Nepal Ajak Wisatawan Tak Tinggalkan Himalaya di Tengah Bencana: Panggilan untuk Solidaritas
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Nepal mengimbau wisatawan global untuk tetap datang, menegaskan bahwa kunjungan mereka menjadi bentuk dukungan nyata bagi pemulihan pasca-banjir bandang.
- Bencana yang dipicu longsoran gletser telah menewaskan lebih dari seribu orang dan menghancurkan infrastruktur vital, termasuk proyek pembangkit listrik tenaga air.
- Nepal kini menghadapi tugas berat rekonstruksi di tengah tekanan ekonomi, dan membutuhkan bantuan internasional serta partisipasi sektor pariwisata untuk bangkit kembali.

Kathmandu, 2 September 2026 โ Di tengah duka mendalam akibat banjir bandang yang menewaskan lebih dari seribu jiwa, Nepal justru melontarkan seruan terbuka kepada para pelancong dunia: jangan tinggalkan Himalaya. Pemerintah menegaskan bahwa destinasi wisata andalan mereka tetap aman dan terbuka, serta setiap kunjungan dianggap sebagai bentuk solidaritas nyata bagi negeri yang sedang berduka.
Menteri Pariwisata Khadak Raj Paudel, dalam pesan video yang diunggah di Facebook, mengajak wisatawan untuk tidak membatalkan rencana perjalanan mereka. "Jejak gunung dan rute trekking kami masih menantimu. Kedatanganmu kali ini bukan sekadar liburan, melainkan dukungan besar bagi negara yang sedang berjuang melawan tragedi ini," ujarnya, menambahkan tagar #NepalCalling. Seruan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa pemberitaan tentang kehancuran desa, jembatan, dan jalan akan menggerus minat wisatawan, meskipun sebagian besar kawasan wisata tidak terdampak langsung.
Bencana yang dipicu oleh longsoran gletser pekan lalu telah menyapu bersih permukiman di sepanjang lembah, menghancurkan bangunan, memutus akses transportasi, dan menewaskan sedikitnya 1.010 orang hingga Selasa sore. Lebih dari 590 warga asing dari 39 negara masih dinyatakan hilang. Tim penyelamat dari Nepal, India, China, dan Korea Selatan dikerahkan, terutama untuk menjangkau pekerja yang terjebak di dalam terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Menteri Dalam Negeri Sudan Gurung menyatakan tim telah mencapai bagian atas salah satu terowongan dan berupaya menggali dari atas pembangkit untuk membuka akses, seraya menegaskan bahwa pihaknya "belum kehilangan harapan" untuk menemukan korban selamat.
Bagi Nepal, salah satu ekonomi termiskin di Asia, bencana ini menjadi pukulan telak di tengah kondisi yang sudah rapuh. Kenaikan harga bahan bakar akibat perang di Iran, melemahnya sektor pariwisata, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi menambah beban berat bagi pemerintahan Perdana Menteri Balendra Shah yang baru berusia 36 tahun. Ia naik ke tampuk kekuasaan tahun ini dengan dukungan kuat dari generasi Z yang menginginkan perubahan. Kini, ia harus membuktikan kapasitasnya dalam memimpin rekonstruksi pascabencana.
Dampak bencana tidak hanya pada nyawa, tetapi juga infrastruktur vital. Setidaknya 12 proyek PLTA di Distrik Nuwakot dan Rasuwa dilaporkan rusak, menurut Asosiasi Produsen Listrik Independen Nepal. Kerusakan ini berpotensi mengganggu pasokan listrik domestik dan menghambat aktivitas ekonomi. Kementerian Luar Negeri Nepal, dalam pernyataannya, mengakui bahwa skala kerusakan semakin jelas seiring membaiknya akses informasi. "Nepal memperkirakan membutuhkan dukungan internasional yang substansial selama fase rehabilitasi dan rekonstruksi," tulis kementerian, seraya menyebut periode ini sebagai "masa yang sangat menyakitkan dan sulit".
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan negara kepulauan dan pegunungan terhadap dampak perubahan iklim. Longsoran gletser yang memicu banjir bandang serupa dengan potensi bencana hidrometeorologi di Indonesia, seperti banjir lahar dingin atau tanah longsor di kawasan pegunungan. Pengalaman Nepal dalam manajemen evakuasi dan koordinasi bantuan internasional dapat menjadi pelajaran berharga. Di sisi lain, wisatawan Indonesia yang gemar mendaki gunung atau trekking di Himalaya perlu mempertimbangkan ulang rencana perjalanan mereka dengan memantau informasi resmi dari otoritas Nepal.
Seruan Nepal untuk tetap datang bukan tanpa risiko. Di satu sisi, pariwisata adalah sumber pendapatan utama yang dapat mempercepat pemulihan ekonomi. Di sisi lain, kedatangan wisatawan di tengah operasi penyelamatan yang masih berlangsung dapat membebani logistik dan sumber daya yang terbatas. Pemerintah Nepal tampaknya menyadari dilema ini, namun memilih untuk menekankan aspek solidaritas. Pertanyaannya, mampukah Nepal menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dengan keselamatan serta efektivitas penanganan bencana? Keputusan ini akan menjadi ujian bagi kepemimpinan muda Balendra Shah dan menentukan arah pemulihan negeri di kaki Himalaya.



