Gus Kikin Janji Rutin Blusukan ke Jatim: Sowan PWNU Sebulan Sekali
Baca dalam 60 detik
- Ketua Umum PBNU terpilih, Gus Kikin, berkomitmen menjaga hubungan dengan PWNU Jawa Timur dengan agenda rutin kunjungan bulanan.
- Penetapan Gus Kikin melalui mekanisme AHWA di Muktamar ke-35 menandai penguatan tradisi musyawarah dalam regenerasi kepemimpinan NU.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya menjaga akar rumput organisasi di tengah konsentrasi tugas kepengurusan pusat di Jakarta.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terpilih, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, memastikan dirinya tidak akan terputus dari denyut organisasi di Jawa Timur. Di sela-sela kesibukan barunya di Jakarta, ia berjanji menyisihkan waktu setidaknya sebulan sekali untuk bersilaturahmi ke Kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur di Surabaya.
Komitmen itu disampaikan Gus Kikin dalam acara Tasyakuran Muktamar ke-35 NU dan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di kantor PWNU setempat, Selasa (31/8/2026). Baginya, Jawa Timur bukan sekadar wilayah administratif, melainkan akar historis yang menugaskan dirinya untuk duduk di kursi pimpinan tertinggi organisasi. "Saya bersyukur muktamar berjalan lancar dan keputusan PWNU Jatim menugasi saya juga sukses, namun saya tidak akan melupakan Jatim, meski saya akan banyak waktu di Jakarta," ujarnya dalam sambutan yang dipantau secara daring.
Ikatan emosional dan organisatoris itu memang tidak bisa dilepaskan. Sebelum dipercaya memimpin PBNU untuk masa khidmah 2026โ2031, Gus Kikin adalah Ketua PWNU Jawa Timur. Penugasan dari wilayah inilah yang mengantarnya ke panggung nasional, sehingga menjaga komunikasi dengan pengurus dan kiai di daerah menjadi prioritas yang tak bisa ditawar. "Saya akan tetap mengupayakan mampir, mungkin satu bulan sekali saat hari Selasa," katanya menegaskan.
Momen ini sekaligus menjadi penanda penting bagi dinamika internal NU. Gus Kikin ditetapkan melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-35 yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Dalam forum yang sama, KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya sebagai Rais Aam PBNU. Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, KH Abdul Matin Jawahir, menyebut keberhasilan ini sebagai buah perjuangan panjang. Ia menggarisbawahi bahwa untuk pertama kalinya sejak Muktamar 2015, AHWA tidak hanya digunakan untuk memilih Rais Aam, tetapi juga Ketua Umum. "Perjuangan PWNU Jatim untuk pemilihan pimpinan PBNU, baik Rais Aam maupun Ketua Umum, melalui AHWA juga berhasil," jelasnya.
Pilihan pada mekanisme musyawarah mufakat ini menarik untuk dicermati. Di tengah hiruk-pikuk politik organisasi yang kerap diwarnai voting, AHWA justru menegaskan kembali tradisi NU dalam menyelesaikan persoalan kebangsaan dan keumatan secara deliberatif. Keputusan ini tidak hanya berdampak pada soliditas internal, tetapi juga memberi sinyal tentang gaya kepemimpinan kolektif yang akan dijalankan Gus Kikin ke depan.
Bagi warga NU di Jawa Timur, janji Gus Kikin untuk hadir secara berkala tentu menjadi kabar yang melegakan. Kehadiran rutin seorang ketua umum tidak hanya menjaga hubungan emosional, tetapi juga menjadi kanal aspirasi dari daerah ke pusat. Lebih dari itu, langkah ini bisa menjadi preseden bagi pengurus pusat lainnya untuk tidak larut dalam kesibukan administratif di ibu kota.
Ke depan, publik akan menguji apakah komitmen ini benar-benar dijalankan atau sekadar retorika politik. Pertanyaan yang lebih mendasar: akankah gaya kepemimpinan Gus Kikin yang dekat dengan akar rumput ini mampu menjawab tantangan NU yang semakin kompleks, mulai dari isu ekonomi umat hingga kontestasi politik nasional? Hanya waktu yang bisa membuktikan, tetapi langkah awal ini setidaknya menunjukkan arah yang ingin ditempuhnya.



