Aktivitas Erupsi Anak Krakatau Meningkat: Durasi Getaran Capai Rekor 21.600 Detik
Baca dalam 60 detik
- PVMBG mencatat gempa letusan Gunung Anak Krakatau berdurasi 21.600 detik, tertinggi sepanjang 2026.
- Fenomena lava fountain terlihat dari Pasauran, Serang, menandakan erupsi yang berlangsung sejak Jumat malam.
- Masyarakat dan wisatawan diimbau waspada terhadap potensi abu vulkanik dan tsunami.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat durasi gempa letusan Gunung Anak Krakatau mencapai 21.600 detik dengan amplitudo maksimum 70 milimeter, menjadikannya intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026. Fenomena ini terpantau dari kawasan Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, di mana pancaran lava pijar atau lava fountain terlihat jelas saat aktivitas erupsi berlangsung.
Rangkaian letusan yang dimulai sejak Jumat malam (4/9/2026) ini menandakan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan. Warga di pesisir Banten dan Lampung, yang selama ini terbiasa dengan aktivitas gunung berapi di Selat Sunda, kini dihadapkan pada kekhawatiran akan dampak lanjutan, baik berupa hujan abu maupun potensi tsunami. Sejarah mencatat, letusan dahsyat Anak Krakatau pada 2018 memicu tsunami yang menewaskan ratusan jiwa, sehingga setiap peningkatan aktivitas selalu menjadi perhatian serius.
Menurut analis kebencanaan, durasi gempa letusan yang mencapai enam jam lebih tersebut mengindikasikan suplai magma yang besar dari kedalaman. "Angka ini luar biasa. Biasanya letusan berlangsung beberapa menit hingga jam, tetapi durasi 21.600 detik menunjukkan erupsi yang menerus dan berpotensi membentuk kubah lava baru," ujar seorang vulkanolog yang enggan disebutkan namanya. Amplitudo 70 milimeter juga mengindikasikan getaran kuat yang terekam di seismograf, level yang jarang terjadi.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan PVMBG telah menetapkan status waspada di sejumlah wilayah, dengan rekomendasi agar warga tidak mendekati area dalam radius tiga kilometer dari kawah. Sektor pariwisata di sekitar Selat Sunda, seperti Anyer dan Carita, berpotensi terdampak jika abu vulkanik menyebar ke arah daratan, mengganggu aktivitas penerbangan dan kesehatan pernapasan.
Masyarakat pesisir diimbau untuk memantau informasi resmi dari PVMBG dan tidak mudah percaya pada isu yang tidak jelas sumbernya. Sementara itu, pemerintah daerah setempat telah menyiapkan jalur evakuasi dan posko pengungsian sebagai langkah antisipasi. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah aktivitas ini akan mereda dalam beberapa hari ke depan atau justru berlanjut menjadi erupsi yang lebih besar, mengingat pola kegempaan yang masih fluktuatif. Para ahli akan terus mengamati perkembangan ini, dan setiap perubahan status akan segera dikomunikasikan kepada publik.



