Dari Lahan Gundul ke Ekowisata: Simanja Buktikan Mangrove Bisa Jadi Motor Ekonomi Pesisir
Baca dalam 60 detik
- Kawasan Konservasi Mangrove Jagapati (Simanja) di Cilacap bertransformasi dari lahan kritis menjadi destinasi ekowisata yang dikelola komunitas lokal.
- Inisiatif ini didukung penuh oleh Pertamina Patra Niaga melalui program Desa Energi Berdikari, memadukan konservasi dengan usaha perikanan dan pembibitan.
- Keberhasilan Simanja menawarkan model pemberdayaan ekonomi pesisir yang dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia yang menghadapi ancaman abrasi.

Di pesisir selatan Jawa, tepatnya di Kabupaten Cilacap, sebuah kawasan mangrove yang semula gundul kini menjelma menjadi destinasi ekowisata yang menghidupi puluhan keluarga. Kawasan Konservasi Mangrove Jagapati, atau yang akrab disapa Simanja, bukan hanya benteng alami terhadap abrasi, tetapi juga motor penggerak ekonomi warga sekitar.
Simanja merupakan bagian dari program Desa Energi Berdikari Jagapati yang digagas PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal (IT) Cilacap. Inisiatif ini menyatukan upaya pelestarian lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat melalui energi terbarukan, penguatan usaha berbasis mangrove, perikanan, serta konservasi pesisir. Bagi warga, laut dan hutan bakau adalah denyut nadi kehidupanโtempat mereka menggantungkan mata pencaharian sekaligus warisan alam yang harus dijaga.
Kisah transformasi ini tidak lepas dari peran Naswan, Ketua Kelompok Nelayan Sida Asih, yang sejak awal 2000-an memimpin penghijauan di lahan seluas 2 hektare yang dulunya merupakan tanah Perhutani. "Awalnya kawasan ini gundul, lalu kami lakukan penghijauan. Kini sudah ada 32 orang di kelompok tani dengan beragam kegiatan, seperti pembibitan bakau, budidaya kakap merah, kerapu, dan kepiting," ujarnya. Perjuangan tanpa pamrih itu perlahan membuahkan hasil, mengubah kawasan yang terancam abrasi menjadi ekosistem yang produktif.
Keberadaan Simanja tidak hanya menyelamatkan garis pantai dari gempuran ombak, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Hasil tangkapan ikan dan kepiting diolah oleh ibu-ibu setempat menjadi kuliner yang disajikan kepada wisatawan. Sementara itu, pembibitan mangrove yang dikelola kelompok tani telah menghasilkan ribuan stok yang didistribusikan ke berbagai daerah. "Tahun lalu kami menyuplai 2.000 stok untuk daerah lain. Kami juga menangani banyak perusahaan, dinas, instansi, hingga sekolah," jelas Naswan.
Sebagai destinasi ekowisata, Simanja menawarkan beragam aktivitas yang mendidik pengunjung tentang pentingnya menjaga ekosistem mangrove. Mulai dari edukasi dan pembibitan mangrove, tracking menyusuri hutan bakau, susur sungai, budidaya lebah, hingga tambak silvofishery dan spot foto. Melalui pengalaman langsung ini, pengunjung diharapkan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga terinspirasi menjadi agen perubahan dalam pelestarian lingkungan.
Model yang dikembangkan di Cilacap ini menjadi relevan bagi banyak wilayah pesisir Indonesia yang menghadapi ancaman abrasi dan kerusakan lingkungan. Keberhasilan Simanja menunjukkan bahwa konservasi mangrove tidak harus bertentangan dengan kepentingan ekonomi. Sebaliknya, dengan pengelolaan yang tepat, hutan bakau dapat menjadi sumber penghidupan berkelanjutan sekaligus melindungi pemukiman dari bencana.
Pertamina Patra Niaga, melalui program tanggung jawab sosialnya, telah membuktikan bahwa sinergi antara korporasi, masyarakat, dan pemerintah daerah mampu menciptakan dampak yang nyata. Pertanyaannya, apakah model serupa akan diadopsi lebih luas oleh perusahaan lain dan pemerintah untuk mempercepat pemulihan ekosistem pesisir di seluruh Nusantara?



