Bentancur Buktikan Diri Lebih Berharga daripada Rekrutan Rp1,7 Triliun Tottenham
Baca dalam 60 detik
- Rodrigo Bentancur tampil konsisten dan menjadi pemain kunci Tottenham di awal musim, mengungguli rekrutan termahal Sandro Tonali.
- Investasi besar Tottenham di bursa transfer belum berbuah manis, dengan tim masih tertahan di papan bawah klasemen Premier League.
- Performa Bentancur menjadi sorotan positif di tengah krisis, memunculkan pertanyaan tentang kebijakan transfer klub yang agresif.

Tottenham Hotspur mengawali musim 2026/27 dengan hasil yang jauh dari harapan. Meski telah menggelontorkan dana hingga 302 juta poundsterling pada bursa transfer musim panas, tim asuhan Roberto De Zerbi justru terpuruk di peringkat ke-17 klasemen sementara Premier League setelah tiga pekan. Di tengah badai performa tim, satu nama justru tampil menonjol: Rodrigo Bentancur, gelandang asal Uruguay yang kerap dipandang sebelah mata.
Bentancur, yang bergabung dari Juventus pada Januari 2022 dengan biaya sekitar 20 juta poundsterling, kini menjadi nyawa permainan Tottenham. Dalam laga melawan Nottingham Forest akhir pekan lalu, ia mencatatkan 17 kontribusi defensif, tertinggi di antara semua pemain di lapangan. Ia juga memenangi sembilan duel udara dan melakukan sembilan clearance, menjadikannya tameng kokoh di depan lini belakang. Aksi tersebut membuatnya dijuluki sebagai pemain terbaik Tottenham oleh jurnalis Football.London, Alasdair Gold.
Kontras dengan performa Bentancur, rekrutan anyar Sandro Tonali yang ditebus dengan rekor klub senilai 100 juta poundsterling justru kesulitan menunjukkan kelasnya. Pada laga pembuka melawan Brentford, mantan pemain Newcastle United itu tampil buruk dan kalah dominan dari gelandang lawan, Mamadou Sangare. Akurasi umpan 89 persen yang ia catat tidak cukup untuk menutupi lemahnya kontrol permainan. Pekan berikutnya, kesalahan umpan yang berujung pada gol lawan semakin menegaskan adaptasinya yang belum tuntas.
Fenomena ini memunculkan ironi besar. Tottenham, yang berambisi bangkit setelah dua musim beruntun finis di posisi ke-17, justru mengulangi nasib serupa di awal musim ini. Belanja besar-besaran tidak otomatis berbanding lurus dengan peningkatan performa. Sementara itu, kehadiran Mateus Fernandes yang dibeli seharga 85 juta poundsterling juga belum memberikan dampak signifikan, hanya tampil sekali sebagai starter dalam tiga laga awal. Keputusan De Zerbi untuk lebih memercayai Bentancur di lini tengah menunjukkan bahwa pengalaman dan konsistensi masih lebih berharga daripada sekadar label harga mahal.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah ini menjadi pelajaran berharga tentang manajemen klub modern. Klub-klub Liga 1 yang kerap borong pemain asing mahal bisa berkaca dari kasus Tottenham: investasi besar tanpa perencanaan matang dan adaptasi yang tepat hanya akan menjadi bumerang. Sebaliknya, pemain lokal atau yang sudah lama bergabung justru bisa menjadi pahlawan tak terduga, seperti yang ditunjukkan Bentancur. Fenomena ini juga mengingatkan bahwa penilaian pemain tidak bisa hanya berdasarkan harga transfer, melainkan kontribusi nyata di lapangan.
Performa Bentancur yang gemilang tidak lepas dari perbandingan dengan legenda Tottenham, Mousa Dembele. Meski tidak semulus Dembele dalam mengolah bola, gaya bermain Bentancur yang pekerja keras, gigih, dan pantang menyerah mengingatkan pada mantan gelandang Belgia itu. Ia menjadi contoh bahwa pemain dengan harga murah pun bisa tampil seperti bintang mahal. Pertanyaannya kini, akankah De Zerbi mampu mengintegrasikan Tonali dan Fernandes secara bertahap tanpa mengorbankan performa Bentancur? Atau justru Tottenham akan semakin bergantung pada pemain berusia 29 tahun itu untuk keluar dari krisis?



