Chelsea Krisis Gelandang: Dua Bek Kanan Jadi Tumpuan di Lini Tengah, Belanja £349 Juta Dipertanyakan
Baca dalam 60 detik
- Kekalahan 1-2 dari Arsenal memaksa Chelsea menurunkan Reece James dan Malo Gusto, dua pemain berposisi asli bek kanan, sebagai duet gelandang.
- Cedera Moises Caicedo memperparah masalah, sementara kegagalan mendatangkan gelandang baru di hari terakhir bursa transfer membuat kedalaman skuad The Blues di lini tengah semakin tipis.
- Keputusan menjual Enzo Fernandez tanpa pengganti langsung berpotensi menjadi bumerang jika Caicedo tak kunjung pulih, memaksa Chelsea kembali berburu pemain pada Januari.

Kekalahan perdana Chelsea di tangan Arsenal pada pekan ketiga Liga Inggris menyisakan pekerjaan rumah besar bagi Xabi Alonso. Bukan sekadar tiga poin yang hilang di Emirates Stadium, melainkan sorotan tajam terhadap komposisi lini tengah The Blues yang dipaksa diperkuat dua pemain berposisi asli bek kanan, Reece James dan Malo Gusto, saat menghadapi juara bertahan. Kejadian ini memicu pertanyaan besar: mengapa tim yang sudah menggelontorkan dana 349 juta poundsterling pada bursa musim panas justru krisis gelandang?
Dalam laga yang berakhir 1-2 itu, James yang gagal mengawal Martin Odegaard saat kapten Arsenal mencetak gol kemenangan menjadi titik lemah. Padahal, Alonso sebelumnya menyatakan keyakinannya bahwa James bisa menjadi salah satu gelandang terbaik dunia. Namun, realitas di lapangan menunjukkan lain: ketiadaan gelandang murni memaksa pelatih asal Spanyol itu merombak posisi pemain secara darurat. Situasi ini diperparah dengan cedera yang dialami Moises Caicedo, yang hanya bertahan 11 menit saat menjadi pemain pengganti melawan Brighton pekan lalu.
Masalah Chelsea sebenarnya sudah terlihat sejak bursa transfer ditutup. Penjualan Enzo Fernandez ke Manchester City dengan rekor 125 juta poundsterling tidak diimbangi dengan pembelian gelandang pengganti. Upaya mendatangkan Lamine Camara dari Monaco gagal di menit-menit terakhir, sementara tawaran untuk Alex Scott dan Manu Kone juga ditolak. Akibatnya, selain Caicedo yang cedera, Jordan Henderson yang masih memulihkan patah lengan, dan Valentin Barco yang lebih natural sebagai gelandang justru kerap diabaikan, Chelsea hanya punya sedikit opsi di lini tengah.
Mantan pemain timnas Inggris, Ashley Young, yang kini menjadi pengamat, menyoroti keanehan komposisi Chelsea. "Anda mengakhiri pertandingan melawan juara dengan dua bek kanan di lini tengah," ujarnya kepada BBC Sport. Young juga menilai lini depan Chelsea memang menakutkan, tetapi sektor tengah menjadi titik lemah yang mudah dieksploitasi lawan. Data penguasaan bola 25,6 persen saat melawan Brighton menjadi bukti betapa The Blues kesulitan menguasai permainan, sebuah angka terendah sejak catatan statistik dimulai pada 2003-04.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, situasi Chelsea ini menarik untuk dicermati. Klub-klub Eropa kerap menjadi barometer strategi transfer, dan kegagalan Chelsea dalam merencanakan komposisi skuad meski dengan belanja besar bisa menjadi pelajaran berharga. Di tengah gencarnya klub-klub Asia Tenggara, termasuk Indonesia, meningkatkan kualitas liga, manajemen skuad yang cermat—bukan sekadar membeli pemain mahal—menjadi kunci. Keputusan Chelsea yang menjual pemain inti tanpa pengganti sepadan menunjukkan bahwa perencanaan jangka panjang seringkali lebih penting daripada belanja impulsif.
Di balik kekalahan tersebut, ada secercah harapan. Rekrutan anyar Morgan Rogers mencetak gol pada menit kedua dan menjadi pemain Chelsea pertama yang mencetak gol atau assist dalam tiga laga pembuka Premier League sejak Eden Hazard pada 2018-19. Namun, catatan delapan gol kebobolan dalam tiga pertandingan menunjukkan lini pertahanan yang rapuh, dan Alonso sendiri mengakui timnya perlu lebih solid. "Kami ingin lebih ketat," katanya, merujuk pada keinginan memperbaiki pertahanan.
Alonso menyebut musim panas ini sebagai "fase satu" dari proyeknya. Jika Caicedo segera pulih, mungkin masalah ini bisa teratasi. Namun, jika cedera berkepanjangan, keputusan tidak merekrut pengganti Fernandez akan terus menghantui. Arsenal, yang menjadi tolok ukur, menunjukkan bahwa konsistensi dan kedalaman skuad adalah kunci bersaing di papan atas. Chelsea masih tertinggal 33 poin dari Arsenal musim lalu, dan meski performa mereka membaik, pertanyaan besar tetap menggantung: akankah lini tengah darurat ini menjadi kelemahan fatal atau justru menjadi batu loncatan bagi James untuk membuktikan kualitasnya sebagai gelandang sejati?



