Daniel Maldini Ukir Rekor Unik: Gol di Enam Klub Serie A Berbeda di Usia 24
Baca dalam 60 detik
- Gol perdana Daniel Maldini untuk Cagliari mengukuhkannya sebagai pemain dengan koleksi gol di klub Serie A terbanyak dalam lima tahun terakhir.
- Pencapaian ini menegaskan pola karier Maldini yang kerap berpindah klub, berbeda dengan jejak sang ayah, Paolo Maldini, yang setia bersama AC Milan.
- Rekor tersebut berpotensi bertahan lama, mengingat usianya yang masih muda dan kecenderungan klub Italia untuk meminjamkan pemain muda.

Daniel Maldini kembali mencatatkan namanya dalam buku sejarah Serie A, bukan lewat gol spektakuler, melainkan melalui sebuah rekor yang terbilang langka. Pemain berusia 24 tahun itu baru saja mencetak gol pertamanya untuk Cagliari dalam kemenangan 1-0 atas Lecce, Senin malam (24/8/2026) waktu setempat. Gol tersebut bukan sekadar penentu tiga poin, tetapi juga menjadikannya pemain dengan koleksi gol di klub Serie A terbanyak dalam lima musim terakhir.
Berdasarkan data Opta, Maldini telah mencetak gol untuk enam klub berbeda di kasta tertinggi Italia: AC Milan, Spezia, Monza, Atalanta, Lazio, dan kini Cagliari. Tak ada pemain lain yang mampu menandingi catatan itu sejak ia memulai debut golnya bersama Milan pada September 2021, saat itu dalam kemenangan 2-1 atas Spezia. Uniknya, Empoli menjadi satu-satunya klub tempat ia pernah bermain namun gagal mencetak gol.
Fenomena ini menempatkan Maldini dalam kategori yang oleh pengamat sepak bola Italia disebut sebagai "journeyman" atau pemain keliling. Meski usianya masih muda, kariernya justru diwarnai rentetan peminjaman dan transfer. Pola ini kontras dengan sang ayah, legenda AC Milan Paolo Maldini, yang menghabiskan seluruh kariernya di satu klub. Namun, Daniel tampaknya memilih jalur berbeda untuk menemukan ritme permainan dan menit bermain yang konsisten.
Bagi Cagliari, kontribusi Maldini langsung terasa. Kemenangan atas Lecce membawa tim asuhan Fabio Pisacane itu melesat ke posisi kesembilan klasemen sementara setelah tiga pekan kompetisi musim 2026-27. Gol tersebut juga menjadi sinyal bahwa Maldini mulai menemukan performa terbaiknya setelah beberapa musim terombang-ambing. Sebelumnya, ia sempat menunjukkan kilatan kelas di Monza dan Atalanta, meski belum mampu mempertahankan konsistensi.
Karier Maldini yang berpindah-pindah klub sejatinya mencerminkan dinamika sepak bola modern, di mana pemain muda sering kali harus rela dipinjamkan demi mendapatkan jam terbang. Namun, di sisi lain, catatan ini juga memunculkan pertanyaan: apakah Maldini akan terus menjadi pemain keliling, atau justru menemukan rumah permanen di Cagliari? Jika mampu menjaga performa, bukan tidak mungkin ia akan dipermanenkan dan menjadi ikon baru di Sardinia, mengikuti jejak karier yang justru berbeda dari sang ayah.
Di tengah hiruk-pikuk sepak bola Eropa, kisah Maldini menjadi pengingat bahwa tidak semua pemain muda harus menempuh jalur linear menuju puncak. Beberapa justru menemukan jati diri setelah berkelana dari satu klub ke klub lain. Bagi pengamat sepak bola Indonesia, fenomena ini bisa menjadi pelajaran berharga: bahwa pengembangan pemain muda tidak selalu harus diukur dari loyalitas pada satu klub, melainkan dari kemampuan beradaptasi dan terus berkembang di lingkungan baru.
Ke depannya, publik akan menanti apakah Maldini mampu mempertahankan tren positifnya bersama Cagliari. Jika ya, bukan tidak mungkin ia akan menjadi salah satu cerita sukses pemain yang menemukan kestabilan setelah lama menjadi "pengembara". Namun, jika tidak, ia mungkin akan terus melanglang buana, meninggalkan jejak gol di setiap klub yang dibelanya—sebuah warisan yang unik dan langka di era sepak bola modern.



