Terjun Bebas Bareng US Army, Kopassus Uji Sabotase di Super Garuda Shield 2026
Baca dalam 60 detik
- Latihan multinasional Super Garuda Shield 2026 di Lampung mempertemukan 13 pasukan khusus TNI dan AS dalam simulasi terjun bebas dan sabotase.
- Kegiatan ini menjadi ajang uji interoperabilitas militer Indonesia dengan 21 negara, sekaligus memperkuat diplomasi pertahanan di kawasan Indo-Pasifik.
- Ke depan, TNI berencana mengembangkan materi siber dan bantuan kemanusiaan dalam latihan tahunan ini untuk merespons tantangan keamanan modern.

Sebanyak 13 personel gabungan dari pasukan khusus TNI dan Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army) melaksanakan latihan terjun bebas (free fall) dan simulasi sabotase di Lanud Gatot Subroto, Lampung, Selasa (1/9), sebagai bagian dari rangkaian Latihan Multinasional Super Garuda Shield (SGS) 2026.
Latihan yang berlangsung hingga 11 September 2026 ini melibatkan 4.743 personel dari 21 negara, menjadikannya salah satu agenda militer terbesar di kawasan. Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, Mayjen TNI Muhammad Nas, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar unjuk kekuatan, melainkan wujud komitmen TNI dalam diplomasi pertahanan dan kerja sama militer multinasional.
Personel TNI yang diterjunkan berasal dari tiga matra: Kopassus TNI AD, Taifib TNI AL, dan Korpasgat TNI AU. Mereka bergabung dengan pasukan khusus AS dalam skenario yang menuntut ketepatan tinggi—terjun bebas ke titik koordinat yang telah ditentukan, lalu langsung bergerak menyabotase posisi musuh. Skenario ini dirancang untuk menguji kesiapan operasional dalam situasi nyata, bukan sekadar seremoni.
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengungkapkan bahwa SGS tahun ini tidak hanya mengandalkan materi konvensional. Ada dua hal baru yang menjadi sorotan: penguatan kemampuan siber dan perluasan materi bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana (HADR) di Kalimantan Utara. "Kami baru tiga tahun memiliki satuan siber, dan latihan ini menjadi sarana untuk bertukar pengalaman dengan negara mitra," ujarnya saat pembukaan di Bandung, Senin (31/8).
Bagi Indonesia, latihan ini memiliki nilai strategis yang lebih luas. Di tengah rivalitas kekuatan besar di Indo-Pasifik, kehadiran 21 negara—termasuk Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris—menunjukkan posisi Indonesia sebagai poros stabilitas keamanan regional. Namun, publik juga perlu mencermati: sejauh mana latihan ini benar-benar meningkatkan kapasitas pertahanan dalam negeri, bukan sekadar menjadi tuan rumah bagi kepentingan geopolitik negara lain.
Lokasi latihan yang tersebar dari Bandung, Jakarta, Lampung, Baturaja, hingga Nunukan menunjukkan kompleksitas operasi. Di Nunukan, Kalimantan Utara, misalnya, materi HADR difokuskan pada simulasi penanggulangan bencana alam—sebuah langkah yang relevan mengingat Indonesia berada di kawasan rawan gempa dan tsunami. Hal ini sekaligus menjawab kritik bahwa latihan militer semata-mata untuk perang.
Namun, di balik semangat kolaborasi, ada pertanyaan yang menggantung: apakah peningkatan interoperabilitas ini akan diimbangi dengan modernisasi alutsista dalam negeri? Sebab, tanpa dukungan peralatan yang memadai, kemampuan personel yang terlatih pun akan sia-sia. TNI sendiri tengah berupaya memperkuat industri pertahanan nasional, tetapi kerja sama dengan negara maju seperti AS tetap menjadi jalan pintas untuk transfer teknologi.
Ke depan, SGS diprediksi akan terus berkembang, baik dari sisi jumlah peserta maupun kompleksitas materi. Pertanyaannya, mampukah Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk membangun kemandirian pertahanan, atau justru semakin bergantung pada kekuatan asing? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan pertahanan nasional dalam beberapa tahun mendatang.



