Bavuma Pimpin Afrika Selatan Hadapi Australia: Skuad ODI Diramu demi Piala Dunia 2027
Baca dalam 60 detik
- Temba Bavuma kembali memegang kendali tim Proteas saat menjamu Australia dalam tiga laga ODI pada 24-30 September, dengan Gerald Coetzee dipanggil pulang untuk memperkuat lini pace.
- Kagiso Rabada dipastikan absen karena cedera, memberi peluang bagi bowler muda seperti Kwena Maphaka dan Corbin Bosch untuk unjuk gigi di hadapan publik sendiri.
- Pelatih Shukri Conrad menegaskan seri ini adalah batu loncatan menuju Piala Dunia 2027, sekaligus ajang uji coba menghadapi Bangladesh dan Inggris di sisa musim.

JOHANNESBURG โ Temba Bavuma akan kembali memimpin Afrika Selatan dalam rangkaian One Day International (ODI) melawan Australia yang berlangsung 24 hingga 30 September. Keputusan ini diumumkan otoritas kriket setempat pada Sabtu (7/9), dengan menonjolkan kembalinya bowler cepat Gerald Coetzee ke skuad 50-over setelah absen cukup lama.
Coetzee, yang namanya sempat meredup, kini dipanggil untuk menambah daya gedor lini pace Proteas. Namun, ada kabar kurang menggembirakan: Kagiso Rabada dipastikan absen pada seri ini akibat cedera. Meski demikian, manajemen tim optimistis pelempar andalannya itu bisa pulih tepat waktu untuk laga Test menyusul.
Komposisi skuad menunjukkan arah baru yang cukup berani. Selain Coetzee, deretan fast bowler seperti Ottneil Baartman, Kwena Maphaka, Lungi Ngidi, Corbin Bosch, dan Marco Jansen siap diandalkan. Menariknya, nama Dewald Brevis justru tidak masuk daftar. Sebagai gantinya, posisi middle-order dipercayakan kepada Matthew Breetzke, David Miller, dan Tristan Stubbs. Sementara itu, opsi spin ganda dipegang Bjorn Fortuin dan Keshav Maharaj.
Pelatih Shukri Conrad memberi sinyal bahwa seri ini bukan sekadar ajang pemanasan. "Dengan Piala Dunia yang tinggal setahun lagi, rangkaian ini menjadi langkah penting dalam membentuk tim kami menuju turnamen tersebut. Sekaligus memberi kesempatan bagi pemain yang sedang dalam radar saat kami menghadapi Bangladesh dan Inggris nanti," ujarnya dalam pernyataan resmi.
Rangkaian melawan Australia akan dibuka di Durban pada 24 September, disusul Johannesburg (27 September), dan ditutup di Potchefstroom (30 September). Bagi penggemar kriket Tanah Air, dinamika ini menarik dicermatiโterutama bagaimana Proteas mengelola rotasi pemain di tengah padatnya kalender internasional.
Bagi Indonesia, yang tengah mengembangkan kriket di tingkat Asia, keputusan Afrika Selatan ini bisa menjadi pelajaran berharga. Rotasi pemain dan pemberian kesempatan pada talenta muda adalah strategi jangka panjang yang kerap diadopsi negara-negara papan atas. Ketika tim seperti Proteas berani menepikan nama besar demi membangun kedalaman skuad, pesannya jelas: konsistensi performa lebih dihargai ketimbang reputasi semata.
Pertanyaannya, akankah langkah berani Conrad membuahkan hasil saat menghadapi Australia yang dikenal tangguh di kandang sendiri? Atau justru menjadi bumerang karena terlalu cepat merombak komposisi? Jawabannya akan mulai terlihat di Durban akhir bulan ini.



