Banjir Nepal Belum Usai: Ancaman Gelombang Baru, 788 Tewas dan Ribuan Hilang
Baca dalam 60 detik
- Nepal memperpanjang status siaga banjir setelah peringatan dini dari China terkait peningkatan debit Sungai Bhotekoshi.
- Korban tewas mencapai 788 orang dengan 2.502 hilang, sementara 261 warga asing masih belum ditemukan di Tibet.
- Malaysia mengirim tim SAR dan bantuan USD 1 juta, menyoroti perlunya respons global terhadap krisis iklim.

Otoritas Nepal kembali mengeluarkan peringatan banjir pada Minggu (30/8) setelah muka air Sungai Bhotekoshi naik, memaksa warga di sejumlah distrik untuk tetap waspada. Peringatan ini datang di tengah upaya evakuasi dan pembersihan jalur utama yang menghubungkan Kathmandu dengan daerah terdampak paling parah, menyusul bencana banjir bandang Rabu lalu yang menewaskan sedikitnya 788 orang dan meninggalkan 2.502 orang hilang di Nepal dan Tibet.
Peringatan dini dikirim langsung ke ponsel warga sejak Minggu pagi, setelah otoritas China memberi tahu pihak Nepal tentang peningkatan aliran air di hulu. Kepala Eksekutif Otoritas Nasional Pengurangan Risiko Bencana Nepal, Dharam Raj Uprety, mengonfirmasi bahwa informasi tersebut menjadi dasar kewaspadaan baru. Sementara itu, kantor berita Xinhua melaporkan bahwa danau baru yang terbentuk akibat banjir di pegunungan telah menyusut, namun sebuah kawah di 5,6 kilometer hulu dengan perkiraan 1,4 juta meter kubik air masih menyimpan risiko dan memerlukan pemantauan ketat.
Di lapangan, warga di Dhading, salah satu wilayah terparah, mulai kembali ke rumah-rumah yang hancur untuk mencari barang yang bisa diselamatkan. Rumah-rumah kehilangan dinding, lumpur dan puing memenuhi balkon dan jendela. Seorang warga, Sharmila Tamang, mengaku semua harta bendanya ludes. Sementara itu, sebuah pembangkit listrik yang melayani lebih dari 20.000 orang di empat distrik mulai diperiksa untuk menilai kerusakan. Jembatan besar dan gantung hancur, memutus akses antar komunitas.
Para ilmuwan yang menganalisis citra satelit menyebutkan bahwa batuan dasar di bawah gletser Himalaya runtuh, membawa sebagian gletser, dan memicu aliran deras yang menyapu bangunan, jembatan, dan tanah di Tibet serta Nepal. Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, menegaskan bahwa negaranya menanggung beban perubahan iklim yang tidak proporsional, meski hanya menyumbang 0,1 persen emisi global. Para ahli memang belum bisa memastikan hubungan langsung antara pemanasan global dan bencana ini, tetapi mereka mengingatkan bahwa kenaikan suhu bumi meningkatkan frekuensi kejadian serupa, terutama di kawasan Himalaya yang memanas lebih cepat.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan negara-negara berkembang terhadap dampak iklim. Sebagai negara kepulauan dengan populasi besar, Indonesia juga menghadapi risiko hidrometeorologi yang meningkat. Respons Malaysia yang cepat mengirim tim SAR dan bantuan finansial menunjukkan solidaritas regional yang bisa menjadi contoh. Pertanyaannya, apakah negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, akan memperkuat mekanisme bantuan bersama untuk menghadapi bencana iklim yang semakin sering terjadi?



