Debut Emiliano Martinez Tak Cukup: Chelsea Masih Rentan di Lini Belakang
Baca dalam 60 detik
- Kiper anyar Chelsea, Emiliano Martinez, langsung debut dan kebobolan tiga gol, menegaskan masalah pertahanan yang belum tuntas.
- Catatan penguasaan bola 25,9% dan 146 umpan sukses menjadi rekor terburuk Chelsea di era Premier League, mengindikasikan lini tengah rapuh.
- Dengan Enzo Fernandez berpotensi hengkang ke Manchester City, Chelsea harus segera mencari pengganti untuk menjaga ambisi juara.

Lima jam setelah diumumkan sebagai rekrutan anyar, Emiliano Martinez sudah beraksi di bawah mistar Chelsea. Namun, debut kiper asal Argentina itu di laga melawan Brighton justru memperlihatkan bahwa masalah Chelsea tidak sesederhana mengganti penjaga gawang.
Dalam laga yang berakhir dengan kemenangan dramatis 4-3 di Stamford Bridge, The Blues kembali memperlihatkan kerapuhan di lini belakang. Tiga gol yang bersarang ke gawang Martinez seakan menjadi alarm bahwa pertahanan Chelsea masih jauh dari kata aman. Padahal, manajer Xabi Alonso sengaja memainkan Martinez sejak menit awal, hanya berselang beberapa jam setelah kepindahannya dari Aston Villa dengan nilai transfer sekitar 7,5 juta poundsterling.
Keputusan Alonso untuk langsung memainkan Martinez menunjukkan urgensi yang dirasakan pelatih asal Spanyol itu. Robert Sanchez, yang menjadi kiper utama musim lalu, dinilai gagal memberikan rasa aman. Kesalahan-kesalahan individunya, terutama dalam dua laga pembuka musim ini, membuat manajemen kehilangan kesabaran. Martinez, yang pernah membawa Argentina juara Piala Dunia 2022 dan Aston Villa menjuarai Liga Europa, diharapkan menjadi tembok terakhir yang kokoh.
Statistik membenarkan kekhawatiran itu. Dalam laga kontra Brighton, Chelsea hanya mampu menguasai bola 25,9 persen, sebuah rekor terburuk sepanjang karier Alonso sebagai manajer di Chelsea, Bayer Leverkusen, dan Real Madrid. Jumlah umpan sukses pun hanya 146, terendah dalam sejarah Premier League sejak pencatatan dimulai pada 2003-04. Angka-angka ini mengindikasikan lini tengah Chelsea gagal mengontrol permainan, membuat pertahanan terus-menerus mendapat tekanan.
Masalah utama terletak pada lini tengah yang kehilangan keseimbangan. Enzo Fernandez, gelandang andalan, kembali dicadangkan untuk laga kedua beruntun. Manchester City dikabarkan siap mengajukan tawaran sebelum tenggat transfer Selasa mendatang. Jika Fernandez hengkang, Chelsea akan kehilangan kreator utama mereka. Situasi ini diperparah dengan cedera yang dialami Moises Caicedo, yang hanya bertahan 11 menit setelah masuk sebagai pemain pengganti. Alhasil, Alonso terpaksa memasang Malo Gusto dan Romeo Lavia di tengah, sebuah eksperimen yang belum berjalan mulus.
Ketergantungan pada lini depan yang tajam menjadi satu-satunya penyelamat. Cole Palmer dan Joao Pedro tampil impresif, mencetak gol-gol penting. Namun, ketidakmampuan menjaga keunggulan hampir membuat Chelsea kehilangan poin. Alonso sendiri mencoba meremehkan masalah ini, menyebut kebobolan tiga gol sebagai hal yang wajar. Namun, jika Chelsea ingin bersaing memperebutkan gelar juara, mereka tidak bisa terus-menerus mengandalkan keajaiban di lini serang.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, situasi Chelsea ini menarik untuk dicermati. Banyak penggemar di Tanah Air yang mengikuti Premier League dan menantikan bagaimana Alonso meramu strategi. Kehadiran Martinez, yang dikenal dengan aksi-aksi kontroversialnya, menambah bumbu persaingan. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah Chelsea akan mampu memperbaiki pertahanan mereka sebelum menghadapi Arsenal di laga berikutnya? Jika tidak, mimpi juara musim ini bisa sirna lebih awal.
Laga melawan Arsenal akan menjadi ujian sesungguhnya. The Gunners dikenal memiliki lini serang yang tajam dan pressing ketat. Jika Chelsea masih tampil dengan penguasaan bola yang minim, mereka akan kesulitan. Alonso harus segera menemukan formula yang tepat, baik dengan mendatangkan gelandang baru maupun menyesuaikan skema permainan. Satu hal yang pasti, waktu terus berjalan dan tekanan semakin besar.



