Gempa Flores Mereda, 72.864 Warga Masih Mengungsi: BNPB Siapkan Hunian Sementara
Baca dalam 60 detik
- Aktivitas seismik di Flores menunjukkan tren penurunan signifikan, dengan total 13.156 kali gempa tercatat sejak 15 Agustus 2026.
- Jumlah pengungsi turun drastis dari 179.037 menjadi 72.864 jiwa, menyisakan warga dengan rumah rusak berat yang membutuhkan hunian sementara.
- BNPB menutup posko logistik nasional di Halim dan memindahkan stok ke Jatiasih, menandai pergeseran fase dari tanggap darurat ke rehabilitasi.

Laporan terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kepada Presiden Prabowo Subianto, Senin (7/9/2026), mengonfirmasi bahwa aktivitas gempa di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai mereda. Kendati demikian, sebanyak 72.864 warga masih bertahan di pengungsian, menunggu kepastian hunian setelah rumah mereka rusak berat akibat guncangan yang telah berlangsung sejak 15 Agustus 2026.
Kepala BNPB, Letnan Jenderal TNI Suharyanto, dalam rapat terbatas penanganan bencana yang digelar secara virtual, memaparkan bahwa sejak awal gempa hingga hari ke-24 tercatat 13.156 kali getaran. Namun, tren penurunan mulai terlihat pada minggu keempat September, dengan hanya 364 kejadian yang seluruhnya tidak signifikan dirasakan masyarakat. "Secara umum kondisi gempa di Flores menunjukkan penurunan, meskipun untuk berhenti total masih memerlukan waktu sekitar satu bulan," ujarnya.
Penurunan aktivitas seismik ini berdampak langsung pada berkurangnya jumlah pengungsi. Ketika Presiden Prabowo terakhir mengunjungi lokasi bencana, angka pengungsi mencapai 179.037 jiwa. Kini, mayoritas warga yang rumahnya mengalami rusak ringan dan sedang telah kembali ke kediaman masing-masing untuk memulai perbaikan. Mereka yang tersisa di pengungsian adalah kelompok dengan kerusakan rumah kategori berat, yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dari pemerintah.
Data korban turut menjadi sorotan. Tercatat 48 orang meninggal dunia akibat langsung dari gempa, tanpa tambahan korban jiwa dari gempa susulan. Namun, 87 kematian lainnya dilaporkan terjadi secara tidak langsung, disebabkan oleh penyakit bawaan, proses perawatan, atau faktor alamiah lain yang tidak terkait dengan getaran susulan. Angka ini menggarisbawahi tantangan kesehatan yang menyertai bencana berkepanjangan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan mereka yang memiliki komorbiditas.
Di sisi logistik, BNPB mencatat telah mengirimkan 2.142 ton bantuan ke Flores. Rinciannya, 1.368 ton disalurkan melalui Labuan Bajo untuk empat kabupaten โ Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Ngada โ sementara 629 ton lainnya masuk melalui Maumere untuk melayani Sikka, Ende, dan Nagekeo. Posko logistik nasional di Halim, Jakarta, resmi ditutup karena kebutuhan pokok telah terdistribusi. "Logistik sudah banyak masuk ke Flores, tidak ada lagi yang menumpuk di Jakarta. Kami pindahkan ke gudang BNPB di Jatiasih," jelas Suharyanto.
Penutupan posko Halim menandai pergeseran fase penanganan dari tanggap darurat menuju rehabilitasi. Pemerintah kini fokus pada penyediaan hunian sementara dan pemberian dana tunggu hunian bagi warga yang rumahnya rusak berat. Meski begitu, Suharyanto memastikan penyaluran bantuan tetap berjalan berdasarkan laporan dari bupati, wali kota, dan posko di daerah terdampak. Hal ini penting untuk memastikan tidak ada celah distribusi yang merugikan warga di pelosok Flores.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi ujian nyata bagi arsitektur penanggulangan bencana nasional. Setelah gempa Palu dan tsunami Selat Sunda, respons di Flores menunjukkan perbaikan dalam hal kecepatan distribusi logistik dan koordinasi antarpemerintah daerah. Namun, tantangan jangka panjang tetap ada: membangun kembali hunian yang tahan gempa di wilayah dengan risiko seismik tinggi. Pertanyaannya, akankah pemerintah menjadikan momen ini sebagai titik balik untuk memperkuat standar bangunan di seluruh NTT, atau sekadar memulihkan kondisi seperti sedia kala?



