Parma Temukan Bintang Baru: Debut Simone Lontani Guncang Coppa Italia
Baca dalam 60 detik
- Simone Lontani, pemain 18 tahun asal akademi AC Milan, langsung mencetak dua gol pada laga profesional pertamanya saat Parma menekuk Catania 2-0 di Coppa Italia.
- Kemenangan ini mengantarkan Parma ke babak kedua, di mana mereka akan menunggu pemenang antara Cremonese dan Sampdoria.
- Cagliari nyaris tergelincir, hanya menang 1-0 atas Arezzo lewat penalti kontroversial yang harus diulang, dan kini bersiap menghadapi Verona atau Virtus Entella.

Parma membuka musim kompetisi 2026/27 dengan kemenangan meyakinkan 2-0 atas Catania di babak pertama Coppa Italia, namun sorotan utama tertuju pada penampilan gemilang pemain remaja Simone Lontani yang baru pertama kali tampil di level senior. Dua golnya menjadi bukti bahwa bakat muda Italia terus bermunculan, sekaligus memberikan sinyal positif bagi Parma yang tengah membangun skuad berorientasi masa depan.
Lontani, yang baru bergabung dengan Parma pada Juli setelah meninggalkan AC Milan sebagai agen bebas, langsung menunjukkan kelasnya. Gol pertamanya tercipta pada menit ke-19 melalui penyelesaian cerdas dengan sisi luar kaki memanfaatkan bola muntah dari sepak pojok. Sebelum turun minum, ia kembali mencetak gol spektakuler lewat tendangan voli gaya gunting menyambut umpan silang El Bilal Toure. Dua gol tersebut tidak hanya mengamankan kemenangan Parma, tetapi juga menegaskan bahwa pemain berusia 18 tahun ini layak diperhitungkan di pentas sepak bola Italia.
Kehadiran Lontani menjadi angin segar bagi Parma yang musim lalu kesulitan bersaing di papan atas Serie A. Klub yang berbasis di Emilia-Romagna ini tampaknya mulai menuai hasil dari kebijakan merekrut pemain muda berbakat. Dengan lolos ke babak kedua, Parma akan berhadapan dengan pemenang antara Cremonese dan Sampdoria. Kedua lawan potensial tersebut bukanlah tim mudah, namun performa impresif Lontani bisa menjadi modal berharga.
Sementara itu, Cagliari harus bekerja keras untuk menaklukkan Arezzo dari Serie C dengan skor tipis 1-0. Sepanjang pertandingan, tim asuhan Davide Nicola kesulitan membongkar pertahanan lawan. Dua kali tembakan mereka membentur tiang gawang, masing-masing melalui Yael Trepy dan Alessandro Deiola. Kemenangan akhirnya datang dari titik penalti yang sempat gagal dieksekusi Deiola, namun wasit memerintahkan pengulangan karena pemain Arezzo memasuki area terlarang. Pada kesempatan kedua, Deiola sukses menjalankan tugasnya.
Laga ini juga diwarnai insiden kontroversial. Wasit sempat memberikan penalti kepada Arezzo setelah Ze Pedro dianggap melanggar, namun setelah meninjau VAR, keputusan dibatalkan karena ternyata Sala yang melakukan pelanggaran terhadap pemain Cagliari. Keputusan ini menjadi sorotan karena menunjukkan ketelitian teknologi dalam membantu wasit mengambil keputusan yang adil.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, performa Lontani menjadi pengingat bahwa pembinaan usia muda yang serius dapat melahirkan talenta kelas dunia. Indonesia sendiri tengah gencar membenahi pembinaan sepak bola usia dini, dan kisah Lontani bisa menjadi inspirasi bagi para pemain muda Tanah Air untuk terus mengasah kemampuan. Selain itu, hasil Coppa Italia ini juga menarik untuk diikuti karena beberapa pemain keturunan Indonesia berpotensi tampil di kompetisi Eropa, sehingga perkembangan mereka layak dipantau.
Dengan kemenangan ini, Parma dan Cagliari melangkah ke babak kedua dengan modal kepercayaan diri. Namun, tantangan yang lebih berat menanti. Parma harus waspada terhadap kekuatan Cremonese atau Sampdoria yang sama-sama berpengalaman di Serie A. Sementara Cagliari perlu meningkatkan efektivitas serangan jika ingin melaju lebih jauh. Pertanyaannya, apakah Lontani mampu mempertahankan performa impresifnya dan menjadi andalan Parma musim ini? Atau akankah Cagliari kembali mengandalkan keberuntungan untuk melewati rintangan berikutnya?



