Seoul Yummy Tutup Gerai Terakhir di Singapura, Merek F&B Lokal Pamit Setelah 18 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Rantai restoran Korea asal Singapura, Seoul Yummy, akan menutup gerai terakhirnya di Kallang Wave Mall pada 22 Oktober.
- Penutupan ini merupakan bagian dari strategi Gratify Group untuk fokus pada merek lain, termasuk Pizza Maru, dan merespons perubahan preferensi konsumen.
- Karyawan yang terdampak akan dialihkan ke merek lain dalam grup, sementara Seoul Yummy menawarkan diskon 18% sebagai salam perpisahan.

Setelah 18 tahun menghiasi industri kuliner Singapura, Seoul Yummy, jaringan restoran Korea yang populer dengan army stew-nya, akan menutup gerai terakhirnya di Kallang Wave Mall pada 22 Oktober. Keputusan ini menandai akhir dari perjalanan salah satu pelopor hidangan Korea di negara tersebut, sekaligus menjadi cermin dinamika kompetitif industri F&B yang kian menuntut adaptasi.
Seoul Yummy yang berdiri sejak 2008 pernah memiliki beberapa cabang di lokasi premium seperti Ion Orchard, Bugis+, dan Marina Square. Di bawah naungan Gratify Group, yang juga mengelola jaringan pizza Korea ternama Pizza Maru, Seoul Yummy dikenal sebagai salah satu merek yang memperkenalkan dan mempopulerkan army stew di Singapura. Hidangan khas lainnya seperti cheese pot dan hot plate juga menjadi favorit pelanggan setianya.
Frank Lau, pendiri sekaligus CEO Gratify Group, mengungkapkan bahwa penutupan ini merupakan bagian dari rencana yang telah berjalan bertahap seiring berakhirnya masa sewa sejumlah gerai. "Kami memutuskan untuk memfokuskan upaya pada pengembangan merek dan konsep lain di Gratify Group agar tetap kompetitif dan relevan dengan perubahan preferensi konsumen," ujarnya. Lebih lanjut, Lau menjelaskan bahwa penutupan gerai Kallang Wave Mall juga dipicu oleh inisiatif peningkatan aset yang sedang dilakukan pihak mal.
Keputusan untuk "menghentikan merek" ini, seperti diungkapkan Lau, bukanlah tanpa pertimbangan. Ia menegaskan bahwa seluruh karyawan yang terdampak akan dipindahkan ke merek lain di bawah Gratify Group, sehingga tidak ada pemutusan hubungan kerja. Langkah ini menunjukkan upaya perusahaan untuk menjaga keberlanjutan tim di tengah restrukturisasi bisnis.
Fenomena penutupan Seoul Yummy tidak hanya terjadi di Singapura. Di Indonesia, industri F&B juga menghadapi tantangan serupa, di mana banyak merek lokal maupun internasional harus beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan selera dan tekanan ekonomi. Maraknya merek baru dengan konsep unik dan harga kompetitif membuat persaingan semakin ketat. Bagi pelaku usaha, keputusan untuk pensiun dini dari sebuah merek bisa menjadi langkah strategis untuk mengalokasikan sumber daya ke lini bisnis yang lebih menjanjikan, seperti yang dilakukan Gratify Group dengan fokus pada Pizza Maru.
Bagi para penggemar Seoul Yummy di Singapura, penutupan ini tentu meninggalkan kesan tersendiri. Namun, di balik itu, ada pelajaran berharga tentang siklus hidup sebuah merek. Di tengah industri yang terus berubah, kemampuan untuk berinovasi dan beradaptasi menjadi kunci. Gratify Group memilih untuk tidak mempertahankan merek yang dianggap sudah tidak sejalan dengan arah perusahaan, sebuah keputusan yang mungkin akan semakin sering terjadi di industri F&B.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Seoul Yummy akan hadir kembali dalam bentuk lain, tetapi juga bagaimana pelaku industri F&B di kawasan ini, termasuk Indonesia, dapat belajar dari kasus ini. Apakah fokus pada merek inti adalah strategi yang tepat, atau justru diversifikasi yang diperlukan? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal yang pasti: industri kuliner tidak pernah berhenti berputar.



