Kabut Asap Kembali Selimuti Singapura: PSI Tembus Level Tidak Sehat, Wilayah Tengah Terdampak Lebih dari Sehari
Baca dalam 60 detik
- Indeks Standar Polutan (PSI) di kawasan tengah Singapura masih berada di angka 115 pada Jumat pagi, menandakan kualitas udara tidak sehat selama lebih dari 24 jam.
- Wilayah barat dan timur sempat menembus ambang batas tidak sehat, namun berangsur membaik ke level moderat pada pukul 09.00 waktu setempat.
- Badan Lingkungan Nasional (NEA) memperkirakan kabut asap lintas batas dari Sumatera dan Kalimantan masih akan berlanjut seiring kondisi kering yang diprediksi terjadi.

Kualitas udara di Singapura kembali memburuk akibat kabut asap lintas batas yang bersumber dari kebakaran hutan di Indonesia. Pada Jumat (5/9) pagi, Pollutant Standards Index (PSI) di kawasan tengah negara kota itu tercatat 115, masuk kategori tidak sehat dan telah berlangsung lebih dari satu hari.
Berdasarkan data pemantauan pukul 09.00 waktu setempat, wilayah barat dan timur Singapura mulai menunjukkan perbaikan. PSI di barat turun ke angka 98, sementara timur berada di level 96, keduanya kembali ke kisaran moderat. Namun, kondisi ini belum sepenuhnya mereda karena wilayah tengah masih menjadi zona dengan polusi tertinggi.
Sebelumnya, pada pukul 07.00 pagi, kawasan barat sempat menembus ambang tidak sehat dengan PSI 102. Ini menjadikannya wilayah ketiga yang mengalami level polusi membahayakan sejak Kamis (4/9). Sementara itu, utara dan selatan masih berada dalam kisaran moderat, masing-masing dengan PSI 83 dan 87.
Badan Lingkungan Nasional (NEA) Singapura mengategorikan kualitas udara tidak sehat ketika PSI berada di rentang 101โ200. Pada level ini, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan. Data dari The Straits Times menunjukkan wilayah barat telah melewati ambang batas sejak tengah malam, sementara timur mulai tidak sehat sejak pukul 21.00 Kamis malam dan baru membaik Jumat pagi.
Fenomena ini merupakan yang pertama sejak Oktober 2023, ketika kabut asap terakhir kali membuat PSI Singapura berada di level tidak sehat. NEA dalam advisory yang dirilis Kamis (4/9) memperingatkan bahwa kabut asap dapat bertahan hingga Jumat, dengan kualitas udara diprediksi berada di kisaran atas moderat hingga pertengahan level tidak sehat.
NEA mengidentifikasi kepulan asap dari kebakaran di Sumatera bagian selatan dan tengah serta sejumlah titik di Kalimantan terbawa angin menuju Singapura. Kondisi cuaca kering yang diprediksi berlanjut dalam beberapa hari ke depan berpotensi memperparah situasi jika arah angin tidak berubah dan titik api terus muncul.
Bagi Indonesia, kabut asap ini menjadi pengingat akan persoalan karhutla yang kerap melanda setiap musim kemarau. Meski pemerintah telah berupaya melakukan pencegahan, praktik pembakaran lahan untuk perkebunan masih sulit dihilangkan sepenuhnya. Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat lokal, tetapi juga negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, yang kerap menerima kiriman asap lintas batas.
Para pengamat lingkungan menilai insiden ini menunjukkan perlunya penguatan penegakan hukum serta kerja sama regional yang lebih konkret. Mekanisme seperti ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution yang telah diratifikasi Indonesia pada 2014 perlu diimplementasikan secara lebih efektif, terutama dalam hal berbagi data satelit dan respons cepat terhadap titik api.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah musim kemarau tahun ini akan memicu krisis kabut asap yang lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dengan prediksi fenomena El Nino yang masih berlanjut, risiko kebakaran hutan dan lahan diperkirakan meningkat. Apakah langkah preventif yang ada saat ini cukup untuk mencegah terulangnya bencana asap yang melumpuhkan aktivitas jutaan orang di kawasan?



