Siaga 14 Hari: Banyuwangi Kerahkan Water Bombing Cegah Karhutla Meluas di Kawah Ijen
Baca dalam 60 detik
- Pemkab Banyuwangi resmi menetapkan status tanggap darurat karhutla di kawasan TWA Kawah Ijen selama 14 hari, terhitung sejak 4 September 2026.
- Bantuan helikopter water bombing dari BPBD Jatim dijadwalkan tiba Minggu (6/9) untuk memperkuat pemadaman dari udara, menyusul meluasnya api ke jalur pendakian.
- Penutupan sementara kawasan pendakian berpotensi mengganggu sektor pariwisata dan ekonomi lokal, dengan evaluasi perpanjangan status darurat bergantung pada perkembangan di lapangan.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, resmi menetapkan status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen, menyusul api yang mulai merambat ke jalur pendakian dan mengancam ekosistem kawasan konservasi. Penetapan ini tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Nomor 100.3.3.2/229/KEP/429.011/2026, yang berlaku selama 14 hari ke depan terhitung sejak 4 hingga 17 September 2026.
Bupati Ipuk Fiestiandani mengungkapkan bahwa langkah ini diambil untuk mempercepat koordinasi dan mobilisasi sumber daya, termasuk pengajuan bantuan helikopter pengebom air ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur dan Kantor SAR Surabaya. "Kami sudah menetapkan status darurat bencana 14 hari ke depan dan menandatangani surat pernyataan tanggap darurat untuk mempercepat penanganan," ujarnya di Banyuwangi, Sabtu (5/9).
Kepala Pelaksana BPBD Banyuwangi, Partana, menambahkan bahwa helikopter water bombing milik BPBD Jatim dijadwalkan tiba di Kawah Ijen pada Minggu (6/9). Rute penerbangan akan dimulai dari Malang, mendarat di Bandara Banyuwangi, kemudian menuju Paltuding Kawah Ijen untuk langsung melakukan pemadaman dari udara. Langkah ini dinilai krusial mengingat medan yang sulit dijangkau oleh tim darat.
Kebakaran pertama kali terdeteksi di kawasan hutan dan perkebunan Pasewaran, Kecamatan Kalipuro, pada Rabu (2/9). Petugas sempat melakukan penanganan bertahap, namun api terus merembet hingga mendekati Pondok Bunder yang merupakan jalur pendakian menuju Kawah Ijen pada Jumat (4/9). Kondisi ini memaksa pengelola menutup sementara TWA Kawah Ijen untuk keselamatan pengunjung dan mempermudah operasi pemadaman.
Penutupan kawasan wisata ini berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang tidak kecil bagi Banyuwangi. Kawah Ijen merupakan salah satu destinasi unggulan yang menarik ribuan wisatawan domestik dan mancanegara setiap bulannya, terutama untuk melihat fenomena api biru. Para pelaku usaha di sektor akomodasi, transportasi, dan kuliner di sekitar kawasan pun diprediksi akan merasakan dampaknya, meski keselamatan dan upaya pemadaman menjadi prioritas utama.
Kebakaran hutan di kawasan pegunungan Jawa Timur, termasuk Gunung Sindoro dan Gunung Butak yang sebelumnya terjadi, menunjukkan pola musim kemarau yang meningkatkan risiko karhutla di wilayah tersebut. Para ahli lingkungan mengingatkan bahwa perubahan iklim dan praktik pengelolaan lahan yang kurang berkelanjutan menjadi faktor pemicu utama. Oleh karena itu, upaya pemadaman jangka pendek perlu diimbangi dengan strategi pencegahan jangka panjang, seperti penguatan patroli terpadu dan edukasi masyarakat sekitar hutan.
Bagi masyarakat Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan bencana di daerah rawan karhutla. Banyuwangi sendiri telah memiliki pengalaman menangani kebakaran serupa di tahun-tahun sebelumnya, namun intensitas dan perluasan area tahun ini dinilai lebih cepat. Pemerintah daerah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk TNI/Polri, relawan, dan Perhutani, untuk memastikan api tidak meluas ke permukiman warga.
Hingga berita ini diturunkan, upaya pemadaman masih terus dilakukan. Evaluasi berkala akan menentukan apakah status tanggap darurat perlu diperpanjang, terutama jika titik api belum sepenuhnya padam. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah seberapa cepat bantuan udara dapat menjinakkan api sebelum musim kemarau mencapai puncaknya, dan apakah langkah mitigasi jangka panjang akan segera dirumuskan untuk mencegah terulangnya bencana serupa di masa mendatang.



