BMKG Perpanjang Operasi Modifikasi Cuaca di Kalbar-Kalteng hingga 14 September: Garam 32 Ton Disebar untuk Redam Karhutla
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah memperpanjang operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah hingga 14 September 2026, setelah hujan buatan terbukti membasahi lahan gambut dan menekan titik api.
- Lebih dari 32 ton garam telah disemai melalui 37 sorti penerbangan di dua provinsi tersebut, dengan dukungan analisis cuaca real-time dari BMKG.
- Perpanjangan ini menandai pergeseran strategi penanggulangan karhutla dari pemadaman reaktif menuju pencegahan dini berbasis teknologi atmosfer.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama sejumlah kementerian dan lembaga memutuskan memperpanjang operasi modifikasi cuaca (OMC) di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah hingga 14 September 2026. Langkah ini diambil setelah hujan buatan yang diguyurkan sejak akhir Agustus terbukti mampu membasahi lahan gambut, menipiskan kabut asap, serta menekan munculnya titik api baru di dua provinsi yang kerap dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersebut.
Perpanjangan masa operasi ini bukan tanpa alasan. Data BMKG menunjukkan bahwa intervensi teknologi atmosfer yang dimulai 22 Agustus di Kalbar dan 26 Agustus di Kalteng telah menghasilkan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di sejumlah kabupaten, seperti Murung Raya, Barito Utara, Kotawaringin Barat, Kapuas, Lamandau, dan Barito Selatan. Guyuran hujan itu tidak hanya meningkatkan kelembapan tanah gambut, tetapi juga mendinginkan area terdampak dan mengurangi kepadatan asap yang selama ini menyelimuti permukiman.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, mengungkapkan bahwa dalam operasi di Kalbar saja, armada udara gabungan telah menerbangkan 27 sorti dengan total bahan semai mencapai 24.600 kilogram garam murni (NaCl). Sementara itu, di Kalteng, 10 sorti penerbangan telah menebar 8.000 kilogram garam. Penyemaian dilakukan pada ketinggian 6.000 hingga 10.000 kaki untuk menembus awan hujan potensial, dengan pengendalian penuh dari Posko OMC di Pangkalan Udara Supadio, Kubu Raya.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menegaskan bahwa keberhasilan misi ini sangat bergantung pada keakuratan data cuaca. Tim BMKG memantau pergerakan massa awan, arah angin, dan tingkat kelembapan udara secara real-time untuk memastikan penyemaian garam tepat sasaran. "Penyemaian awan dilakukan di area lahan gambut yang terdeteksi hotspot untuk mengurangi titik panas dan memperbaiki kualitas udara akibat pekatnya kabut asap," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (5/9/2026).
Yang menarik, operasi ini tidak lagi dibiayai oleh satu sumber saja. Pada tahap awal, KLH/BPLH menanggung biaya OMC di Kalbar, sementara untuk perpanjangan hingga 14 September, pendanaan dialihkan ke Kementerian Kehutanan dan BNPB. Ini menunjukkan adanya koordinasi lintas sektoral yang lebih solid, melibatkan TNI AU, pemerintah daerah, dan BMKG sebagai penyedia analisis meteorologi.
Bagi masyarakat Indonesia, terutama yang berada di sekitar wilayah terdampak, perpanjangan OMC ini membawa harapan akan kualitas udara yang lebih baik. Kabut asap akibat karhutla kerap memicu gangguan kesehatan, mengganggu aktivitas penerbangan, dan merugikan ekonomi lokal. Dengan adanya hujan buatan yang terus diguyurkan, risiko tersebut dapat ditekan secara signifikan, setidaknya hingga musim hujan tiba.
Lebih jauh, langkah ini menandai pergeseran paradigma dalam tata kelola bencana ekologis di Indonesia. Pemerintah tidak lagi hanya bereaksi ketika api sudah membesar, melainkan mulai mengedepankan tindakan pencegahan dini yang terukur. Integrasi teknologi analisis cuaca BMKG dalam OMC menjadi contoh konkret bagaimana sains dan kebijakan publik dapat berjalan beriringan.
Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah operasi modifikasi cuaca ini akan menjadi solusi permanen, atau hanya sekadar penanggulangan musiman? Mengingat biaya yang tidak sedikit dan ketergantungan pada kondisi atmosfer, pemerintah perlu mempertimbangkan langkah-langkah struktural lain, seperti restorasi gambut dan penegakan hukum yang lebih tegas terhadap pelaku pembakaran lahan. Jika tidak, siklus karhutla dan operasi modifikasi cuaca yang mahal ini akan terus berulang setiap tahun.



