Erupsi Anak Krakatau dan 'Jakarta Incident': Sejarah yang Mengubah Standar Keselamatan Penerbangan
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 1.500 penerbangan dan 170 ribu penumpang terdampak akibat sebaran abu vulkanik erupsi Anak Krakatau, dengan 8 bandara sempat ditutup.
- Insiden British Airways 9 pada 1982 menjadi titik balik pemahaman global tentang bahaya abu vulkanik terhadap mesin jet.
- Keputusan otoritas penerbangan Indonesia untuk menghentikan operasi sementara kali ini mencerminkan protokol keselamatan yang diperkuat pasca-insiden Galunggung.

Gelombang gangguan perjalanan udara kembali melanda Indonesia setelah erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu, 6 September 2026. Lebih dari 1.500 penerbangan dibatalkan atau ditunda, mempengaruhi sekitar 170 ribu penumpang, sementara delapan bandara—termasuk Soekarno-Hatta—menghentikan operasi sementara. Di bandara utama Jakarta itu saja, 964 penerbangan terdampak, memicu kemacetan panjang dan keluhan calon penumpang.
Bagi publik, pembatalan ini mungkin tampak sebagai ketidaknyamanan belaka. Namun di balik layar, keputusan tersebut adalah buah dari pengalaman pahit yang mengubah wajah industri penerbangan global. Abu vulkanik, yang tampak seperti awan biasa, dapat menjadi malapetaka bagi mesin jet. Partikel-partikel halusnya meleleh pada suhu tinggi di ruang pembakaran, kemudian menempel pada komponen mesin dan mengganggu aliran udara, menyebabkan mesin kehilangan daya secara total.
Kisah yang menjadi fondasi kewaspadaan ini adalah 'Jakarta Incident' pada 24 Juni 1982. Kala itu, British Airways Flight 9, sebuah Boeing 747-200 yang dipiloti Kapten Eric Moody, terbang dari Kuala Lumpur menuju Perth. Saat melintasi wilayah Jawa, pesawat tanpa peringatan memasuki awan abu dari letusan Gunung Galunggung di Tasikmalaya. Dalam hitungan menit, keempat mesinnya mati satu per satu, membuat pesawat meluncur diam di ketinggian 37.000 kaki selama 13 menit yang mencekam.
Kapten Moody, dengan ketenangan luar biasa, mengumumkan kepada penumpang: "Ladies and gentlemen, this is the captain speaking. We have a small problem." Ia berhasil menurunkan ketinggian pesawat keluar dari lapisan abu dan menghidupkan kembali sebagian mesin. Pesawat kemudian mendarat darurat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, dan seluruh 263 penumpang selamat. Peristiwa itu menjadi pelajaran berharga: abu vulkanik tidak selalu terlihat, dan dampaknya bisa fatal.
Bagi dunia penerbangan, Eric Moody adalah pahlawan yang menghadapi salah satu keadaan darurat terburuk dalam sejarah. Namun bagi putrinya, Sarah Myers, ia hanyalah seorang ayah. Moody, yang pensiun dari British Airways pada 1996 dengan total 17.000 jam terbang, meninggal dunia pada 18 Maret 2024 di usia 82 tahun. Warisannya hidup dalam setiap prosedur keselamatan yang kini diterapkan di seluruh dunia.
Konteks Indonesia menjadi krusial: negeri ini berada di Cincin Api Pasifik dengan lebih dari 127 gunung berapi aktif. Setiap erupsi besar berpotensi melumpuhkan konektivitas udara, yang menjadi urat nadi ekonomi dan pariwisata. Respons cepat otoritas penerbangan Indonesia kali ini—menutup bandara dan mengalihkan rute—menunjukkan bahwa pelajaran dari 'Jakarta Incident' telah diinternalisasi. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah infrastruktur dan koordinasi antar-lembaga sudah cukup tangguh menghadapi erupsi yang lebih besar atau berkelanjutan?
Ke depan, Indonesia perlu berinvestasi dalam sistem deteksi abu vulkanik yang lebih canggih dan prosedur evakuasi yang lebih efisien. Di tengah ancaman vulkanik yang tak terhindarkan, keselamatan penerbangan bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang bagaimana sejarah—seperti 'Jakarta Incident'—terus mengajarkan kita untuk tidak pernah meremehkan kekuatan alam.



