Prabowo Resmi Bergabung dengan NU: Kartanu Diterima di Penutupan Muktamar ke-35
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto menerima Kartu Tanda Anggota NU dari PBNU pada penutupan Muktamar ke-35 di Jombang, menuntaskan janji yang sempat ia lontarkan saat pembukaan.
- Keputusan ini mengukuhkan posisi Prabowo di tengah struktur sosial-keagamaan terbesar di Indonesia, sekaligus memperkuat sinyal kedekatan pemerintah dengan ormas Islam moderat.
- Langkah tersebut berpotensi memengaruhi dinamika politik menjelang pemilu berikutnya, mengingat basis massa NU yang luas dan pengaruhnya yang signifikan.

Presiden Prabowo Subianto resmi menjadi anggota Nahdlatul Ulama setelah menerima Kartu Tanda Anggota (Kartanu) dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada penutupan Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8). Momen ini menuntaskan candaan Prabowo saat pembukaan muktamar tiga hari sebelumnya, ketika ia mengaku telah lama meminta kartu tersebut kepada Ketua Umum PBNU sebelumnya, Yahya Cholil Staquf.
Dalam siaran daring yang dipantau dari Jakarta, Prabowo menerima Kartanu langsung dari Rais Am PBNU terpilih, Kiai Haji Miftahul Akhyar, dan Ketua Umum PBNU yang baru ditetapkan, K.H. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. "Ini kehormatan besar bagi saya untuk diundang kedua kali," ujar Prabowo dalam sambutannya, seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima redaksi.
Kehadiran Prabowo di Jombang bukan sekadar seremoni. Ia bertolak dari Jakarta pada Senin pagi dan tiba di Bandara Internasional Juanda sekitar pukul 09.30 WIB, didampingi sejumlah menteri, termasuk Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Kehadiran para pejabat tinggi ini menggarisbawahi pentingnya hubungan antara pemerintah dan organisasi massa Islam terbesar di Indonesia.
Kartanu yang kini dipegang Prabowo bukanlah sekadar kartu identitas. Dalam konteks politik Indonesia, keanggotaan seorang presiden di NU memiliki bobot simbolik yang besar. NU, dengan puluhan juta pengikut, merupakan salah satu kekuatan sosial-politik yang paling berpengaruh. Langkah Prabowo ini dapat dibaca sebagai upaya memperkuat legitimasi di mata konstituen tradisionalis, sekaligus mengamankan dukungan politik menjelang dinamika elektoral ke depan. Seperti dicatat sejumlah pengamat, kedekatan dengan ulama dan kiai sering kali menjadi kunci stabilitas politik di Indonesia.
Muktamar ke-35 NU kali ini juga menjadi ajang suksesi kepemimpinan di tubuh organisasi. Gus Kikin, yang kini memimpin PBNU, mewarisi estafet dari Gus Yahya. Peralihan kepemimpinan ini terjadi di tengah berbagai tantangan, mulai dari isu moderasi beragama hingga peran NU dalam pembangunan nasional. Kehadiran Prabowo di tengah proses suksesi ini memberikan sinyal bahwa pemerintah siap bekerja sama dengan kepengurusan baru untuk menjaga harmoni sosial dan memperkuat peran ormas keagamaan.
Bagi warga NU dan masyarakat luas, momen ini juga memiliki makna emosional. Prabowo, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai tokoh militer dan politisi nasionalis, kini secara resmi menjadi bagian dari keluarga besar NU. Langkah ini bisa menjadi jembatan untuk mempererat hubungan antara negara dan civil society, terutama dalam menghadapi isu-isu kebangsaan yang semakin kompleks. Apakah keanggotaan ini akan diikuti dengan program-program konkret dari pemerintah untuk memberdayakan basis NU? Publik tentu menunggu realisasi dari simbolisme politik ini dalam kebijakan nyata.



