Dua Pekerja PLTA Selamat dari Terowongan Terkubur di Nepal: Operasi Penyelamatan 24/7 Berbuah Hasil
Baca dalam 60 detik
- Setelah lebih dari seminggu terjebak, dua teknisi proyek listrik tenaga air berhasil dievakuasi dari terowongan Trishuli 3A di Nepal, menandai titik terang di tengah bencana yang menewaskan lebih dari 1.250 orang.
- Keberhasilan ini tidak lepas dari peran ahli penyelamatan internasional Arnold Dix yang memandu tim dari jarak jauh, menunjukkan pentingnya kolaborasi global dalam operasi kemanusiaan.
- Peristiwa ini menjadi pengingat akan risiko besar proyek infrastruktur di kawasan rawan bencana, relevan bagi Indonesia yang tengah gencar membangun bendungan dan terowongan di daerah pegunungan.

Dua pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Nepal akhirnya berhasil ditarik keluar dari terowongan yang tertimbun material longsor, Jumat (4/9), setelah menjalani lebih dari satu pekan dalam kegelapan. Menteri Dalam Negeri Nepal, Sudan Gurung, mengonfirmasi bahwa kedua korban selamat tersebut diidentifikasi sebagai Sanjay Shah (30), mandor mekanik, dan Kabir Maharjan (45), pengawas mekanik. Momen dramatis itu terekam dalam video yang dirilis Kementerian Energi setempat, memperlihatkan para penyelamat bersorak saat satu per satu korban muncul dari lubang berlumpur.
Operasi penyelamatan yang menegangkan ini berlangsung di terowongan Trishuli 3A, salah satu dari sejumlah lokasi proyek infrastruktur yang terdampak bencana dahsyat pada 26 Agustus lalu. Saat itu, gelombang besar lumpur dan puing akibat longsoran es dan batuan di perbatasan China-Nepal menerjang kawasan tersebut, menyebabkan lebih dari 1.250 jenazah ditemukan dan lebih dari 5.000 orang masih dinyatakan hilang. Pemerintah Nepal awalnya memperkirakan lebih dari 100 pekerja mungkin masih hidup di dalam beberapa terowongan yang terkubur, sehingga upaya pencarian terus dilakukan di berbagai titik.
Keberhasilan mengevakuasi Shah dan Maharjan tidak lepas dari peran Arnold Dix, presiden Asosiasi Internasional Terowongan dan Ruang Bawah Tanah, yang memandu tim penyelamat dari jarak jauh. Dix, yang dikenal karena pengalamannya menangani berbagai operasi penyelamatan runtuhan terowongan di dunia, menyatakan bahwa timnya sempat mendengar respons lemah dari dalam terowongan setelah meneriakkan kata-kata penyemangat. "Mereka percaya ada jawaban samar dari dalam yang mengatakan 'hunchha', yang berarti 'ya' atau 'oke'," ungkap Dix kepada AFP. Ia pun menyebut dirinya berada dalam kondisi "gelas tiga perempat penuh"โoptimisme yang terjaga setelah berhari-hari bekerja tanpa henti.
Momen haru juga dirasakan keluarga korban. Amir Maharjan, saudara laki-laki Kabir, mengaku hatinya terasa jauh lebih ringan setelah mendengar kabar keselamatan sang kakak. "Saya sangat bahagia," ujarnya singkat kepada AFP. Kesuksesan ini menjadi secercah harapan di tengah duka mendalam yang menyelimuti Nepal. Namun, pekerjaan belum selesai. Pemerintah setempat masih terus melakukan pencarian di terowongan lain yang diduga masih menyimpan korban selamat, sementara tim penyelamat internasional mulai berdatangan untuk memperkuat operasi.
Peristiwa di Nepal ini membawa pelajaran penting bagi Indonesia, yang tengah gencar membangun infrastruktur strategis seperti bendungan dan terowongan di daerah rawan bencana. Menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sejumlah proyek PLTA di Indonesia, terutama di Sumatra dan Sulawesi, kerap menghadapi tantangan geologis serupa. Ahli kebencanaan dari Universitas Gadjah Mada, yang enggan disebut namanya, menilai bahwa protokol keselamatan dan sistem peringatan dini harus menjadi prioritas utama dalam setiap proyek yang beroperasi di kawasan berisiko tinggi. "Kejadian di Nepal menunjukkan bahwa kesiapsiagaan dan respons cepat dapat membuat perbedaan antara hidup dan mati," ujarnya.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah bagaimana negara-negara dengan geografi serupa, termasuk Indonesia, dapat meningkatkan ketahanan infrastruktur mereka terhadap bencana alam yang kian ekstrem akibat perubahan iklim. Apakah insiden ini akan mendorong audit menyeluruh terhadap proyek-proyek yang berada di zona rawan longsor? Atau justru menjadi momentum untuk mengadopsi teknologi pemantauan yang lebih canggih? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: nyawa para pekerja harus selalu menjadi pertimbangan utama di atas segalanya.



