Perbaikan Kanal Banjir Hat Yai Dikebut 90 Hari: Thailand Siapkan Anggaran Rp900 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menargetkan perbaikan kanal drainase Khlong R.1 di Hat Yai selesai dalam 90 hari untuk mengantisipasi banjir berikutnya.
- Proyek senilai 400 juta baht ini merupakan bagian dari program pemulihan 66 proyek irigasi di Thailand selatan yang total anggarannya mencapai 821 juta baht.
- Pemerintah Thailand juga mengembangkan sistem peringatan dini banjir berbasis machine learning bekerja sama dengan Kasetsart University.

Perdana Menteri Thailand sekaligus Menteri Dalam Negeri, Anutin Charnvirakul, langsung memerintahkan percepatan perbaikan kanal drainase utama Khlong R.1 di Hat Yai, Songkhla, dengan tenggat waktu 90 hari. Langkah ini diambil setelah banjir besar pada 2025 lalu merusak infrastruktur pengendalian air di kawasan tersebut, dan kini pemerintah bergegas memulihkannya sebelum musim hujan berikutnya tiba.
Dalam kunjungannya ke pintu air Na Khuan di Khlong Phuminat Damri, Anutin didampingi Menteri Pertanian dan Koperasi, Suriya Juangroongruangkit. Mereka meninjau langsung titik-titik kritis yang rusak dan memastikan seluruh peralatan serta material konstruksi sudah disiagakan. Khlong R.1 sendiri berperan vital dalam sistem drainase Hat Yai, menerima aliran air dari DAS U-Tapao dan mengalirkannya ke laut.
Direktur Jenderal Departemen Irigasi Kerajaan, Witthaya Kaewmee, menjelaskan bahwa perbaikan difokuskan pada penguatan dinding kanal yang rusak dan pemasangan sekitar 5.000 tiang pancang baja di sepanjang lebih dari dua kilometer. Penguatan ini bertujuan mencegah erosi dan meningkatkan stabilitas struktur kanal. Selain itu, pemerintah juga melakukan pengerukan di sejumlah saluran air penting, termasuk kanal drainase R.1 dan R.3, Khlong Tha ChangโBang Klam, serta percabangan Khlong U-Tapao.
Perbaikan Khlong R.1 hanyalah bagian kecil dari program pemulihan besar-besaran di Thailand selatan. Pemerintah mengalokasikan dana 821 juta baht untuk 66 proyek irigasi yang tersebar di wilayah tersebut. Proyek ini tidak hanya mencakup perbaikan kanal, tetapi juga peningkatan jalan di sepanjang kanal dan pembersihan hambatan-hambatan di aliran air.
Dalam jangka menengah (2028โ2030), Departemen Irigasi berencana meningkatkan kapasitas sistem drainase R.3โR.6 agar mampu menahan banjir dengan periode ulang 25 tahun, naik dari kapasitas saat ini yang hanya 5 tahunan. Beberapa proyek lain yang diusulkan antara lain perbaikan rute drainase Khlong Nam NoiโKhlong Kamnan sepanjang 6,8 km, serta pengembangan sistem drainase Khlong Tha ChangโTha Meru. Untuk jangka panjang (2031 ke atas), pemerintah berencana membangun beberapa waduk baru dan kanal diversifikasi sepanjang 53 km yang membentang dari Ban Bang Sala hingga Bang Klam, dengan kapasitas aliran 1.200 meter kubik per detik.
Langkah ini menjadi pelajaran penting bagi Indonesia, yang kerap menghadapi banjir tahunan di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, dan Makassar. Pendekatan Thailand yang menggabungkan perbaikan infrastruktur jangka pendek, penguatan kapasitas drainase jangka menengah, dan pengembangan sistem peringatan dini berbasis teknologi dapat menjadi referensi. Di Indonesia, upaya serupa seperti normalisasi sungai dan pembangunan waduk seringkali terhambat oleh pembebasan lahan dan koordinasi antarlembaga.
Departemen Irigasi Thailand juga berkolaborasi dengan Kasetsart University untuk mengembangkan sistem prakiraan banjir dan peringatan dini yang memadukan simulasi banjir dengan teknik machine learning. Sistem ini diharapkan mampu membantu para petugas menilai kondisi cuaca dan air secara lebih cepat, sehingga langkah antisipasi dapat diambil sebelum banjir melanda permukiman. Witthaya menegaskan bahwa pihaknya akan terus memantau kondisi cuaca dan air secara ketat sambil mempercepat perbaikan Khlong R.1.
Anutin menekankan bahwa pengelolaan banjir tidak boleh hanya berhenti pada respons darurat, tetapi harus membangun sistem pengelolaan air yang lebih andal dan tangguh untuk masa depan. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap mengadopsi pendekatan serupa dengan investasi yang lebih besar dan perencanaan yang lebih matang? Atau akankah kita terus terjebak dalam siklus banjir tahunan yang merugikan?



