Rafe Spall: Peran Impian Tak Penting, yang Utama Bisa Menghidupi Keluarga
Baca dalam 60 detik
- Aktor Inggris Rafe Spall mengaku tidak mengejar genre atau franchise tertentu, melainkan fokus pada peran yang memungkinkannya menafkahi empat anak.
- Menjadi ayah di usia 27 dan 42 memberinya perspektif bahwa masa-masa sulit mengasuh anak akan berlalu dan justru dirindukan.
- Baginya, kebersamaan dengan anak-anak memberi makna hidup yang tidak bisa digantikan oleh karier atau gengsi semata.

Aktor asal Inggris, Rafe Spall, menegaskan bahwa ia tidak pernah terobsesi untuk mendapatkan peran impian dalam genre atau waralaba tertentu. Yang ia kejar justru sebuah posisi yang memungkinkannya terus berkarya demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Pernyataan ini ia sampaikan di tengah kesibukannya mengasuh empat anak dari dua hubungan yang berbeda.
Pria berusia 43 tahun yang dikenal lewat film-film seperti Black Mirror, The Ritual, dan Trying ini mengaku bahwa motivasinya dalam berakting murni berasal dari rasa tanggung jawab sebagai orang tua. "Saya ingin tetap bisa menghidupi keluarga, entah itu dengan mengenakan setelan astronot, celana ketat, atau topi koboi," ujarnya dalam wawancara dengan kolom 60 Seconds milik koran Metro. Baginya, jenis peran bukanlah segalanya, melainkan bagaimana peran itu bisa menopang kehidupan orang-orang yang ia cintai.
Menjadi ayah untuk keempat kalinya di usia yang tidak lagi muda memberinya sudut pandang baru. Spall pertama kali menggendong anak saat usianya 27 tahun, dan terakhir kali pada usia 42 tahun. Rentang usia yang lebar ini membuatnya sadar bahwa fase-fase sulit dalam mengasuh anak, seperti begadang atau melatih anak menggunakan toilet, tidak akan berlangsung selamanya. "Semua itu berlalu, dan justru saat sudah pergi, kita akan merindukannya," kenangnya. Ia juga sempat bangga menjadi ayah termuda di antara para orang tua lain di taman bermain, meski kini status itu tidak lagi disandangnya bersama buah hati dari pasangannya, Esther Smith.
Saat Esther sibuk dengan pementasan teater, Spall mengambil peran utama sebagai pengasuh tunggal di sebuah rumah pedesaan yang ia sewa. Ia harus mengurus lima anak sekaligus—empat anak kandungnya ditambah seorang teman dari anak tertuanya—dengan rentang usia antara 2 hingga 15 tahun. "Memasak sambil menggendong balita memang melelahkan. Kadang saya berpikir, alangkah nikmatnya duduk santai sejenak. Tapi untuk apa? Menatap layar ponsel? Justru dengan anak-anak, saya merasa hidup ini penuh arti," tuturnya.
Spall juga menegaskan bahwa ia tidak memiliki periode favorit dalam mengasuh anak. Baginya, setiap fase punya keindahan masing-masing. Anak bungsunya yang berusia dua tahun tengah belajar berbicara, momen yang ia nilai menggemaskan. Sementara anak lelakinya yang hampir setinggi dirinya dan mulai remaja, tetap ia anggap sebagai bocah kecil yang dulu ia kenal. Ia bahkan mengutip aktor Amerika, Bob Odenkirk, yang pernah ditanya tentang siapa yang ia iri. Jawabannya: orang tua dengan anak kecil. Sebab di balik tumpukan cucian dan kekacauan rumah tangga, ada makna yang tidak ternilai. Spall merasa sangat terhubung dengan pernyataan tersebut.
Bagi publik Indonesia, kisah Spall ini bisa menjadi cermin tentang prioritas hidup di tengah hiruk-pikuk karier. Di industri hiburan Tanah Air, tak sedikit artis yang rela banting tulang demi mengejar peran atau popularitas, kadang mengorbankan waktu bersama keluarga. Padahal, seperti yang ditunjukkan Spall, kebahagiaan sejati justru sering ditemukan dalam momen-momen sederhana bersama orang-orang terdekat. Tekanan sosial untuk tampil sempurna di media sosial kerap membuat para orang tua merasa tidak cukup baik, padahal standar kesuksesan seharusnya ditentukan sendiri.
Ke depan, pertanyaan yang menarik untuk direnungkan adalah: mampukah para pekerja kreatif, baik di Inggris maupun Indonesia, menyeimbangkan ambisi profesional dengan peran sebagai orang tua tanpa merasa bersalah? Spall telah memilih jalannya sendiri, dan tampaknya ia tidak akan menukarnya dengan tawaran peran sebesar apa pun.



