Tottenham Berburu Winger Baru: Jean-Matteo Bahoya, Penerus Ndiaye yang Lebih Cepat dari Bale?
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur dikabarkan tertarik mendatangkan Jean-Matteo Bahoya dari Eintracht Frankfurt setelah pemain berusia 21 tahun itu menolak tawaran Hull City.
- Bahoya memegang rekor kecepatan tertinggi di Bundesliga (37,16 km/jam), melampaui Gareth Bale, dan unggul dalam dribel serta progresif membawa bola dibandingkan Iliman Ndiaye.
- Jika transfer ini terwujud, persaingan di lini depan Spurs semakin ketat, dan Bahoya bisa menjadi investasi jangka panjang yang menarik bagi klub London Utara.

Jendela transfer musim panas Tottenham Hotspur belum juga mereda. Hanya berselang beberapa jam setelah kekalahan dari Newcastle United di Premier League, kabar mengejutkan datang: target utama mereka, Cody Gakpo, memilih bergabung dengan Manchester City. Namun, manajemen Spurs bergerak cepat. Kesepakatan senilai ยฃ60 juta dengan Everton untuk mengamankan jasa Iliman Ndiaye, dengan Richarlison sebagai kompensasi, menjadi bukti bahwa klub London Utara itu tidak main-main dalam membangun skuad impian.
Belum cukup dengan Ndiaye, Spurs juga telah mendatangkan Savio dan Omar Marmoush dalam beberapa pekan terakhir. Kini, menurut laporan TEAMtalk, Tottenham dikabarkan telah melakukan pendekatan awal terhadap sejumlah winger, termasuk Jean-Matteo Bahoya dari Eintracht Frankfurt. Bahoya, yang sebelumnya menjadi target Hull City, menolak pindah ke Championship, membuka peluang bagi Spurs untuk mengamankan pemain berusia 21 tahun tersebut.
Jika dilihat dari profilnya, Bahoya bukanlah nama asing di Bundesliga. Ia memegang rekor sebagai pemain tercepat yang pernah tercatat di liga Jerman, dengan kecepatan puncak 37,16 km/jam. Angka ini bahkan melampaui Gareth Bale di masa jayanya yang tercatat 36,9 km/jam. Kecepatan ekstra ini, dipadukan dengan kemampuan membawa bola yang impresif, menjadikannya salah satu winger paling menarik di Eropa saat ini.
Perbandingan dengan Ndiaye pun menarik. Ndiaye, yang baru saja direkrut Spurs, mencatatkan 70 dribel sukses di Premier League musim lalu, hanya kalah dari Jeremy Doku (77). Namun, Bahoya justru lebih unggul dalam hal ini. Ia mencatatkan 2,78 dribel sukses per 90 menit di Bundesliga, lebih baik dari Ndiaye yang hanya 2,36. Bahkan, dalam hal progressive carries, Bahoya berada di peringkat 8% terbaik winger di lima liga top Eropa, dengan 4,67 per 90 menit, sedangkan Ndiaye hanya di 30% terbaik dengan 2,97.
Meski demikian, Bahoya masih perlu meningkatkan produktivitasnya. Musim lalu, ia hanya mencetak empat gol dan total delapan kontribusi gol di semua kompetisi. Namun, dengan usia yang masih muda, potensinya untuk berkembang di bawah arahan Roberto De Zerbi sangat besar. De Zerbi, yang dikenal sebagai pelatih yang mampu mengoptimalkan pemain sayap, bisa menjadi sosok tepat untuk mengasah insting mencetak gol Bahoya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kabar ini menarik karena menunjukkan bagaimana klub-klub Eropa berlomba mendapatkan talenta muda berbakat. Fenomena ini juga mengingatkan bahwa pemain-pemain Asia Tenggara, termasuk Indonesia, memiliki peluang untuk menembus liga top Eropa jika terus mengasah kemampuan teknis dan fisik. Kecepatan dan dribel menjadi komoditas berharga di era sepak bola modern, dan Bahoya adalah contoh nyata bagaimana atribut tersebut bisa menjadi tiket menuju klub besar.
Dengan sisa waktu bursa transfer yang semakin sempit, keputusan Spurs untuk mengejar Bahoya akan menjadi ujian bagi ambisi mereka. Apakah mereka akan berani mengeluarkan dana tambahan untuk mengamankan pemain yang dianggap sebagai 'Ndiaye berikutnya'? Atau akankah mereka memilih untuk fokus pada skuad yang sudah ada? Satu hal yang pasti: bursa transfer musim panas ini menjadi salah satu yang paling sibuk dalam sejarah Tottenham, dan para penggemar tentu menantikan kejutan apa lagi yang akan disajikan.



