Liga Argentina Hentikan Laga untuk Hormati Messi: Sebuah Penghormatan Terakhir
Baca dalam 60 detik
- Seluruh pertandingan pekan ini di Argentina akan berhenti sejenak di menit ke-10 sebagai bentuk penghormatan untuk pensiunnya Messi dari tim nasional.
- Keputusan ini diambil setelah La Pulga mengumumkan gantung sepatu dari La Albiceleste, menyusul kekalahan di final Piala Dunia 2026 dan tragedi pribadi.
- Langkah ini menegaskan status legendaris Messi di Argentina, sekaligus menjadi momen refleksi bagi penggemar sepak bola global, termasuk di Indonesia.

Lionel Messi, ikon sepak bola dunia, resmi mengakhiri karier internasionalnya. Sebagai bentuk penghormatan terakhir, Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) memutuskan untuk menghentikan sementara semua pertandingan liga domestik pada pekan ini di menit ke-10, memberikan tepuk tangan meriah selama satu menit penuh untuk sang legenda.
Keputusan ini diumumkan tak lama setelah Messi, yang kini berusia 39 tahun, menyatakan pensiun dari tim nasional pada Senin lalu. Pengumuman tersebut menjadi puncak dari rangkaian peristiwa emosional, termasuk kekalahan Argentina di final Piala Dunia 2026 melawan Spanyol pada Juli lalu, yang menjadi laga pamungkasnya bersama La Albiceleste. Sebelumnya, ia juga harus kehilangan sang ayah, Jorge Messi, yang meninggal dunia pada Agustus lalu setelah berjuang melawan penyakit berkepanjangan.
Dalam pernyataan resminya, AFA mengajak seluruh suporter untuk turut serta dalam momen penghormatan ini. "Sebagai penghormatan dan penghargaan atas karier Lionel Messi bersama tim nasional Argentina, pada menit ke-10 permainan di semua pertandingan, wasit akan menghentikan pertandingan dan akan diadakan tepuk tangan umum selama satu menit," tulis AFA. "Kami berharap dapat melihat Anda di lapangan - bergabunglah dengan kami dalam pengakuan ini!"
Messi, yang lahir di Rosario, tidak pernah merasakan bermain di liga domestik Argentina secara profesional. Ia memulai karier di akademi La Masia milik Barcelona sejak usia 13 tahun. Meski demikian, kecintaannya pada tim nasional tidak pernah pudar. Selama 21 tahun membela Argentina, ia mencatatkan 207 penampilan, menjadikannya pemain dengan caps terbanyak sepanjang sejarah negaranya. Ia juga mengoleksi 125 gol, hanya kalah dari Cristiano Ronaldo (146 gol) dalam daftar pencetak gol terbanyak internasional.
Perjalanan Messi bersama Argentina bukanlah tanpa liku. Pada 2016, ia sempat mengumumkan pensiun setelah gagal membawa timnya menjuarai Copa America, bahkan gagal mengeksekusi penalti di final melawan Chile. Namun, ia kemudian membatalkan keputusannya dan akhirnya mengantar Argentina meraih gelar Copa America 2021, Finalissima 2022, dan tentu saja Piala Dunia 2022 di Qatar. Piala Dunia itu menjadi mahkota sekaligus penebus segala kegagalan sebelumnya.
Keputusan pensiun ini juga dipengaruhi oleh faktor personal. Dalam pernyataannya, Messi mengaku setelah kepergian ayahnya, ia "semakin yakin" bahwa langkah ini adalah keputusan yang tepat. Ia menyebut sang ayah sebagai sosok yang selalu mendukung kariernya. Meski telah pensiun dari tim nasional, Messi dipastikan tetap bermain di klubnya, Inter Miami, di Major League Soccer (MLS), dengan kontrak yang berakhir pada 2028.
Bagi Indonesia, kabar pensiunnya Messi menjadi momen refleksi. Sepak bola Indonesia memang tidak memiliki ikatan historis langsung dengan Argentina, tetapi pengaruh Messi terhadap cara pandang penggemar sepak bola tanah air terhadap kehebatan individu tidak bisa diabaikan. Banyak generasi muda Indonesia yang tumbuh dengan mengagumi gaya bermain Messi, dan kini mereka harus menyaksikan era baru tanpa dirinya di panggung internasional. Hal ini juga menjadi pengingat bahwa bahkan legenda terbesar pun memiliki batas waktu.
Di sisi lain, langkah AFA yang menghentikan pertandingan untuk memberi penghormatan menunjukkan bagaimana sepak bola bisa menjadi medium untuk merayakan karier seseorang. Ini bukan pertama kalinya Argentina melakukan hal serupa; pada 2016, saat Messi sempat pensiun, liga juga sempat mengadakan penghormatan serupa. Tradisi ini menunjukkan betapa dalamnya ikatan emosional antara Messi dan publik Argentina.
Ke depannya, pertanyaan besar yang menggantung adalah: siapa yang akan mengisi kekosongan yang ditinggalkan Messi di tim nasional Argentina? Dengan talenta muda seperti Julián Álvarez dan Lautaro Martínez, Argentina tampaknya memiliki fondasi yang kuat. Namun, tak ada yang bisa menggantikan sosok Messi yang telah memberikan begitu banyak momen magis. Bagi para penggemar di seluruh dunia, termasuk Indonesia, kita hanya bisa berterima kasih atas segalanya dan menantikan aksinya di MLS, sambil berharap ia masih bisa memberikan keajaiban lain di level klub.



