Antam Tanam 55 Terumbu Karang di Lombok, Perkuat Jejak Konservasi Laut Lewat Women On The Move 2026
Baca dalam 60 detik
- Antam bersama peserta Women On The Move 2026 melepasliarkan 50 tukik dan menanam 55 terumbu karang di Medana Bay, Lombok.
- Aksi ini menegaskan keberlanjutan sebagai bagian budaya perusahaan, dengan keselamatan sebagai fondasi utama setiap kegiatan.
- Langkah ini berpotensi memperkuat posisi Antam di pasar modal yang semakin ketat menuntut praktik ESG yang terukur.

PT Antam (Persero) Tbk (ANTM) menggelar aksi konservasi laut bertajuk The Blue Legacy: An Exclusive Ocean Conservation Experience With Antam di Medana Bay, Lombok, Sabtu (12/9/2026). Dalam kegiatan yang dirangkai dengan program Women On The Move 2026 itu, perusahaan melepasliarkan 50 ekor tukik dan menanam atau merestorasi 55 terumbu karang di kawasan pesisir tersebut.
Langkah ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Bagi Antam, konservasi laut menjadi bagian dari implementasi prinsip keberlanjutan yang selama ini dikampanyekan perusahaan tambang pelat merah itu. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam, Arini Kasmira, menegaskan bahwa keberlanjutan tidak bisa dipisahkan dari budaya perusahaan, dan keselamatan selalu menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas.
"Di Antam, sustainability berjalan beriringan dengan safety. Setiap kegiatan selalu diawali dengan safety moment. Sebelum berbicara mengenai sustainability dan dampak jangka panjang, keselamatan menjadi prioritas utama," ujar Arini dalam keterangan resmi perusahaan, Senin (14/9/2026).
Arini menjelaskan, terumbu karang memiliki peran vital sebagai habitat dan sumber kehidupan bagi berbagai jenis ikan. Sementara pelepasliaran tukik menjadi bagian dari upaya menjaga populasi penyu dan ekosistem pesisir. Menurutnya, dampak dari aksi ini diharapkan terus terasa jauh setelah rangkaian Women On The Move 2026 berakhir.
Program Women On The Move 2026 sendiri memadukan pengembangan kepemimpinan, penguatan jejaring, wellness, dan inspirasi dengan aksi sosial serta kepedulian lingkungan. Kolaborasi ini memperluas makna kepemimpinan perempuan, tidak hanya melalui pengembangan kapasitas dan jejaring, tetapi juga melalui kontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan.
Bagi pembaca di Indonesia, khususnya investor dan profesional, langkah Antam ini menjadi sinyal penting. Di tengah meningkatnya tuntutan pasar terhadap praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), perusahaan tambang semakin dituntut untuk membuktikan komitmennya tidak hanya di atas kertas. Aksi konservasi seperti ini dapat menjadi nilai tambah di mata investor institusi yang semakin selektif terhadap emiten dengan rekam jejak keberlanjutan yang jelas.
Selain itu, kegiatan ini juga menyoroti peran perempuan dalam mendorong perubahan. Dengan melibatkan peserta Women On The Move 2026, Antam tidak hanya memperkuat citra perusahaan, tetapi juga membangun ekosistem kolaborasi yang lebih luas. Hal ini sejalan dengan tren global di mana perusahaan dituntut untuk berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pada sektor kelautan.
Ke depan, tantangannya adalah memastikan program semacam ini tidak berhenti pada satu kali aksi. Diperlukan monitoring dan evaluasi berkelanjutan untuk mengukur dampak restorasi terumbu karang dan populasi penyu. Selain itu, sinergi dengan pemerintah daerah dan komunitas lokal akan menjadi kunci agar manfaatnya benar-benar dirasakan dalam jangka panjang. Akankah Antam menjadikan The Blue Legacy sebagai program rutin, atau hanya bagian dari kampanye musiman? Publik dan investor tentu menantikan kelanjutannya.



