Putin dan Xi Kumpul di Bishkek: Poros Anti-Barat Semakin Padu di Tengah Perang dan Sanksi
Baca dalam 60 detik
- Pemimpin Rusia dan China akan bertemu dalam KTT SCO di Kirgistan, menegaskan poros multipolar di tengah ketegangan global.
- KTT ini menjadi panggung bagi Moskow dan Beijing untuk memperkuat aliansi strategis, sementara Iran dan Turki turut hadir.
- Pertemuan tersebut berpotensi mempengaruhi keseimbangan kekuatan di Asia Tengah dan berdampak pada dinamika geopolitik Indonesia.

BISHKEK, 31 Agustus 2025 – Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu dalam KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Kirgistan, Senin (31/8). Pertemuan dua hari ini menjadi ajang unjuk kekuatan poros multipolar yang berusaha menandingi pengaruh Barat, di tengah konflik Ukraina yang masih berlangsung dan perang dagang yang kian memanas.
SCO, yang merayakan 25 tahun berdirinya, menghimpun Rusia, China, India, Pakistan, Iran, empat negara Asia Tengah, dan Belarus sekutu Moskow. Kehadiran para pemimpin negara-negara tersebut menegaskan ambisi blok ini untuk menjadi penyeimbang hegemoni Amerika Serikat dan sekutunya. Xi, yang tiba di Bishkek pada Minggu (30/8), menyebut hubungan dengan Kirgistan berada dalam "periode emas", menandakan semakin dalamnya pengaruh Beijing di kawasan yang selama ini didominasi Rusia.
KTT ini berlangsung di tengah situasi global yang genting: invasi Ukraina oleh Rusia telah berjalan empat setengah tahun, dan perang antara Washington dan Teheran memasuki bulan keenam. Iran akan diwakili oleh Presiden Masoud Pezeshkian, sementara India dan Pakistan masing-masing diwakili Narendra Modi dan Shehbaz Sharif. Turki, meski bukan anggota formal, juga diperkirakan hadir melalui Recep Tayyip Erdogan. Putin dijadwalkan mengadakan pembicaraan bilateral terpisah dengan Pezeshkian dan Xi, seperti diungkapkan juru bicara Kremlin, Yuri Ushakov.
Pertemuan puncak ini menjadi panggung bagi Rusia dan Iran, dua negara yang paling banyak menerima sanksi internasional, untuk mempererat kerja sama militer dan ekonomi. Amerika Serikat, melalui Presiden Donald Trump, telah memperingatkan Moskow dan Beijing agar tidak mempersenjatai Iran. Kunjungan jarang Direktur CIA John Ratcliffe ke Moskow beberapa hari sebelum KTT memicu spekulasi bahwa isu Ukraina dan Iran menjadi agenda pembicaraan, meski tidak ada konfirmasi resmi.
Bagi Indonesia, dinamika SCO menarik dicermati. Meski bukan anggota, Indonesia memiliki hubungan dagang yang signifikan dengan China, Rusia, dan India. Eskalasi sanksi dan perang dagang antara AS dan China dapat mempengaruhi rantai pasok global, termasuk harga komoditas dan stabilitas pasar keuangan domestik. Selain itu, rivalitas Rusia-China di Asia Tengah, yang kaya sumber daya dan menjadi jalur transportasi penting antara Eropa dan Asia, berpotensi mengubah peta investasi dan konektivitas regional yang juga berdampak pada inisiatif konektivitas Indonesia.
Menurut Mohammad Hassan Najmi, pakar hubungan internasional, Iran meyakini keanggotaan aktif di SCO dapat membantu menghindari sanksi AS dan Eropa. Namun, ia meragukan manfaat konkret aliansi ini, karena "pada masa krisis, aliansi semacam ini jarang membantu Iran menyelesaikan masalahnya". Pernyataan ini menggarisbawahi skeptisisme bahwa SCO mungkin lebih banyak menjadi wadah retorika daripada solusi nyata.
KTT Bishkek juga menyoroti persaingan internal di antara anggota. Rusia dan China bersaing untuk pengaruh di Asia Tengah, sementara Beijing terkadang memiliki hubungan tegang dengan India dan Pakistan. Meski demikian, Putin dan Xi telah berulang kali menggunakan KTT SCO untuk menyampaikan visi dunia multipolar dan menyatukan sikap anti-Barat. Pada pertemuan tahun lalu, Putin menuduh negara-negara Barat memprovokasi perang Ukraina, sementara Xi mengecam "tindakan intimidasi" dalam konteks ketegangan AS-China.
Ke depan, keberhasilan SCO dalam menyeimbangkan kepentingan anggotanya akan menjadi ujian. Akankah blok ini mampu bertransformasi dari forum diskusi menjadi kekuatan yang benar-benar mempengaruhi tatanan global? Atau justru semakin terpecah oleh kepentingan nasional yang saling bertabrakan? Jawabannya mungkin akan menentukan arah geopolitik kawasan Eurasia dalam dekade mendatang, dan Indonesia perlu mencermati implikasinya bagi stabilitas dan kemakmuran kawasan Indo-Pasifik.



