Cucu Korban Bom Ganda Hiroshima-Nagasaki Bangun Asosiasi, Jejak Sejarah yang Nyaris Terlupakan
Baca dalam 60 detik
- Kosuzu Harada, cucu Tsutomu Yamaguchi, satu-satunya korban resmi bom atom ganda, mendirikan asosiasi keluarga duka untuk melestarikan kisah para penyintas.
- Hingga Juli 2025, hanya sembilan pemegang buku kesehatan korban bom atom di Nagasaki yang tercatat terpapar di kedua kota, menunjukkan minimnya data resmi.
- Upaya ini menyoroti pentingnya pengakuan dan penelitian lebih lanjut tentang dampak radiasi ganda, yang dapat memengaruhi kebijakan dan pemahaman global tentang senjata nuklir.

Lima puluh satu tahun setelah kakeknya, Tsutomu Yamaguchi, menjadi manusia pertama yang diakui resmi sebagai korban bom atom ganda Hiroshima dan Nagasaki, Kosuzu Harada kini berjuang agar kisah para penyintas serupa tidak lenyap ditelan zaman. Lewat asosiasi yang baru ia dirikan, Harada berkeliling Jepang untuk menemui para korban yang masih hidup, merekam kesaksian mereka, dan memastikan bahwa tragedi kemanusiaan ini tetap menjadi pelajaran bagi generasi mendatang.
Tsutomu Yamaguchi, seorang insinyur desain di Mitsubishi Heavy Industries, mengalami nasib nahas yang hampir mustahil: selamat dari ledakan bom atom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945, lalu kembali ke Nagasaki dan kembali selamat dari ledakan kedua tiga hari kemudian. Luka bakar, gangguan pendengaran, dan trauma berkepanjangan menjadi bagian hidupnya. Namun, pengakuan resmi sebagai korban ganda baru datang di usia senjanya, setelah ia memperjuangkan pencantuman Hiroshima dalam buku kesehatan korban bom atom yang awalnya hanya mencatat Nagasaki.
Kisah Yamaguchi, yang wafat pada 2010 di usia 93 tahun, hanyalah satu dari sekian banyak narasi yang belum terungkap. Data dari Pemerintah Kota Nagasaki menunjukkan hingga Juli 2025, hanya sembilan pemegang buku kesehatan yang tercatat terpapar di kedua kota. Sementara itu, pemerintah Hiroshima mengaku belum melakukan pengecekan menyeluruh. Angka ini menggambarkan betapa banyaknya korban yang mungkin tak terdata, dan betapa besarnya tantangan untuk mengungkap kebenaran sejarah.
Harada, yang mendirikan asosiasi "Niju hibaku izoku tomo no kai" pada 2025, bertepatan dengan 80 tahun peristiwa tersebut, bukan sekadar mengumpulkan arsip. Ia aktif menemui penyintas seperti Kinuyo Fukui, 95 tahun, yang selamat dari kedua bom dan masih menyimpan mimpi buruk tentang langkahnya di atas tumpukan jenazah. Bagi Harada, setiap kesaksian adalah jendela untuk memahami penderitaan yang tak terbayangkan dan ketahanan manusia yang luar biasa.
Di tengah upaya pelestarian memori, muncul pertanyaan tentang keadilan dan pengakuan. Hibiki Yamaguchi, peneliti di Universitas Nagasaki, menyoroti bahwa pengakuan ganda tidak mengubah tunjangan, tetapi dapat membuka jalan untuk penelitian lebih lanjut tentang dampak radiasi kumulatif. Ini berimplikasi pada kebijakan kesehatan dan tanggung jawab negara-negara pemilik senjata nuklir.
Bagi Indonesia, yang pernah mengalami penjajahan dan memiliki komitmen terhadap perdamaian dunia, kisah ini relevan. Sebagai negara yang aktif dalam forum-forum pelucutan senjata, Indonesia dapat belajar dari upaya pelestarian memori sejarah untuk mencegah terulangnya kekejaman serupa. Lebih dari itu, kisah para penyintas mengingatkan bahwa di balik statistik dan politik, ada manusia-manusia yang hidupnya hancur oleh keputusan segelintir orang.
"Jika banyak orang tahu bahwa di antara korban bom atom ada yang mengalami dua kali, mungkin mereka akan lebih memahami bahwa senjata nuklir dan manusia tidak bisa hidup berdampingan," ujar Harada, menggambarkan harapannya.
Ke depan, tantangan terbesar adalah bagaimana menjaga kesaksian ini tetap hidup di tengah arus informasi yang cepat dan generasi yang semakin jauh dari peristiwa tersebut. Apakah asosiasi yang dirintis Harada akan mampu menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, atau justru tenggelam dalam birokrasi dan keterbatasan sumber daya? Jawabannya akan menentukan apakah kita benar-benar belajar dari sejarah, atau hanya mengulanginya dalam bentuk yang berbeda.



