Bandara Soekarno-Hatta Perpanjang Penutupan hingga Senin Sore, 170.000 Penumpang Terdampak
Baca dalam 60 detik
- Aktivitas vulkanik Anak Krakatau memaksa perpanjangan penutupan empat bandara, termasuk Soekarno-Hatta, hingga pukul 18.00 WIB Senin.
- Lebih dari 170.000 penumpang terlantar akibat gangguan penerbangan yang melanda delapan bandara sejak akhir pekan.
- Badan Geologi memperingatkan potensi erupsi susulan disertai lontaran material pijar dan aliran lava.

Jakarta, 7 September 2026 — Empat bandara utama di Indonesia, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, resmi memperpanjang masa penutupan operasional hingga Senin pukul 18.00 WIB. Keputusan ini diambil setelah Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas erupsi yang meningkat, memicu kekacauan perjalanan udara yang telah menelan korban lebih dari 170.000 penumpang terlantar sejak akhir pekan.
Erupsi yang terjadi pada Sabtu lalu itu melontarkan lava pijar dan abu vulkanik setinggi ribuan meter ke atmosfer. Abu tersebut kemudian terbawa angin dan mencemari ruang udara di sejumlah wilayah, memaksa otoritas penerbangan untuk menutup delapan bandara secara bertahap. Selain Soekarno-Hatta, penutupan juga berlaku di Bandara Halim Perdanakusuma yang melayani penerbangan sipil dan militer, serta dua bandara lain yang belum disebutkan namanya.
PT Angkasa Pura, selaku pengelola bandara, dalam pernyataan resminya di media sosial mengimbau para calon penumpang untuk terus memantau status penerbangan masing-masing. "Sehubungan dengan meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, operasional penerbangan di beberapa bandara dihentikan sementara; penumpang diharapkan memantau secara berkala informasi dari maskapai," tulis operator tersebut. Imbauan ini menjadi penting mengingat ketidakpastian kapan operasional akan kembali normal.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan probabilitas erupsi susulan masih tinggi setidaknya hingga Senin pagi. Ancaman utama berasal dari lontaran batuan pijar yang disertai hujan abu lebat. "Potensi bahaya lainnya adalah aliran lava apabila erupsi berlanjut," demikian peringatan badan geologi. Kondisi ini memaksa otoritas untuk bersikap konservatif demi keselamatan penerbangan, mengingat abu vulkanik dapat merusak mesin pesawat secara serius.
Bagi Indonesia, kejadian ini bukan sekadar gangguan transportasi. Anak Krakatau, yang namanya berarti "Anak dari Krakatau", berada di Selat Sunda yang memisahkan Jawa dan Sumatra. Gunung ini muncul dari kaldera hasil letusan dahsyat Krakatau pada 1883 dan sejak itu berstatus aktif secara sporadis. Letusan besar terakhir yang memicu tsunami pada 2018 menewaskan 429 orang dan memaksa ribuan warga mengungsi. Peristiwa tersebut menjadi pengingat pahit akan daya rusak gunung ini, yang kini kembali menguji kesiapsiagaan infrastruktur dan sistem tanggap darurat nasional.
Dampak ekonomi pun tak bisa diabaikan. Penutupan bandara selama berhari-hari berpotensi merugikan sektor pariwisata, logistik, dan bisnis yang bergantung pada konektivitas udara. Para pelaku industri penerbangan, seperti Garuda Indonesia dan Lion Air, harus merombak jadwal dan menanggung biaya operasional tambahan. Sementara itu, calon penumpang yang terjebak di bandara menghadapi ketidakpastian yang memicu frustrasi. Pertanyaannya kini: akankah aktivitas vulkanik mereda tepat waktu, atau justru memicu krisis yang lebih luas? Semua mata tertuju pada pergerakan Anak Krakatau dalam 24 jam ke depan.



