Vietnam Rayakan 81 Tahun Kemerdekaan: Upacara Bendera di Ba Dinh Jadi Simbol Ketahanan Bangsa
Baca dalam 60 detik
- Ribuan warga memadati Lapangan Ba Dinh sejak subuh untuk menyaksikan pengibaran bendera nasional setinggi 29 meter, menandai 81 tahun deklarasi kemerdekaan Vietnam.
- Momen tahunan ini tidak hanya seremonial, tetapi juga menjadi pengingat akan perjalanan panjang Vietnam dari masa kolonial hingga menjadi salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara.
- Bagi Indonesia, perayaan serupa kerap menjadi ajang refleksi nasionalisme, namun juga menyoroti tantangan generasi muda dalam memaknai sejarah di tengah arus globalisasi.

Ribuan warga Vietnam memadati Lapangan Ba Dinh, Hanoi, sejak dini hari, Senin (2/9), untuk menyaksikan upacara pengibaran bendera nasional yang menandai 81 tahun kemerdekaan negara tersebut. Momen sakral yang berlangsung tepat pukul 06.00 waktu setempat ini menjadi simbol ketahanan bangsa yang pernah melalui perjuangan panjang melawan penjajahan.
Upacara berlangsung di depan Mausoleum Ho Chi Minh, tempat di mana Presiden Ho Chi Minh membacakan Proklamasi Kemerdekaan pada 2 September 1945, melahirkan Republik Demokratik Vietnam yang kini dikenal sebagai Republik Sosialis Vietnam. Pengibaran bendera merah berbintang kuning di tiang setinggi 29 meter itu diiringi lantunan lagu kebangsaan yang menggema di seluruh penjuru alun-alun, membangkitkan rasa haru dan bangga bagi ribuan pasang mata yang hadir.
Sejak pukul 04.00 pagi, warga dari berbagai penjuru Hanoi telah berdatangan. Banyak di antara mereka adalah keluarga muda yang sengaja membawa anak-anak untuk menyaksikan langsung upacara bersejarah ini. Momen tersebut kerap diabadikan dengan latar belakang Mausoleum Ho Chi Minh, menjadi semacam ritual tahunan yang memperkuat ikatan emosional antara rakyat dan sejarah bangsanya. Usai pengibaran bendera, pasukan kehormatan berbaris melintasi mausoleum, menambah khidmat suasana.
Bagi Vietnam, Hari Nasional bukan sekadar libur panjang. Ini adalah momentum untuk merefleksikan perjalanan bangsa yang berhasil bangkit dari keterpurukan perang dan isolasi ekonomi. Kini, Vietnam menjelma menjadi salah satu kekuatan ekonomi baru di Asia Tenggara dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang konsisten di atas enam persen dalam beberapa tahun terakhir. Industri manufaktur, khususnya elektronik dan tekstil, menjadi tulang punggung ekspor yang menarik investasi asing dalam jumlah besar.
Semangat nasionalisme yang terlihat di Lapangan Ba Dinh juga relevan untuk direnungkan di Indonesia. Peringatan kemerdekaan di Tanah Air kerap diwarnai upacara bendera dan berbagai perlombaan tradisional. Namun, di balik kemeriahan tersebut, muncul pertanyaan tentang bagaimana generasi muda memaknai nilai-nilai perjuangan di tengah gempuran budaya asing dan disrupsi digital. Apakah upacara bendera masih mampu membangkitkan rasa cinta tanah air, atau justru menjadi rutinitas tanpa makna?
Menurut pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Dr. Rizki Ramadhan, perayaan hari kemerdekaan di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Vietnam, memiliki fungsi penting dalam membangun kohesi sosial dan identitas nasional. "Upacara seperti ini menjadi medium untuk mengingatkan kembali pengorbanan para pendiri bangsa. Namun, tantangannya adalah bagaimana membuat narasi sejarah tersebut relevan dengan kehidupan generasi sekarang," ujarnya. Ia menambahkan bahwa Vietnam berhasil mengemas narasi kemerdekaan dengan pembangunan ekonomi, sehingga nasionalisme tidak hanya berhenti pada simbol, tetapi juga terwujud dalam kemajuan nyata.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana Vietnam dan Indonesia dapat terus memelihara semangat kebangsaan di tengah arus globalisasi yang semakin deras. Mampukah upacara bendera tahunan bertransformasi menjadi inspirasi bagi inovasi dan daya saing bangsa? Atau justru akan tergerus oleh zaman? Jawabannya ada pada bagaimana generasi muda memaknai sejarah dan menerjemahkannya dalam aksi nyata untuk kemajuan bangsa.



