Gol Maguire yang Sah: Mengapa Aturan Handball Kembali Jadi Perdebatan
Baca dalam 60 detik
- Kontroversi aturan handball kembali mencuat setelah gol pembuka Manchester United ke gawang Ipswich dinyatakan sah, meski bola mengenai tangan Harry Maguire.
- Keputusan wasit didasarkan pada fakta bahwa gol tersebut tercatat sebagai gol bunuh diri Jacob Greaves, bukan gol langsung Maguire, sehingga pengecualian aturan berlaku.
- Insiden ini memicu kritik terhadap kompleksitas regulasi sepak bola, dengan para ahli menilai hukum handball terlalu rumit dan sering membingungkan.

Aturan handball dalam sepak bola kembali menjadi sorotan setelah gol pembuka Manchester United dalam kemenangan 5-2 atas Ipswich Town pada Sabtu (26/2/2026) dinyatakan sah, meskipun bola terlebih dahulu mengenai tangan bek Harry Maguire. Keputusan wasit Craig Pawson yang didukung oleh asisten video wasit (VAR) ini memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar dan pemerhati sepak bola, terutama karena gol tersebut tercatat sebagai gol bunuh diri pemain Ipswich, Jacob Greaves.
Kronologi kejadian bermula ketika Maguire melepaskan tembakan dari luar kotak penalti. Bola yang mengarah ke gawang justru membentur lengan Maguire sebelum kemudian berbelok arah dan masuk ke gawang setelah mengenai Greaves. Meskipun wasit awalnya mengesahkan gol, banyak yang mengira gol tersebut akan dianulir karena aturan menyatakan bahwa handball oleh pencetak gol harus berbuah penalti atau gol dianulir. Namun, karena gol tersebut bukan dicetak langsung oleh Maguire melainkan oleh Greaves, aturan pengecualian pun berlaku.
Komunikasi antara VAR Jarred Gillett dan wasit Pawson menjadi kunci. Gillett merekomendasikan agar gol tetap disahkan dengan alasan bahwa handball yang terjadi tidak disengaja dan gol tersebut merupakan gol bunuh diri. "Itu gol bunuh diri dan handball yang tidak disengaja tidak dapat dihukum, jadi kami merekomendasikan untuk memberikan gol," ujar Gillett dalam komunikasi yang terekam. Keputusan ini sejalan dengan tiga pengecualian dalam aturan handball yang dikeluarkan oleh International Football Association Board (IFAB), salah satunya adalah ketika tindakan pemain bertahan menghasilkan gol bunuh diri.
Keputusan ini pun menuai reaksi beragam. Manajer Ipswich, Gary O'Neil, menyebut aturan tersebut "sulit bagi wasit" dan "rumit". Sementara itu, mantan kiper Inggris, Paul Robinson, yang berbicara di BBC Radio 5 Live, menyatakan simpatinya kepada para ofisial. "Sekali lagi kita menjadi korban hukum," ujarnya. "Anda tidak bisa mengkritik ofisial VAR karena mereka hanya menegakkan hukum yang diberikan. Mereka berlatih sangat keras, tetapi ini adalah handball dan Harry Maguire yang menendang bola. Untungnya itu bukan gol penentu pertandingan. Berapa kali aturan handball ini diubah?"
Mantan penyerang Ipswich dan pengamat Sky Sports, Darren Bent, juga angkat bicara. "Ini salah satu aturan yang saya pahami karena tertulis hitam di atas putih, tetapi tetap terasa tidak adil," katanya. "Maguire secara langsung memengaruhi apa yang terjadi pada bola dan akhirnya masuk ke gawang pada saat yang krusial bagi Ipswich. Jika bola mengenai tangan Anda dan dia yang secara langsung memengaruhinya, itu bukan hal yang menyenangkan untuk diterima."
Insiden ini menambah daftar panjang kontroversi handball yang kerap mewarnai sepak bola modern. Sebelumnya, pada Januari 2023, gol Brentford ke gawang Liverpool juga menjadi perdebatan serupa. Saat itu, bola mengenai tangan Ben Mee dan berbelok masuk gawang setelah membentur Ibrahima Konate, dan gol tersebut dianulir karena handball. Perbedaan dengan kasus Maguire adalah bahwa dalam kasus Brentford, bola tidak sedang menuju gawang, sedangkan dalam kasus Maguire, bola justru berbelok arah setelah mengenai tangan dan kemudian membentur pemain lawan.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, aturan handball yang rumit ini sering kali menjadi sumber kebingungan. Banyak yang menilai bahwa regulasi ini terlalu teknis dan sulit dipahami oleh penonton awam, sehingga mengurangi kenikmatan menonton pertandingan. Beberapa pengamat bahkan mendorong IFAB untuk menyederhanakan aturan handball agar lebih mudah dipahami dan konsisten dalam penerapannya.
Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah apakah IFAB akan kembali merevisi aturan handball untuk mengurangi ambiguitas. Dengan semakin seringnya kontroversi seperti ini, tekanan untuk mengubah regulasi kemungkinan akan meningkat. Namun, perubahan aturan yang terlalu sering juga dapat menimbulkan kebingungan baru. Yang jelas, keputusan dalam pertandingan Man United vs Ipswich ini akan menjadi bahan diskusi panjang di kalangan penggemar dan praktisi sepak bola, setidaknya hingga musim ini berakhir.



