Debat Eskalator di Korea Selatan: Berdiri Satu Sisi atau Dua Baris?
Baca dalam 60 detik
- Survei pemerintah menunjukkan 50,1% warga Korea Selatan memilih berdiri satu sisi, sementara 49,9% memilih dua baris.
- Studi di stasiun ramai menunjukkan kapasitas eskalator meningkat 25-30% saat semua orang berdiri di kedua sisi.
- Pemerintah Korea Selatan akan mempertimbangkan masukan forum untuk menyusun kebijakan keselamatan eskalator ke depan.

Warga Korea Selatan terbelah hampir sempurna dalam sebuah persoalan yang tampaknya sepele: bagaimana seharusnya menaiki eskalator? Survei pemerintah terhadap 1.000 orang dewasa di tujuh kota besar menunjukkan 50,1 persen responden memilih berdiri di satu sisi dan membiarkan sisi lain terbuka bagi mereka yang terburu-buru, sementara 49,9 persen lainnya memilih berdiri diam dalam dua baris. Perbedaan tipis ini memicu kembali perdebatan puluhan tahun tentang etika eskalator dan menantang asumsi bahwa membiarkan satu sisi terbuka selalu lebih cepat.
Forum yang digelar pemerintah di Seoul pada 29 Agustus lalu mempertemukan sekitar 200 warga dan pakar untuk membahas apakah eskalator lebih aman dan efisien jika semua orang berdiri diam atau jika satu jalur dibiarkan terbuka bagi pejalan. Jang Gye-ryeon, peneliti administrasi publik di Korea Institute of Industrial Relations, menegaskan bahwa pertanyaannya bukan sekadar satu baris atau dua baris, melainkan efisiensi siapa yang sedang dibicarakan, di tempat dan waktu seperti apa.
Bagi individu yang terburu-buru, berjalan di eskalator jelas menghemat waktu. Namun, bagi semua orang yang mengantre untuk naik, penggunaan kedua sisi justru dapat memindahkan lebih banyak orang. Jang mengutip eksperimen di stasiun ramai di Inggris yang menunjukkan kapasitas penumpang meningkat sekitar 25 hingga 30 persen ketika orang berdiri di kedua sisi dibandingkan hanya satu sisi. Uji coba kecil di Stasiun Guri dekat Seoul juga menghasilkan temuan serupa: sekitar 190 orang menggunakan eskalator dalam periode yang sama ketika kedua sisi terisi, dibandingkan 164 orang ketika hanya satu sisi yang digunakan. Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa eksperimen ini terlalu terbatas untuk menarik kesimpulan pasti.
Ada pula argumen keselamatan yang menentang kebiasaan berjalan di eskalator. Pengujian menggunakan sensor di bawah anak tangga menemukan bahwa berjalan menuruni eskalator menghasilkan dampak setara 2,01 kali berat badan seseorang, sementara berjalan menaiki menghasilkan sekitar 1,54 kali berat badan. Heo Yun-seop, profesor di Korea Lift College, menjelaskan bahwa dampak berulang dari berjalan dan beban tidak merata akibat berdiri di satu sisi dapat menimbulkan tekanan berulang pada komponen tertentu eskalator. Hal ini berpotensi memengaruhi umur pakai dan biaya perawatan, meskipun belum ada bukti kuat bahwa berdiri satu sisi secara langsung menyebabkan kerusakan.
Korea Selatan telah bergulat dengan masalah ini selama bertahun-tahun. Otoritas mulai mempromosikan kebiasaan berdiri satu sisi pada 1998, dan praktik ini menyebar luas saat Piala Dunia 2002 untuk memberi ruang bagi penumpang yang terburu-buru. Namun, pemerintah berbalik arah pada 2009 hingga 2014 dengan mendorong berdiri dua baris setelah kekhawatiran tentang kecelakaan dan perawatan alat meningkat. Sejak 2015, pemerintah berhenti memberi instruksi spesifik tentang sisi mana yang harus digunakan, dan sebagai gantinya merekomendasikan tiga aturan dasar: berpegangan pada pegangan tangan, tidak berjalan atau berlari, dan tetap berada di dalam garis aman.
Sejarah kebijakan yang berubah-ubah ini mungkin menjelaskan mengapa warga tetap terbelah. Data keselamatan memberi alasan lain bagi pemerintah untuk meninjau ulang masalah ini. Dari kecelakaan eskalator yang tercatat antara 1993 dan 2025, 72,3 persen disebabkan oleh perilaku pengguna, dan 53,3 persen melibatkan orang berusia 60 tahun ke atas. Angka ini menyoroti perlunya pendekatan yang lebih adaptif, terutama mengingat populasi lansia yang terus bertambah.
Forum pada 29 Agustus tidak menghasilkan pemenang yang jelas. Sebelum diskusi, 45,9 persen peserta mendukung berdiri diam dalam dua baris, sementara 13,4 persen mendukung membiarkan satu sisi terbuka. Setelah diskusi, dukungan untuk berdiri satu sisi naik menjadi 29,9 persen, sementara dukungan untuk dua baris turun menjadi 31,4 persen. Kelompok terbesar, yaitu 38,1 persen, justru mendukung penerapan aturan yang berbeda tergantung lokasi dan tingkat kepadatan penumpang. Menteri Dalam Negeri Yun Ho-jung menyatakan pemerintah akan menerapkan pandangan yang muncul dalam forum tersebut dalam langkah-langkah masa depan untuk meningkatkan keselamatan eskalator.
Bagi Indonesia, perdebatan ini relevan mengingat banyaknya eskalator di pusat perbelanjaan dan stasiun MRT/LRT yang kerap dipadati penumpang. Kebiasaan berdiri satu sisi masih lazim di sejumlah kota besar, meskipun belum ada regulasi yang jelas. Pertanyaannya, apakah Indonesia perlu mengambil pelajaran dari Korea Selatan untuk merumuskan pedoman yang lebih adaptif, atau justru membiarkan etika publik berkembang secara alami? Ke depannya, riset lebih lanjut diperlukan untuk menyeimbangkan efisiensi dan keselamatan, terutama dengan meningkatnya mobilitas masyarakat perkotaan.



