Persahabatan 81 Tahun Putus karena Politik: Kisah Alana Stewart dan Dukungannya pada Trump
Baca dalam 60 detik
- Aktris senior Alana Stewart mengaku kehilangan seorang sahabat lama setelah sahabatnya memutuskan hubungan karena perbedaan pandangan politik terkait dukungan pada Donald Trump.
- Peristiwa ini memicu perdebatan tentang polarisasi politik yang semakin dalam, di mana hubungan personal menjadi korban dari perbedaan ideologi.
- Fenomena ini juga relevan di Indonesia, di mana perbedaan politik sering kali menguji toleransi dalam pertemanan dan keluarga.

Di usia senja, Alana Stewart, aktris yang namanya melekat lewat serial klasik The Love Boat, harus merelakan sebuah persahabatan yang telah terjalin lama. Penyebabnya bukan konflik pribadi, melainkan perbedaan pandangan politik yang kian mempolarisasi masyarakat Amerika Serikat. Stewart mengaku seorang teman dekatnya memutuskan tali silaturahmi karena sang aktris mendukung Presiden Donald Trump.
Perempuan 81 tahun yang pernah menjadi istri musisi legendaris Rod Stewart ini menceritakan pengalaman mengejutkan tersebut melalui akun media sosial X. Menurut pengakuannya, sang sahabat menyampaikan secara langsung bahwa ia tidak sanggup lagi berteman dengan siapa pun yang mendukung Trump. Padahal, selama ini mereka tidak pernah membahas politik secara mendalam. "Saya tidak pernah mendiskusikan politik dengan teman saya itu," ujar Stewart, seperti dikutip dari unggahannya.
Stewart, yang juga pernah menikah dengan aktor George Hamilton pada era 1970-an, mengaku bukan pendukung fanatik Trump. Ia mengaku kerap berbeda pendapat dengan kebijakan presiden, namun menilai secara keseluruhan kepemimpinan Trump lebih baik daripada pemerintahan sebelumnya. "Saya bukan pendukung Trump yang membabi buta. Saya tidak menyukai semua yang dia lakukan atau katakan, tapi saya pikir dia telah melakukan banyak hal baik untuk negara ini," tulisnya.
Ia juga menyoroti kebijakan imigrasi yang menurutnya menjadi alasan utama banyak pemilih mendukung Trump. "Kebanyakan dari kami yang memilih dia menginginkan perbatasan ditutup dan imigran ilegal dideportasi, terutama para penjahat. Kaum kiri tampaknya bermasalah dengan hal itu dan menganggapnya kejam," tambah Stewart. Baginya, dukungan terhadap kebijakan tersebut adalah bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan warga negara, bukan tindakan diskriminatif.
Stewart juga memuji sejumlah pencapaian Trump selama masa jabatan keduanya, seperti penghapusan pajak atas tip yang dinilainya membantu pekerja, serta pemotongan pajak untuk penerima jaminan sosial. "Dia telah menyelesaikan banyak hal selama masa jabatannya," tulisnya. Ia pun menyayangkan stigma yang melekat pada Trump, seperti sebutan fasis yang kerap dilontarkan lawan politiknya.
Yang menarik, Stewart menegaskan bahwa ia tidak pernah mengunggah konten politik di Instagram, hanya di X. Ia mengaku lebih suka berdiskusi dengan orang-orang yang sepaham. Namun, ia menggarisbawahi bahwa konservatif seperti dirinya tidak akan pernah mengakhiri persahabatan hanya karena perbedaan pandangan politik. "Itu membuatku menggelengkan kepala," katanya.
Kisah Stewart menjadi cermin nyata bagaimana politik dapat merenggangkan bahkan memutuskan ikatan personal yang telah dibina bertahun-tahun. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi juga di banyak negara, termasuk Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, perbedaan pilihan politik di Indonesia kerap kali menimbulkan ketegangan di antara keluarga, sahabat, hingga rekan kerja. Intoleransi terhadap perbedaan pandangan menjadi momok yang mengancam kohesi sosial.
Menurut pengamat komunikasi politik, fenomena ini diperparah oleh media sosial yang menciptakan ruang gema (echo chamber) dan polarisasi afektif. Orang cenderung hanya terpapar informasi yang sejalan dengan keyakinannya, sehingga sulit menerima perbedaan. Akibatnya, hubungan personal yang seharusnya menjadi perekat sosial justru menjadi korban.
Di Indonesia, di mana nilai gotong royong dan musyawarah masih dijunjung, penting untuk merenungkan kembali esensi toleransi. Perbedaan pilihan politik adalah hal yang wajar dalam demokrasi, namun seharusnya tidak sampai menghancurkan hubungan yang telah dibangun dengan susah payah. Pertanyaannya, apakah kita mampu belajar dari kisah Alana Stewart untuk lebih bijak menyikapi perbedaan? Atau justru polarisasi akan semakin menggerus kehangatan sosial kita?



