Taanusiya Chetty Ukir Sejarah: Malaysia Kembali ke Panggung Dunia Miss World Setelah 28 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Guru bahasa Inggris asal Malaysia, Taanusiya Chetty, meraih posisi ketiga di ajang Miss World 2026, menyamai pencapaian Lina Teoh pada 1998.
- Kemenangan ini tidak lepas dari dedikasinya di bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, yang mengantarnya meraih penghargaan Beauty With A Purpose.
- Prestasi ini menjadi sinyal kebangkitan Asia Tenggara di panggung kecantikan global, sekaligus membuka peluang bagi kontestan Indonesia untuk bersaing lebih ketat.

Malaysia kembali mencatatkan namanya di panggung kecantikan dunia. Taanusiya Chetty, perempuan 26 tahun yang berprofesi sebagai guru sekolah menengah, berhasil menempati posisi ketiga pada final Miss World 2026 yang digelar di Nha Trang, Vietnam, Sabtu (5/9/2026). Hasil ini menyamai torehan Lina Teoh pada 1998, menjadikan keduanya sebagai kontestan Malaysia terbaik sepanjang sejarah ajang tersebut.
Di bawah sorotan lampu panggung, Taanusiya yang akrab disapa Taanu harus mengakui keunggulan Joheirry Mola Dominguez dari Republik Dominika yang keluar sebagai juara, serta Elisabeth Reynes Alabern dari Spanyol sebagai runner-up pertama. Meski gagal membawa pulang mahkota utama, perjalanan Taanusiya di Miss World tahun ini jauh dari kata biasa. Ia tidak hanya tampil memukau di sesi busana, tetapi juga mencuri perhatian lewat kepiawaiannya dalam tarian silat, seni bela diri tradisional Melayu yang dikemas dalam bentuk tarian memukau.
Di luar gemerlap kontes, Taanusiya adalah sosok yang dekat dengan dunia pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Ia aktif dalam Project Lestari Laut, sebuah inisiatif yang membawa kegiatan edukasi dan kesadaran kesehatan kepada anak-anak Orang Asli di pedalaman Malaysia. Kegigihannya dalam advokasi sosial ini mengantarnya meraih penghargaan Beauty With A Purpose, salah satu penghargaan paling prestisius di Miss World yang diberikan kepada kontestan dengan proyek komunitas paling berdampak. Kemenangan di segmen ini pula yang mengantarnya masuk ke jajaran enam besar.
Kemenangan Taanusiya bukan sekadar soal mahkota dan selempang. Ia telah menyiapkan diri selama lebih dari 19 bulan, sebuah perjalanan yang menurut pengakuannya telah membentuknya menjadi pribadi yang lebih tangguh. Sebelum berangkat ke Vietnam, ia sempat menyampaikan bahwa perjuangannya di Miss World adalah untuk membuktikan kepada para siswanya bahwa mimpi bisa dikejar. "Saya tahu jika saya kembali dengan mahkota, mereka juga akan termotivasi untuk bermimpi besar," ujarnya kepada The Star, seperti dikutip oleh media setempat.
Di tengah hiruk-pikuk kompetisi, Taanusiya juga menjadi sorotan karena kemampuannya berbicara dalam empat bahasa sekaligus saat menutup pidatonya di babak Head-to-Head Challenge. Ia fasih dalam bahasa Melayu, Inggris, Mandarin, dan Tamil, sebuah keahlian yang tidak hanya menunjukkan kecerdasannya, tetapi juga merepresentasikan keberagaman budaya Malaysia. Selain itu, ia juga vokal dalam mendukung desainer Malaysia yang menyiapkan sekitar 100 busana untuk perjalanannya di ajang tersebut.
Bagi Indonesia, pencapaian Taanusiya ini menjadi cermin bahwa kontestan Asia Tenggara mampu bersaing di level tertinggi. Meski Indonesia belum pernah meraih posisi tiga besar di Miss World, torehan Malaysia ini bisa menjadi pelecut semangat bagi para finalis Indonesia untuk lebih serius mempersiapkan diri, tidak hanya dari segi penampilan, tetapi juga program sosial yang berdampak. Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah: akankah Indonesia menyusul jejak Malaysia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya untuk menembus jajaran teratas Miss World? Dengan semakin banyaknya kontestan yang membawa misi sosial, persaingan di ajang kecantikan dunia dipastikan akan semakin ketat dan bermakna.



