Tingkat Hunian Hotel Anyer Anjlok 30% Imbas Erupsi Anak Krakatau: Trauma 2018 Kambuh
Baca dalam 60 detik
- Pembatalan reservasi di kawasan wisata Anyer dan Carita menembus 30% menyusul peningkatan aktivitas vulkanik Anak Krakatau.
- Pelaku usaha menilai dampak ekonomi kali ini belum separah tsunami 2018 yang membutuhkan waktu pemulihan hingga tiga tahun.
- Karakter erupsi yang berbeda dan kondisi gunung pasca-longsor membuat getaran terasa lebih kuat, memicu kewaspadaan warga.

Geliat pariwisata di pesisir barat Banten kembali terusik. Tingkat pembatalan kamar hotel di kawasan Anyer dan Carita melonjak hingga 30 persen dalam sepekan terakhir, menyusul status aktivitas Gunung Anak Krakatau yang meningkat. Ketakutan yang belum sepenuhnya hilang sejak tragedi tsunami 2018 membuat calon wisatawan berpikir ulang sebelum menuntaskan rencana liburan mereka.
Erwin Surya Winata, pengelola Hotel Lippo Carita, mengakui situasi saat ini memicu kekhawatiran, tetapi ia menilai skala dampaknya belum sebanding dengan peristiwa delapan tahun lalu. "Peristiwa 2018 itu menghancurkan banyak hal, butuh hampir tiga tahun bagi kawasan ini untuk bangkit. Bukan hanya tsunami, tapi juga banjir dan gempa susulan," ujarnya kepada tim redaksi, Selasa (8/9/2026).
Memori kolektif masyarakat pesisir memang masih melekat kuat. Setiap getaran atau kepulan abu dari gunung yang berada di Selat Sunda itu langsung diasosiasikan dengan gelombang dahsyat yang merenggut ratusan nyawa. Alhasil, respons wisatawan terhadap berita peningkatan aktivitas vulkanik menjadi sangat cepat, bahkan cenderung berlebihan dibandingkan kondisi geologis yang sebenarnya.
Namun, Erwin melihat ada perbedaan fundamental antara erupsi saat ini dengan kejadian 2018. "Erupsi sekarang adalah proses pembentukan gunung itu sendiri, bukan longsoran besar. Kami berharap tidak sampai parah dan aktivitas ekonomi bisa terus berjalan," jelasnya. Optimisme ini muncul dari pengamatan bahwa karakter magma yang keluar tidak disertai deformasi besar yang berpotensi memicu tsunami.
Kendati demikian, warga merasakan getaran yang lebih kuat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dijelaskan Erwin sebagai konsekuensi morfologi gunung yang berubah drastis pasca-runtuhnya sebagian tubuh gunung pada 2018. "Gunungnya sekarang lebih datar, bekas longsoran. Getaran yang dirasakan memang lebih terasa, beda dengan dulu saat bentuknya masih kerucut sempurna," paparnya.
Bagi perekonomian lokal, setiap kali status gunung naik, gelombang pembatalan hampir pasti terjadi. Padahal, sektor pariwisata adalah tulang punggung masyarakat pesisir Pandeglang. Pendapatan hotel, restoran, dan usaha penyewaan perahu langsung terpukul. Belum lagi efek psikologis yang membuat sebagian warga enggan beraktivitas normal di dekat pantai.
Para pengusaha berharap pemerintah daerah dan pusat lebih gencar memberikan edukasi kebencanaan yang berbasis data ilmiah. "Kami butuh informasi yang jelas tentang level aktivitas gunung, bukan sekadar imbauan yang menimbulkan kepanikan," tegas Erwin. Ia juga menyoroti pentingnya koordinasi antara Badan Geologi, BPBD, dan asosiasi pariwisata agar pesan yang disampaikan ke publik tidak simpang siur.
Meski waspada, sebagian pelaku usaha tetap optimistis bahwa musim liburan akhir tahun masih bisa terselamatkan. Mereka mencontohkan pola erupsi freatik yang pernah terjadi beberapa tahun lalu, yang hanya berlangsung singkat tanpa diikuti tsunami. "Masyarakat di sini memang was-was, tapi semoga ini hanya erupsi biasa. Kalau tidak sampai parah, aktivitas bisa segera normal lagi," pungkas Erwin.
Pertanyaan besarnya kini: akankah trauma kolektif 2018 terus membayangi industri pariwisata Banten setiap kali Anak Krakatau menunjukkan aktivitasnya? Atau justru momen ini menjadi pendorong bagi pengelola destinasi untuk membangun sistem mitigasi yang lebih modern dan komunikasi risiko yang lebih transparan? Jawabannya akan menentukan seberapa cepat kawasan ini bisa beradaptasi di tengah ketidakpastian geologis yang tak pernah benar-benar berakhir.



