Banjir Nepal Tewaskan 1.000 Orang, Singapura Kirim Bantuan Rp1,4 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Bencana banjir bandang di Nepal akibat longsoran gletser menewaskan sedikitnya 1.000 orang dan 4.000 lainnya hilang.
- Mercy Relief, lembaga kemanusiaan Singapura, mengucurkan dana darurat S$120.000 serta menurunkan tim untuk distribusi bantuan di Distrik Rasuwa.
- Pemerintah Singapura turut mengirim personel dan perlengkapan, termasuk tim identifikasi korban, di tengah kekhawatiran meluasnya dampak kemanusiaan.

Banjir bandang yang dipicu longsoran gletser di perbatasan Nepal-Tibet pada 26 Agustus lalu telah menewaskan sedikitnya 1.000 jiwa dan menyebabkan sekitar 4.000 orang hilang. Di tengah skala bencana yang masih terus berkembang, Mercy Relief, organisasi kemanusiaan asal Singapura, mengumumkan pengiriman bantuan darurat senilai S$120.000 atau setara Rp1,4 miliar untuk masyarakat terdampak.
Tim Mercy Relief dijadwalkan tiba di Kotamadya Pedesaan Uttargaya, Distrik Rasuwaโsalah satu wilayah paling parahโpada 6 hingga 10 September. Mereka akan mengawasi distribusi logistik bagi sekitar 1.800 penyintas yang tersebar di sejumlah komunitas terisolasi. Langkah ini merupakan kelanjutan dari rencana awal yang diumumkan pada 29 Agustus, ketika organisasi tersebut mulai memetakan kebutuhan paling mendesak di lapangan.
Banjir yang menghantam kawasan aliran Sungai Trishuli (Bhotekoshi) ini menyapu lebih dari 40 kilometer jalan dan puluhan jembatan. Akibatnya, akses menuju distrik-distrik terdampak terputus total, memperlambat upaya evakuasi dan pengiriman bantuan. Dari total korban hilang, 590 di antaranya adalah warga asing, termasuk sembilan warga Singapura.
Dalam paket bantuan tahap pertama, Mercy Relief akan menyalurkan makanan, air bersih, perlengkapan sanitasi dan kebersihan, serta tenda dan barang non-pangan seperti pakaian dan selimut. Bantuan ini diprioritaskan untuk 600 orang yang saat ini mengungsi di tiga pusat penampungan sementara di Uttargaya. Seiring membaiknya akses jalan, distribusi akan diperluas ke komunitas-komunitas lain yang selama ini terputus dari bantuan.
Chief Executive Mercy Relief, Leon Yip, menegaskan bahwa akses menjadi hambatan terbesar dalam penanganan bencana ini. "Skala bencana ini sangat besar, dan dengan akses sebagai kendala utama, kami harus bertindak cepat dan strategis," ujarnya. Mercy Relief menggandeng Lumanti, LSM Nepal yang telah bekerja di Rasuwa selama tiga tahun, untuk memastikan bantuan menjangkau komunitas yang nyaris tidak menerima bantuan sejak banjir terjadi.
Vidas Varma, Manajer Program Internasional Mercy Relief, menambahkan bahwa timnya akan bergerak segera setelah akses terbuka. "Kami tidak menunggu kondisi ideal. Kami bekerja dengan apa yang ada. Tim juga akan mengkaji kebutuhan lanjutan, mulai dari tempat tinggal sementara hingga dukungan psikososial bagi keluarga yang kehilangan segalanya," katanya.
Pemerintah Singapura, melalui Kementerian Luar Negeri, juga mengirimkan bantuan kemanusiaan dan personel. Kepolisian Singapura menerjunkan tim yang memiliki keahlian identifikasi korban bencana, sesuai permintaan Nepal. Selain itu, pemerintah akan mengirimkan perlengkapan sipil dan militer, di luar kontribusi US$100.000 yang telah diberikan kepada Palang Merah Singapura pada 28 Agustus. Hingga kini, Palang Merah Singapura telah mengumpulkan dana sekitar S$1 juta dari publik.
Bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan Himalaya terhadap dampak perubahan iklim. Longsoran gletser yang memicu banjir bandang menunjukkan bahwa infrastruktur di daerah pegunungan sangat rentan. Bagi Indonesia, peristiwa ini relevan mengingat ancaman hidrometeorologi serupa, seperti banjir bandang dan tanah longsor, kerap terjadi di berbagai wilayah. Pengalaman Singapura dalam merespons cepat dan koordinasi lintas lembaga dapat menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara di kawasan, termasuk Indonesia, dalam memperkuat sistem penanggulangan bencana.
Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya distribusi bantuan darurat, tetapi juga pemulihan jangka panjang. Rekonstruksi infrastruktur yang hanyut, pemulihan mata pencaharian, dan dukungan psikologis bagi ribuan penyintas akan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Apakah respons internasional yang cepat ini akan diikuti dengan komitmen pemulihan yang berkelanjutan? Pertanyaan itu masih menggantung di tengah duka dan kehancuran yang ditinggalkan banjir bandang Nepal.



