Liga Inggris Borong Pemain Rp 80 Triliun: Rekor Baru, tapi Ada yang Gagal di Menit Akhir
Baca dalam 60 detik
- Klub-klub Premier League memecahkan rekor belanja musim panas dua tahun beruntun dengan total sekitar £3,46 miliar atau setara Rp 80 triliun.
- Manchester City menjadi pembelanja terbesar dengan £458 juta, termasuk rekrutan termahal Enzo Fernandez seharga £125 juta dari Chelsea.
- Tren belanja antar klub sesama Premier League meningkat menjadi 38 persen, menunjukkan persaingan internal yang semakin ketat.

Liga Premier Inggris kembali memecahkan rekor belanja transfer musim panas untuk kedua kalinya secara beruntun. Total pengeluaran 20 klub papan atas Inggris mencapai sekitar £3,46 miliar atau setara US$4,67 miliar, menurut laporan yang dirilis pada Selasa (2/9). Angka ini melampaui rekor musim lalu yang baru pertama kali menembus £3 miliar, dan lima tahun lalu total belanja hanya £1,13 miliar.
Lonjakan belanja ini terjadi hingga menit-menit terakhir bursa transfer yang ditutup pukul 23.00 waktu setempat. Manchester City menjadi klub paling boros dengan menggelontorkan £458 juta untuk membentuk skuad anyar di bawah manajer baru Enzo Maresca. Salah satu pembelian terbesar mereka adalah gelandang asal Argentina, Enzo Fernandez, yang ditebus dari Chelsea dengan nilai dilaporkan mencapai £125 juta, menyamai rekor transfer termahal di Inggris. Selain itu, City juga memboyong winger Senegal, Iliman Ndiaye, dari Everton senilai £65 juta.
Tidak hanya City, klub-klub lain juga tak segan mengeluarkan kocek dalam. Chelsea menghabiskan £349 juta untuk mendukung pelatih anyar Xabi Alonso, sementara Tottenham Hotspur mengucurkan £303 juta untuk membangun kembali tim setelah dua musim nyaris terdegradasi. Liverpool pun tak ketinggalan dengan menyepakati pembayaran awal £107 juta kepada Paris Saint-Germain untuk penyerang Prancis, Bradley Barcola, yang nilainya bisa naik menjadi £123 juta.
Menariknya, dari 11 pembelian termahal dalam sejarah Premier League, empat di antaranya terjadi pada musim panas ini. Selain Fernandez, ada Elliot Anderson yang dibeli City dari Nottingham Forest seharga £116 juta, Morgan Rogers yang pindah dari Aston Villa ke Chelsea dengan nilai £117 juta, serta Barcola. Tottenham juga memecahkan rekor transfer klub dengan mendatangkan Sandro Tonali dari Newcastle United dalam kesepakatan yang bisa mencapai £100 juta.
Fenomena lain yang menonjol adalah meningkatnya transaksi antarsesama klub Premier League. Sekitar 38 persen dari total kesepakatan terjadi di antara klub-klub papan atas Inggris, naik dari 30 persen pada musim panas lalu. Hal ini menunjukkan persaingan internal yang semakin ketat, di mana klub-klub cenderung saling 'memakan' pemain terbaik di liga sendiri daripada berburu bakat dari luar negeri.
Klub-klub promosi pun tak mau ketinggalan. Ipswich Town, Coventry City, dan Hull City secara kolektif mengeluarkan lebih dari £400 juta untuk memperkuat diri menghadapi kerasnya kompetisi kasta tertinggi. Sunderland juga berhasil mengamankan winger Belgia berbakat, Malick Fofana (21), dari Olympique Lyonnais dengan nilai sekitar £30 juta setelah mengalahkan Crystal Palace dalam perburuan tanda tangan.
Namun, tidak semua rencana berjalan mulus. Sejumlah kesepakatan gagal di hari penutupan bursa. Everton dilaporkan batal mendapatkan Folarin Balogun setelah striker asal Amerika Serikat itu memutuskan mundur di tengah proses transfer. Sementara itu, gelandang Senegal, Lamine Camara, tetap bertahan di Monaco setelah kepindahannya ke Chelsea dengan nilai £47,1 juta gagal terealisasi.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, fenomena ini menjadi cermin betapa derasnya aliran uang di industri sepak bola global. Meski Liga Inggris bukan kompetisi yang langsung berdampak pada pasar domestik, daya tariknya tetap tinggi bagi penggemar di Tanah Air. Banyak pemain Indonesia yang bermimpi menembus liga top Eropa, dan rekor belanja ini menunjukkan bahwa klub-klub Inggris tidak segan membayar mahal untuk talenta muda, termasuk dari Asia Tenggara, jika kualitasnya terbukti.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah ledakan belanja ini berkelanjutan atau justru memicu gelembung finansial. Regulasi Financial Fair Play yang semakin ketat mungkin akan mengerem laju belanja klub-klub pada musim-musim berikutnya. Namun, dengan pendapatan televisi dan komersial yang terus tumbuh, tampaknya klub-klub Premier League masih punya ruang untuk berbelanja besar. Yang jelas, persaingan di puncak klasemen musim ini akan semakin sengit dengan hadirnya para pemain mahal baru.



