Bandara Delhi Terendam Banjir: Operasional Penerbangan Terganggu, Citra Infrastruktur Dipertanyakan
Baca dalam 60 detik
- Hujan deras Jumat (4/9) menyebabkan genangan di Terminal 3 Bandara Internasional Indira Gandhi, Delhi, memicu keterlambatan dan pembatalan penerbangan.
- Video viral memperlihatkan penumpang dan staf berjalan di tengah air, memunculkan kritik terhadap kesiapan infrastruktur bandara menghadapi cuaca ekstrem.
- Insiden ini menjadi pengingat bagi bandara-bandara Asia, termasuk Indonesia, untuk memperkuat sistem drainase dan manajemen risiko iklim.

Hujan lebat yang mengguyur New Delhi pada Jumat (4/9) mengakibatkan genangan air di dalam dan luar Terminal 3 Bandara Internasional Indira Gandhi (IGI), memaksa operator bandara mengeluarkan peringatan gangguan operasional penerbangan. Video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan penumpang dan staf bandara berjalan menerobos air setinggi mata kaki, sementara petugas tambahan dikerahkan untuk menyedot genangan dan membantu penumpang membawa bagasi.
Fenomena ini bukan sekadar ketidaknyamanan sesaat. Bandara IGI, salah satu tersibuk di Asia Selatan dengan lalu lintas penumpang jutaan orang per tahun, mendadak menjadi sorotan tajam. Genangan yang merendam area keberangkatan dan kedatangan menimbulkan pertanyaan besar tentang ketahanan infrastruktur bandara terhadap dampak perubahan iklim, terutama ketika hujan ekstrem semakin sering terjadi di kawasan perkotaan padat seperti Delhi.
Operator bandara, GMR, dalam pernyataan resminya mengakui bahwa operasi penerbangan terdampak cuaca buruk dan tim darurat telah dikerahkan untuk memastikan pengalaman penumpang tetap lancar. Maskapai seperti IndiGo dan Air India juga menerbitkan imbauan agar penumpang memeriksa status penerbangan sebelum berangkat dan menyediakan waktu tempuh ekstra karena kondisi jalan yang diperkirakan lebih lambat dari biasanya.
Di tengah kekacauan, sejumlah penumpang meluapkan keluhannya. Mansi, seorang penumpang yang diwawancarai ANI, mengaku belum pernah melihat pemandangan seperti ini. โSaya sudah berdiri di sini sekitar setengah jam. Saya menunggu air surut agar bisa menuju gerbang kedatangan,โ ujarnya. Sementara itu, Govinda Pandey, staf bandara yang telah bekerja tiga tahun, menduga ada saluran pembuangan yang tersumbat. Ia mengkhawatirkan citra bandara akan tercoreng dan mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan tegas agar kejadian serupa tidak terulang.
Insiden di Delhi ini menjadi pengingat bagi banyak negara, termasuk Indonesia, bahwa infrastruktur vital seperti bandara harus dirancang tahan terhadap cuaca ekstrem. Di Indonesia, beberapa bandara seperti Soekarno-Hatta dan Juanda pernah mengalami genangan saat hujan deras, meski tidak separah di Delhi. Namun, dengan intensitas hujan yang meningkat akibat perubahan iklim, risiko kejadian serupa semakin nyata. Evaluasi sistem drainase, kesiapan pompa air, dan prosedur tanggap darurat menjadi langkah krusial yang perlu terus diasah.
Kejadian ini juga menyoroti pentingnya komunikasi yang transparan antara operator bandara, maskapai, dan penumpang. Informasi yang cepat dan akurat dapat mengurangi kekacauan di lapangan dan membantu penumpang mengambil keputusan yang tepat. Meski demikian, upaya jangka panjang untuk membenahi infrastruktur dan tata kelola air perkotaan tetap menjadi prioritas utama.
Pertanyaan yang menggantung: apakah bandara-bandara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sudah cukup siap menghadapi skenario cuaca ekstrem yang semakin tidak menentu? Atau akankah kita menyaksikan adegan serupa terulang di bandara lain, dengan penumpang yang kembali berjalan di tengah genangan air?



