Ketua Kamar Dagang Iran-China, Majidreza Hariri, memperkirakan lonjakan biaya logistik hingga empat kali lipat jika kontainer dialihkan ke darat. Dengan sekitar dua juta kontainer masuk melalui wilayah selatan setiap tahun, tambahan beban fiskal yang ditanggung Iran bisa sangat besar. Barang bernilai rendah akan paling terdampak karena porsi biaya transportasi terhadap harga akhir menjadi tidak proporsional.
"Setiap kali kita menghadapi blokade laut, kita menghadapi masalah. Sebenarnya, berapa kapasitas yang dimiliki koridor timur, barat, dan utara kita?" โ Jafar Ghaderi, anggota Komisi Ekonomi Parlemen Iran.
Ahli strategi energi dari George Mason University, Umud Shokri, menyatakan bahwa jalur darat hanya bisa menjadi strategi ketahanan, bukan pengganti. "Rencana ini realistis sebagai strategi untuk meningkatkan ketahanan, tetapi bukan sebagai strategi pengganti," tegasnya. Ia mencontohkan pipa Goreh-Jask yang dibangun untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz, namun kapasitas aktualnya masih jauh dari ambisi awal. Infrastruktur pipa juga menciptakan kerentanan baru saat konflik bersenjata terjadi.
Bagi Indonesia, dinamika ini menawarkan beberapa pelajaran. Pertama, diversifikasi rute perdagangan menjadi kian penting di tengah ketegangan geopolitik. Indonesia yang mengandalkan jalur laut untuk ekspor-impor perlu memperkuat konektivitas alternatif, termasuk jalur darat dan kereta api antarwilayah. Kedua, lonjakan biaya logistik global dapat memicu inflasi impor, terutama untuk bahan pangan dan bahan baku industri. Ketiga, negara-negara yang mampu menyediakan koridor logistik alternatif akan memiliki daya tawar lebih besar dalam rantai pasok regional.
Ke depan, apakah blokade ini akan memaksa Iran mengakselerasi pembangunan infrastruktur darat secara permanen, atau justru memperdalam isolasi ekonominya? Yang jelas, jalur darat tidak akan pernah menyamai skala pelabuhan Teluk Persia, tetapi bisa menjadi penyangga hidup di tengah tekanan.



