Runtuhnya Bangunan di Delhi Tewaskan Enam Orang, Otoritas Perintahkan Penyegelan Bangunan Ilegal
Baca dalam 60 detik
- Enam orang tewas setelah bangunan tempat tinggal siswa di Satya Niketan, Delhi, ambruk; operasi penyelamatan masih berlangsung.
- Pemerintah kota Delhi merespons dengan memerintahkan penyegelan semua konstruksi ilegal di atas empat lantai dan penyelidikan tingkat magistrat.
- Insiden ini memicu protes mahasiswa dan sorotan tajam terhadap keselamatan hunian siswa di kawasan padat, serta mendorong seruan larangan konstruksi baru di area yang sudah terlalu padat.

Enam orang dipastikan tewas setelah sebuah bangunan multi-lantai yang digunakan sebagai tempat tinggal tamu (paying guest) di kawasan Satya Niketan, Delhi, ambruk pada Minggu (6/9). Tim penyelamat masih bekerja keras membersihkan puing-puing dan mencari korban yang diduga masih tertimbun, sebagian besar adalah mahasiswa.
Musibah ini langsung memicu respons luas dari pemerintah kota. Municipal Corporation of Delhi (MCD) memerintahkan penyegelan segera terhadap semua bangunan ilegal yang memiliki lebih dari empat lantai. Sementara itu, Kepala Menteri Delhi, Rekha Gupta, memerintahkan penyelidikan tingkat magistrat serta pendaftaran FIR terhadap pemilik bangunan. Langkah ini menandai perluasan tindakan administratif yang tidak hanya menyasar gedung yang runtuh, tetapi juga konstruksi serupa di seluruh ibu kota.
Menurut keterangan resmi, satu korban lagi ditemukan dalam operasi penyelamatan semalam, sehingga total korban jiwa menjadi enam orang. Sebelas orang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat. Tim dari National Disaster Response Force (NDRF), Dinas Pemadam Kebakaran Delhi, dan kepolisian masih melanjutkan pencarian hingga Senin (7/9).
Wali Kota Delhi, Pravesh Wahi, menegaskan bahwa bangunan ilegal dengan lebih dari empat lantai akan langsung disegel. Ia juga memperingatkan akan ada tindakan tegas terhadap pejabat sipil yang lalai mengawasi konstruksi semacam itu. “Para pelaku insiden Satya Niketan tidak akan dibiarkan lolos. Semua konstruksi ilegal di atas empat lantai akan segera disegel, dan pejabat yang bersalah akan langsung dipecat,” tulisnya di platform X.
Kepala Menteri Rekha Gupta, setelah meninjau lokasi, menyatakan bahwa mereka yang bertanggung jawab akan dihukum sesuai ketentuan hukum terberat. Polisi telah mendaftarkan FIR di kantor polisi South Campus terhadap pemilik bangunan yang disebut bernama Hariram beserta pihak lain. Deputi Komisaris Polisi (Southwest), Amit Goel, membenarkan pendaftaran FIR tersebut.
Bangunan yang runtuh tersebut diketahui telah digunakan sebagai tempat tinggal bagi sekitar 40 orang, sebagian besar mahasiswa yang kuliah di South Campus Universitas Delhi. Saat kejadian, sedang berlangsung perbaikan di bagian basement. Hujan deras yang mengguyur kawasan itu diduga menjadi salah satu faktor pemicu.
Insiden ini memicu protes dari aktivis mahasiswa. Anggota Akhil Bharatiya Vidyarthi Parishad (ABVP) berunjuk rasa di depan kantor pusat MCD, menuntut perbaikan standar keselamatan hunian paying guest di kawasan yang didominasi mahasiswa. Mereka bahkan masuk ke area kantor dan melakukan duduk-duduk (dharna) sebagai bentuk desakan.
Politisi Kongres, Kumari Selja, mengkritik pemerintah atas kelalaian melindungi mahasiswa. “Apa yang dilakukan pemerintah BJP? Mereka lupa dengan insiden pusat bimbingan belajar. Mafia beroperasi di Delhi. Anak-anak ini dikirim dengan penuh harapan. Mereka adalah tulang punggung orang tua mereka. Siapa yang bertanggung jawab atas keselamatan mereka?” ujarnya.
Mantan Sekretaris Utama Delhi, Omesh Saigal, menyoroti maraknya konstruksi tanpa izin dan penambahan lantai tanpa pengawasan memadai. “Lihatlah bangunan-bangunan di Delhi—saya perkirakan di beberapa area, satu dari lima bangunan tidak berizin; baik denahnya tidak disetujui, ada lantai tambahan, atau konstruksinya di bawah standar,” katanya. Saigal mendesak pembatasan konstruksi baru di kawasan yang sudah padat dan terlalu banyak bangunan. “Setidaknya, kita harus melarang konstruksi baru di area-area ini. Kita harus menghentikan pembangunan baru—atau menghentikan pengesahan rencana bangunan—untuk wilayah yang sudah terlalu padat dan terlalu banyak dibangun,” tegasnya.
Operasi pencarian dan penyelamatan masih terus berlangsung di lokasi runtuhnya bangunan Satya Niketan. Tim gabungan masih berupaya menemukan korban yang mungkin tertimbun di bawah puing-puing. Pertanyaan besar yang kini mengemuka: apakah tindakan penyegelan dan penyelidikan ini cukup untuk mencegah tragedi serupa terulang, atau justru akan memicu gelombang perlawanan dari pemilik bangunan ilegal yang selama ini beroperasi tanpa hambatan?



