Rumah Tinggal Berubah Jadi Pabrik dan Gudang: Warga Kuala Lumpur Mengeluh, Pengawasan DBKL Dipertanyakan
Baca dalam 60 detik
- Lonjakan tiga kali lipat keluhan warga soal usaha di pemukiman memicu kekhawatiran akan hilangnya ketenangan dan keamanan lingkungan.
- Fenomena ini didorong sewa murah dan pemilik rumah yang tak lagi tinggal, mengubah properti menjadi aset komersial murni.
- Tanpa pengawasan ketat terhadap pemilik absen, tren ini diprediksi terus meluas dan berpotensi menular ke kota-kota besar Asia Tenggara.

Jalan-jalan perumahan di Kuala Lumpur perlahan kehilangan wajah tenangnya. Lorong-lorong yang dulu sepi kini dipadati truk pengiriman, papan reklame kecil, dan lalu lalang kendaraan sepanjang hari. Rumah-rumah yang seharusnya menjadi tempat tinggal, berubah fungsi menjadi restoran, kafe, tempat penitipan anak, hingga gudang grosir—hanya bermodalkan kamera pengawas, pagar elektrik, dan kode QR.
Fenomena ini memicu gelombang protes dari warga yang merasa lingkungannya telah disusupi aktivitas komersial tanpa kendali. Menurut data Dewan Kota Kuala Lumpur (DBKL), keluhan terkait usaha di kawasan perumahan meningkat tiga kali lipat dalam beberapa tahun terakhir, dengan laporan baru hampir setiap hari. Ketua Dewan Perwakilan Warga (MPPWP) Zona 6 Seputeh, Alvin T. Ariaratnam, menilai tren ini berakar dari pandemi Covid-19, ketika sewa dan utilitas yang lebih murah membuat rumah menjadi alternatif menarik bagi pelaku usaha.
"Apa yang dimulai sebagai solusi praktis selama pandemi, kini berkembang menjadi masalah yang jauh lebih besar," ujarnya. Warga mengeluhkan kebisingan, kemacetan, parkir ganda, tumpukan sampah, dan konflik antar tetangga yang tak kunjung usai. Di beberapa kasus, rumah ibadah ilegal beroperasi penuh waktu, terbukti dari inspeksi dan rekaman video, meskipun pengelola mengklaim hanya digunakan sesekali.
Di balik banyaknya kasus, terdapat pergeseran pola kepemilikan. Banyak pemilik rumah lama yang telah pindah, menyewakan properti mereka kepada penyewa yang tinggal di satu kamar dan mengubah seluruh ruangan—teras, garasi, hingga kamar tidur—menjadi ruang komersial. Ada pula investor yang sengaja membeli rumah untuk dikonversi, atau tuan tanah yang menyewakan seluruh rumah kepada pihak ketiga untuk menjalankan bisnis seperti taman kanak-kanak atau penyimpanan grosir. Tanpa pemilik yang tinggal di lokasi, operator memperlakukan rumah sebagai aset bisnis murni, dan warga sekitar kehilangan pihak yang bertanggung jawab saat masalah muncul.
Kisah Low Kim Boon, 70 tahun, menggambarkan keputusasaan warga. Selama 22 tahun, ia menikmati ketenangan di rumah semi-terpisahnya di Taman Yarl yang dibelinya seharga lebih dari RM700.000. Namun, rumah tetangganya kerap dijadikan tempat acara pribadi dengan musik keras, sampah, kemacetan, hingga kembang api. Low telah membuat sekitar 20 laporan polisi, tetapi polisi menyarankan agar ia mengadu ke DBKL. "Saya tidak pernah membayangkan akan tinggal di sebelah tempat yang terasa seperti gedung acara. Tiba-tiba, mobil datang, tenda didirikan, ada musik dan teriakan. Bagaimana kami bisa beristirahat? Orang bilang itu hanya satu pesta, tapi jika terjadi berulang kali, itu menjadi hidup kami," keluhnya.
Senada, S. Devi, 80 tahun, merasa ketenangannya terusik ketika rumah tetangganya di Taman Bukit Indah dijadikan tempat penyimpanan dan penjualan cocopeat. Karung-karung menumpuk di teras dan lorong belakang, truk hilir mudik, dan pelanggan sering salah mengetuk pintu rumahnya. "Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman. Sebaliknya, saya jadi takut setiap ada orang asing datang ke gerbang," tuturnya. Meski barang telah disita dan pemilik didenda setelah pengaduannya ke DBKL, Devi tetap khawatir. Sementara itu, Emily Tan dari Happy Garden mengeluhkan rumah pojok yang menjadi restoran, dengan pelanggan yang datang sepanjang hari, bau masakan yang mengganggu, dan sampah yang mengundang lalat serta tikus. Ia khawatir kemacetan yang ditimbulkan bisa menghambat ambulans atau mobil pemadam kebakaran.
Di Taman Angkasa, Taman Pandian, dan Taman Puchong Indah, warga yang tergabung dalam asosiasi sekitar 200 rumah mengeluhkan rumah yang dijadikan gudang buah grosir selama lebih dari satu dekade. Juru bicara warga Taman Angkasa menyebut penampilan yang tidak sedap dipandang telah menurunkan nilai properti dan menjadi sarang tikus serta biawak. Ketua MPPWP Zona 4 Cheras, Tanabalan Sinniah, juga mengonfirmasi adanya kasus serupa di dekat Jalan Cheras, di mana rumah-rumah disewa untuk penyimpanan dan kafe. "Kami sadar dan prihatin karena ini bisa mengganggu tetangga sekitar," katanya, seraya menambahkan akan menyoroti masalah ini ke DBKL.
Di Taman Batu View, dekat Pasar Grosir Kuala Lumpur, banyak rumah telah disulap menjadi gudang penyimpanan buah dan sayur. Kotak-kotak menumpuk di halaman, tempat sampah penuh dengan sisa produk. Seorang pemilik rumah yang hanya dikenal sebagai Hisham mengatakan, sebagian besar pemilik telah pindah dan menyewakan properti kepada warga asing yang bekerja di pasar. "Kadang ada penindakan, tapi tidak membuat jera. Banyak yang memasang pagar tinggi agar aktivitasnya tidak terlihat," ujarnya. Nilai properti di kawasan itu pun merosot tajam.
Meskipun DBKL memiliki kewenangan berdasarkan Bagian 26 untuk menutup konversi ilegal, operasi penertiban yang dilakukan hanya sesekali dinilai tidak efektif mengatasi tren yang meluas di seluruh kota. Tanpa kontrol yang lebih ketat terhadap pemilik properti yang tidak tinggal di lokasi dan sewa komersial, jalan-jalan perumahan yang tenang akan terus berubah menjadi pusat bisnis. Pertanyaannya, akankah DBKL memperketat regulasi dan pengawasan, atau membiarkan warga terus berjuang sendirian menghadapi gangguan yang semakin menjadi?



