Vietnam dan Jepang Perkuat Aliansi Teknologi: Fokus pada SDM Semikonduktor dan AI
Baca dalam 60 detik
- Deputi PM Vietnam Le Tien Chau mengusulkan perluasan kerja sama riset dan pengembangan SDM dengan Menteri MEXT Jepang, Matsumoto Yohei.
- Prioritas mencakup semikonduktor, AI, teknologi tinggi, hingga kereta cepat, sejalan dengan target 250 doktor semikonduktor melalui program Nexus.
- Langkah ini berpotensi mempengaruhi dinamika rantai pasok teknologi di Asia Tenggara, termasuk posisi Indonesia dalam persaingan talenta digital.

Pemerintah Vietnam dan Jepang sepakat memperdalam kolaborasi di bidang sains, teknologi, inovasi, dan transformasi digital, dengan penekanan pada pengembangan sumber daya manusia (SDM) berkualitas serta pelaksanaan proyek riset bersama. Kesepakatan ini mengemuka dalam pertemuan antara Deputi Perdana Menteri Vietnam Le Tien Chau dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains, dan Teknologi Jepang (MEXT), Matsumoto Yohei, di Kantor Pemerintah Hanoi, Senin (7/9).
Pertemuan ini menjadi penanda penting bagi kedua negara yang tengah berupaya mempercepat transformasi ekonomi digital di kawasan. Bagi Vietnam, Jepang bukan sekadar mitra dagang, melainkan pintu masuk menuju teknologi maju yang selama ini menjadi kendala utama dalam upaya industrialisasi. Sementara bagi Jepang, Vietnam menawarkan pasar yang besar dan populasi muda yang potensial untuk mengisi kebutuhan industri di tengah menurunnya jumlah tenaga kerja domestik.
Salah satu sorotan utama adalah pengembangan SDM semikonduktor. Vietnam menargetkan mencetak 250 doktor di bidang semikonduktor melalui program Nexus, sebuah inisiatif yang melibatkan Kementerian Pendidikan dan Pelatihan serta Kementerian Sains dan Teknologi Vietnam. Deputi PM Chau meminta Jepang untuk terus memfasilitasi akses bagi kandidat Vietnam yang mengikuti program tersebut. Langkah ini menunjukkan keseriusan Hanoi dalam membangun ekosistem riset yang mampu bersaing di tingkat global, terutama di tengah persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China yang mendorong diversifikasi rantai pasok.
Lebih jauh, Chau mengusulkan lima prioritas kerja sama. Pertama, implementasi efektif kesepakatan para pemimpin kedua negara, termasuk peningkatan jumlah dan skala proyek riset bersama di bawah program Nexus dan Sakura Science Exchange, serta percepatan negosiasi pendirian Universitas Vietnam-Jepang. Kedua, Jepang didorong untuk mendukung pelatihan SDM unggul di bidang-bidang seperti semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), teknologi tinggi, kereta api kecepatan tinggi, antariksa, dan teknologi kuantum.
Ketiga, kedua pihak diharapkan memperkuat kerja sama konkret dalam sains, teknologi, inovasi, dan transformasi digital melalui proyek riset bersama, litbang, serta pengembangan ekosistem inovasi Vietnam. Keempat, Jepang diminta mendukung program bahasa dan kajian Vietnam di Jepang, sekaligus memperluas kegiatan pengajaran, riset, dan pertukaran terkait Vietnam di institusi pendidikan Jepang. Kelima, kerja sama antar-lokalitas kedua negara perlu ditingkatkan, termasuk di bidang budaya, pariwisata, dan pertukaran antarmasyarakat.
Dalam kesempatan itu, Chau juga menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan hidup dan kerja yang kondusif bagi hampir 700.000 warga Vietnam di Jepang. Ia meminta Matsumoto untuk terus mendukung upaya membangun lingkungan yang ramah dan setara bagi warga asing, sebuah isu yang kerap menjadi sorotan di tengah meningkatnya jumlah pekerja asing di Jepang. Selain itu, festival Vietnam-Jepang dan Forum Lokalitas Vietnam-Jepang yang baru digelar di Hue pada 6 September juga diharapkan terus dilanjutkan sebagai sarana mempererat hubungan antarmasyarakat.
Menanggapi usulan tersebut, Menteri Matsumoto menyampaikan apresiasi atas perhatian dan upaya Deputi PM Chau dalam mendorong kerja sama bilateral. Ia menegaskan bahwa MEXT tidak hanya fokus pada pendidikan dan pelatihan, tetapi juga ingin memperkuat kolaborasi dengan Vietnam dalam sains, teknologi, transformasi digital, dan inovasi. โSaya akan terus berkontribusi secara praktis bagi hubungan Vietnam-Jepang,โ ujarnya, seperti dikutip dari laporan Vietnam News/ANN.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting. Persaingan untuk menarik investasi teknologi dan membangun talenta digital di Asia Tenggara semakin ketat. Vietnam bergerak cepat dengan dukungan Jepang, sementara Indonesia masih bergulat dengan isu regulasi dan kesiapan SDM. Pertanyaannya, mampukah Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat kerja sama serupa dengan Jepang atau negara maju lainnya, atau justru tertinggal dalam perebutan investasi teknologi di kawasan?



