Erupsi Anak Krakatau Tutup Bandara Lampung, Arus Penyeberangan Bakauheni–Merak Meningkat
Baca dalam 60 detik
- Bandara Radin Inten II Lampung berhenti beroperasi menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau yang berstatus siaga.
- Penumpang tujuan Jakarta beralih ke jalur laut, membuat arus di Pelabuhan Bakauheni ramai namun tetap terkendali.
- Pemerintah memantau situasi dan mengimbau warga menggunakan masker, sementara dampak ekonomi transportasi masih dievaluasi.

Bandar Lampung, LyndHub — Aktivitas penerbangan di Bandara Radin Inten II, Lampung, terhenti total sejak Senin pagi menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau yang meningkatkan status gunung tersebut menjadi level III (siaga). Penutupan ini memaksa sebagian calon penumpang yang hendak menuju Jakarta untuk memutar haluan ke moda laut, sehingga arus penyeberangan di Pelabuhan Bakauheni–Merak mengalami lonjakan signifikan.
Gunung yang berada di perairan Selat Sunda ini mulai menunjukkan peningkatan aktivitas pada 5 September 2026, dengan lontaran material vulkanik yang menyebar hingga ke daratan Lampung. Abu vulkanik yang terbawa angin menjadi alasan utama otoritas penerbangan menutup bandara demi keselamatan operasional pesawat. Penutupan ini bukan pertama kalinya; sebelumnya, erupsi serupa pernah mengganggu jadwal penerbangan di kawasan tersebut, meski tidak selama kali ini.
Pantauan di lapangan, Senin (7/9/2026), menunjukkan kendaraan yang melintasi Tol Trans Sumatra menuju Bakauheni lebih ramai dari hari biasa. Meski demikian, arus lalu lintas tetap lancar dan waktu tempuh dari Bandar Lampung ke pelabuhan hanya sekitar 1,5 jam. Di pelabuhan, tidak terlihat antrean panjang; petugas setempat menyebutkan bahwa peningkatan penumpang didominasi oleh pengguna kendaraan pribadi yang memilih menyeberang dengan kapal ferry.
Kesiapan kapal di dermaga pun dinilai memadai. Proses dari pintu masuk pelabuhan hingga naik ke kapal berlangsung cepat, tidak sampai menimbulkan penumpukan. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen logistik dan transportasi di Bakauheni mampu beradaptasi dengan lonjakan permintaan yang terjadi secara mendadak.
Meski terjadi peningkatan aktivitas, suasana di pelabuhan tidak menunjukkan kepanikan. Para penumpang, termasuk anak-anak, tampak mengenakan masker sebagai langkah antisipasi terhadap abu vulkanik yang masih beterbangan. Hal ini sejalan dengan imbauan Badan Geologi agar masyarakat di sekitar Selat Sunda menggunakan pelindung pernapasan dan menjauhi area puncak gunung.
Bagi pelaku industri pariwisata dan logistik di Lampung, penutupan bandara ini berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi, terutama pada sektor penerbangan dan jasa terkait. Namun, beralihnya penumpang ke jalur laut justru menguntungkan operator ferry dan pelaku usaha di sekitar pelabuhan. Pemerintah daerah pun mulai menyiapkan langkah antisipasi jika status gunung meningkat, termasuk skema evakuasi dan pengalihan rute transportasi.
"Kami memastikan keselamatan penumpang adalah prioritas utama. Seluruh armada dan petugas siaga untuk melayani lonjakan penumpang selama bandara ditutup," ujar seorang petugas di Pelabuhan Bakauheni, seperti dikutip dari keterangan resmi.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah berapa lama bandara akan ditutup dan bagaimana dampaknya terhadap konektivitas antarwilayah. Jika erupsi berlanjut, pemerintah mungkin perlu mempertimbangkan pembukaan rute penerbangan alternatif atau penambahan frekuensi kapal untuk memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat. Yang jelas, kejadian ini kembali mengingatkan bahwa Indonesia, sebagai negara dengan gunung api aktif terbanyak di dunia, harus selalu siap menghadapi gangguan transportasi akibat bencana alam.



