Aliansi Pertahanan Turki-Pakistan-Arab Saudi Menguat: Sekretariat Bersama Disiapkan di Riyadh
Baca dalam 60 detik
- Turki, Pakistan, dan Arab Saudi sepakat membentuk sekretariat bersama di Riyadh untuk melembagakan kerja sama pertahanan berdasarkan Perjanjian Makkah.
- Langkah ini menandai upaya ketiga negara membangun poros pertahanan Islam yang lebih terstruktur, dengan sekretaris jenderal pertama dari Pakistan untuk masa bakti tiga tahun.
- Penguatan aliansi ini berpotensi mengubah peta kekuatan di kawasan, sekaligus membuka peluang kerja sama industri pertahanan dengan negara-negara Muslim lain, termasuk Indonesia.

Turki, Pakistan, dan Arab Saudi resmi melangkah lebih jauh dalam mempererat kerja sama pertahanan mereka. Dalam pertemuan perdana Komite Strategis Politik dan Pertahanan di Istanbul, ketiga negara sepakat membentuk sekretariat bersama yang berkedudukan di Arab Saudi, sebuah langkah yang dinilai sebagai upaya melembagakan aliansi yang selama ini dijuluki "NATO versi Islam".
Pertemuan yang dihadiri para menteri luar negeri, menteri pertahanan, serta kepala staf angkatan bersenjata ini menghasilkan keputusan untuk memperkuat implementasi Perjanjian Makkah untuk Pertahanan Bersama yang telah diteken sebelumnya. Sekretariat yang akan dibentuk di Riyadh itu untuk tahap awal akan dipimpin oleh seorang sekretaris jenderal asal Pakistan dengan masa jabatan tiga tahun.
Langkah ini bukan sekadar seremonial. Dalam pernyataan bersama yang dirilis setelah pertemuan, ketiga negara menegaskan komitmen untuk meningkatkan kapasitas pencegahan dan pertahanan kolektif. Mereka juga sepakat untuk memperdalam kerja sama di bidang industri pertahanan, pengembangan teknologi, hingga produksi bersama alat utama sistem senjata.
Bagi pengamat hubungan internasional, pembentukan sekretariat ini menjadi sinyal bahwa kerja sama pertahanan antarnegara Muslim mulai bergeser dari sekadar deklarasi politik menuju institusi yang lebih konkret. "Ini adalah upaya untuk memberikan struktur dan keberlanjutan pada aliansi yang selama ini lebih banyak bersifat retorika," ujar seorang analis keamanan kawasan yang enggan disebut namanya.
Keputusan ini juga memiliki dimensi geopolitik yang lebih luas. Turki, dengan industri drone-nya yang maju, Pakistan dengan kemampuan nuklirnya, dan Arab Saudi dengan kekuatan finansialnya, membentuk kombinasi yang saling melengkapi. Ketiganya selama ini menghadapi tekanan keamanan yang berbedaโmulai dari isu Kashmir, ketegangan di Timur Tengah, hingga dinamika kawasan Asia Selatan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia selama ini menjalin hubungan pertahanan bilateral dengan masing-masing negara tersebut. Namun, belum ada indikasi keterlibatan Indonesia dalam kerangka Perjanjian Makkah. "Indonesia bisa menjadi mitra strategis yang potensial, terutama dalam hal transfer teknologi dan pelatihan militer," kata seorang pengamat pertahanan dari sebuah lembaga riset di Jakarta.
Kendati demikian, pembentukan aliansi ini juga memunculkan pertanyaan tentang dampaknya terhadap stabilitas kawasan. Beberapa pihak khawatir penguatan blok pertahanan berbasis identitas keagamaan dapat memicu ketegangan baru, terutama di tengah persaingan pengaruh antara kekuatan besar dunia. Namun, ketiga negara menegaskan bahwa kerja sama ini ditujukan untuk menciptakan perdamaian yang adil dan langgeng, bukan untuk konfrontasi.
Ke depan, efektivitas sekretariat ini akan sangat bergantung pada komitmen politik ketiga negara dalam mengalokasikan sumber daya dan menjalankan program-program konkret. Apakah aliansi ini akan menjadi kekuatan penyeimbang baru di kawasan, atau justru menambah kompleksitas geopolitik yang sudah rumit? Hanya waktu yang akan membuktikan, namun yang jelas, peta pertahanan kawasan tengah mengalami pergeseran signifikan.



