Kessie Pilih Atalanta daripada Juventus: 'Keputusan dari Hati, Bergamo adalah Rumah'
Baca dalam 60 detik
- Franck Kessie resmi kembali ke Atalanta dengan status bebas transfer, menolak tawaran Juventus demi kembali ke klub yang membesarkan namanya.
- Keputusan ini menegaskan ikatan emosional Kessie dengan Bergamo, kota yang ia anggap sebagai rumah kedua setelah meninggalkan Pantai Gading.
- Dengan ambisi Atalanta untuk bersaing di semua kompetisi, kehadiran Kessie di lini tengah diprediksi menjadi kunci perburuan Scudetto musim ini.

Franck Kessie akhirnya angkat bicara soal keputusannya memilih kembali ke Atalanta ketimbang menerima pinangan Juventus pada bursa transfer musim panas lalu. Gelandang asal Pantai Gading itu menegaskan bahwa pilihan tersebut murni berasal dari hati, bukan sekadar pertimbangan profesional semata.
Pemain berusia 29 tahun ini resmi bergabung dengan La Dea pada akhir Agustus dengan status bebas transfer, nyaris satu dekade setelah ia meninggalkan Bergamo untuk merapat ke AC Milan. Kariernya sempat berlanjut ke Barcelona dan klub Arab Saudi, namun kini ia kembali ke klub Eropa pertama yang mempercayainya saat masih remaja.
Dalam konferensi pers perdananya, Senin (tanggal), Kessie mengungkapkan rasa syukurnya bisa pulang. "Ini adalah keputusan yang lahir dari hati," ujarnya. "Saya berterima kasih kepada klub, terutama Luca Percassi, yang memberi saya kesempatan untuk kembali ke rumah. Saya pergi sebagai anak-anak dan kembali dengan kedewasaan yang jauh berbeda dibanding sepuluh tahun lalu."
Kessie mengakui bahwa pengalaman di Arab Saudi selama tiga tahun memberinya banyak pelajaran berharga, termasuk tiga gelar juara. Namun, panggilan Bergamo terasa lebih kuat. "Franck selalu siap. Itu pengalaman yang baik bagi saya di Arab, tiga tahun yang produktif. Saya senang bisa kembali ke sini," tambahnya.
Menariknya, Kessie mengaku tidak kesulitan menolak Juventus, yang juga dikabarkan serius ingin membawanya kembali ke Serie A. "Wajar jika banyak tim bertanya pada pemain yang baru saja berstatus bebas transfer. Saya berbicara dengan beberapa tim, tetapi opsi ini memberi saya kepercayaan diri terbesar, baik sebagai pemain maupun pribadi," jelasnya.
Kedekatan Kessie dengan Bergamo memang bukan rahasia. Selama lima tahun membela Milan (2017โ2022), ia bahkan memilih tetap tinggal di kota tersebut. "Bergamo adalah kota pertama di Eropa yang saya tinggali setelah meninggalkan Afrika dan Pantai Gading saat berusia 18 tahun. Di sinilah saya menjadi pesepak bola profesional. Kota ini adalah segalanya bagi saya," tuturnya.
Kessie juga menyoroti perubahan atmosfer di stadion Atalanta yang kini terasa lebih intens. "Atmosfernya selalu panas, dengan suporter yang vokal. Tribun sekarang lebih dekat ke lapangan, dan saya sangat menyukai itu. Saya bahagia melihat klub berkembang pesat untuk kota ini," katanya.
Soal peran di lapangan, Kessie mengaku fleksibel. Ia siap dimainkan sebagai gelandang bertahan maupun playmaker. "Kami bekerja keras setiap hari. Prioritas saya adalah memberikan yang terbaik untuk tim dan kota," tegasnya.
Ambisi Atalanta musim ini jelas: bersaing di semua lini. Kessie menegaskan, "Kami ingin memperebutkan segalanya di Bergamo. Scudetto, Coppa Italia, Europa League, itulah tujuan kami." Pernyataan ini sejalan dengan proyek ambisius klub yang terus berkembang di bawah arahan pelatih Gian Piero Gasperini.
Bagi pengamat sepak bola Italia, kembalinya Kessie dipandang sebagai langkah strategis Atalanta untuk memperkuat lini tengah. Pengalamannya di kompetisi Eropa dan fisiknya yang tangguh dianggap sebagai aset berharga. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah ia mampu langsung beradaptasi dengan ritme permainan Gasperini yang terkenal intens.
Di Indonesia, kabar ini menarik perhatian para penggemar Serie A yang kerap mengikuti perkembangan pemain Afrika. Kessie dikenal sebagai salah satu gelandang bertahan terbaik di generasinya, dan keputusannya memilih Atalanta dibanding Juventus menunjukkan bahwa faktor emosional masih memegang peranan penting dalam karier pesepak bola profesional.
Dengan kontrak yang disepakati hingga 2027, Kessie memiliki waktu cukup untuk membuktikan bahwa kepulangannya bukan sekadar nostalgia. Apakah ia mampu menjadi motor baru Atalanta dalam perburuan gelar? Musim ini akan menjadi jawabannya.



