Tiga Badai Pasifik Sekaligus: Fenomena Langka yang Dipicu El Nino Ekstrem
Baca dalam 60 detik
- Tiga siklon tropis aktif bersamaan di Pasifik, sebuah kejadian yang sangat tidak biasa dan dikaitkan dengan pemanasan air laut akibat El Nino.
- El Nino tahun ini berpotensi menjadi yang terkuat dalam sejarah, dengan peluang 69% memecahkan rekor, dan telah memicu cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.
- Dampak El Nino tidak hanya dirasakan di Pasifik, tetapi juga mengancam ketahanan pangan global dan berpotensi mempengaruhi pola cuaca di Indonesia.

Tiga badai besar secara bersamaan mengamuk di Samudra Pasifik, sebuah fenomena yang sangat langka dan dikaitkan dengan suhu air laut yang luar biasa hangat akibat El Nino yang kuat. Kondisi ini tidak hanya mengancam Hawaii dengan gelombang mematikan, tetapi juga menjadi sinyal meningkatnya frekuensi siklon tropis ekstrem di tengah pemanasan global.
Badai Lowell dan Karina, keduanya berkategori 4, bergerak ke arah barat melintasi Pasifik, sementara Badai Marie yang baru saja menguat dari badai tropis berada di belakang mereka. Badai Lowell, yang berada sekitar 725 kilometer di selatan Hilo, Hawaii, diperkirakan akan tetap menjadi badai besar dalam beberapa hari ke depan. Pusat Badai Nasional (NHC) Amerika Serikat memperingatkan bahwa gelombang yang ditimbulkan Lowell dapat menyebabkan kondisi selancar dan arus rip yang mengancam jiwa di sebagian Kepulauan Hawaii.
Fenomena tiga siklon tropis secara bersamaan ini dinilai sangat jarang oleh para ilmuwan. Julia Cole, ilmuwan iklim dari Universitas Michigan, menjelaskan bahwa pemanasan El Nino menciptakan kondisi yang mendukung pembentukan badai kuat. "Ketika Pasifik tropis lebih hangat dari normal, kita melihat peningkatan badai kuat," ujarnya. El Nino tidak hanya menghangatkan air laut yang menjadi bahan bakar badai, tetapi juga mengurangi geseran angin vertikal di atmosfer, sehingga memungkinkan badai untuk menguat dengan lebih mudah.
Benjamin Kirtman, ilmuwan atmosfer dari Universitas Miami, menambahkan bahwa sistem iklim telah menghangat secara signifikan selama 20 tahun terakhir. Anomali suhu permukaan laut saat ini mendekati rekor tertinggi. "Tidak ada cara lain untuk mengatakannya—kondisinya sangat mendukung saat ini," katanya. Kondisi ini mengingatkan pada tahun 2015, ketika empat siklon tropis melintasi Pasifik secara bersamaan, juga pada tahun El Nino yang kuat.
El Nino tahun ini, yang diperkirakan akan mencapai puncaknya antara Oktober dan Desember, telah memicu cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia. Di Peru, produsen ikan teri terbesar di dunia, pemanasan laut telah menghancurkan produksi perikanan. Sementara di Sudan, El Nino menyebabkan keterlambatan hujan yang mengakibatkan penurunan drastis permukaan air Sungai Nil. Fenomena ini adalah bagian dari siklus alami yang dikenal sebagai El Nino-Southern Oscillation (ENSO), yang terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali.
Bagi Indonesia, fenomena El Nino ini perlu diwaspadai. Meskipun dampak langsung badai Pasifik tidak akan mencapai wilayah Indonesia, El Nino biasanya membawa kondisi lebih kering di sebagian besar Indonesia, yang dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, serta mengganggu produksi pertanian. BMKG telah mengingatkan bahwa El Nino dapat menyebabkan musim kemarau yang lebih panjang dan intens, yang berdampak pada ketersediaan air dan ketahanan pangan nasional. Masyarakat dan pemerintah perlu menyiapkan langkah mitigasi untuk menghadapi potensi kekeringan dan gagal panen.
Perubahan iklim diperkirakan akan memperkuat dampak El Nino. Atmosfer yang lebih hangat mampu menahan lebih banyak uap air, sehingga curah hujan yang terkait El Nino bisa menjadi lebih ekstrem. Di sisi lain, pemanasan juga mengeringkan tanah, memperparah kekeringan di daerah yang terdampak. Dengan semakin seringnya kejadian El Nino ekstrem, pertanyaan yang muncul adalah: apakah dunia, termasuk Indonesia, siap menghadapi konsekuensi yang semakin tidak terduga dari fenomena iklim ini?



