Setelah 17 Tahun, Christopher Lee dan Fann Wong Kembali Beradu Akting di Film Animasi 'Library Of Mystory'
Baca dalam 60 detik
- Pasangan aktor Singapura-Malaysia, Christopher Lee dan Fann Wong, kembali berkolaborasi dalam film animasi 3D 'Library Of Mystory' setelah 17 tahun vakum dari layar lebar bersama.
- Film yang terinspirasi era Dinasti Tang ini menandai debut mereka di dunia voice acting, dengan Lee dan Wong mengisi suara Kaisar dan Permaisuri.
- Diproduksi secara mandiri oleh Movitoir Studios, film ini dijadwalkan rilis pada Juni 2027 dan menjadi uji pasar bagi animasi independen Singapura di kancah regional.

Setelah hampir dua dekade, pasangan suami istri Christopher Lee dan Fann Wong akhirnya kembali beradu peran di layar lebar. Namun, kali ini bukan dalam film bergenre romantis, melainkan melalui film animasi 3D berjudul Library Of Mystory. Film produksi Singapura ini menjadi penanda reuni layar lebar mereka sejak terakhir kali tampil bersama dalam film komedi romantis The Wedding Game pada 2009.
Dalam film yang terinspirasi dari era Dinasti Tang ini, Lee dan Wong masing-masing mengisi suara Kaisar dan Permaisuri. Mereka berperan sebagai orang tua dari Pangeran Cheng Xi, yang disuarakan oleh Clement Yeo. Karakter pangeran digambarkan enggan menjalankan tugas kerajaan, sehingga sang Kaisar dan Permaisuri memutuskan untuk mendaftarkannya di sekolah bergengsi. Di sana, Cheng Xi bertemu dengan Si Yu, putri seorang guru yang cerdas, diperankan oleh Lea Chong. Meski awalnya tidak akur, mereka akhirnya bekerja sama setelah menemukan perpustakaan tersembunyi dan mengungkap rahasia kuno.
Bagi Lee dan Wong, proyek ini bukan sekadar pekerjaan. Dalam pernyataan bersama, mereka mengaku tertarik pada ketulusan, imajinasi, dan kreativitas berani yang ditawarkan proyek ini. Mereka juga memuji para kreator independen Singapura yang terus mendorong batas-batas baru dalam animasi lokal. "Kami merasa terhormat dan bersemangat menjadi bagian dari perjalanan ini, dan kami berharap penonton akan menikmati dunia animasi imajinatif ini," ujar mereka.
Di balik layar, Library Of Mystory merupakan proyek ambisius yang digarap oleh Chen Junhua, penulis buku aslinya, yang juga mendirikan Movitoir Studios. Chen bertindak sebagai sutradara, penulis skenario, sekaligus penyandang dana utama. Langkah ini menunjukkan keberanian untuk berinvestasi dalam industri animasi yang selama ini didominasi oleh produksi besar dari negara tetangga. Dengan pendanaan mandiri, Chen tampaknya ingin membuktikan bahwa animasi berkualitas tidak selalu membutuhkan studio raksasa.
Bagi penonton Indonesia, kabar ini menarik karena industri animasi di Asia Tenggara tengah naik daun. Film-film seperti Library Of Mystory bisa menjadi alternatif tontonan keluarga yang tidak hanya menghibur, tetapi juga kaya akan nilai budaya. Kolaborasi aktor senior seperti Lee dan Wong juga menjadi daya tarik tersendiri, mengingat keduanya memiliki basis penggemar yang besar di kawasan ini, termasuk Indonesia. Kehadiran mereka dalam film animasi bisa menjadi jembatan untuk memperkenalkan karya-karya animasi regional ke pasar yang lebih luas.
Meski tanggal rilis masih dua tahun lagi, antusiasme publik sudah terasa. Pertanyaannya, apakah film ini akan mampu bersaing dengan animasi Hollywood yang sudah mapan? Atau justru akan menjadi pionir kebangkitan animasi Asia Tenggara yang lebih diakui? Yang jelas, langkah Movitoir Studios dan para kreatornya patut diapresiasi, dan kita tunggu saja bagaimana film ini diterima saat tayang nanti.



