Petani Kopi Vietnam Beralih ke Durian: Meraup Cuan dari Pasar China
Baca dalam 60 detik
- Luas lahan durian di Vietnam melonjak lima kali lipat dalam satu dekade, mencapai 200.000 hektare, didorong permintaan China yang membeludak.
- Ekspor durian Vietnam diproyeksikan menembus US$4 miliar tahun ini, dengan 90 persen diserap pasar China, menggeser dominasi Thailand.
- Ketergantungan pada satu pasar dan risiko oversupply menjadi kekhawatiran utama, sementara pemerintah mulai mengingatkan soal pengendalian kualitas.

Dataran Tinggi Tengah Vietnam, yang selama ini dikenal sebagai lumbung kopi dunia, kini tengah mengalami pergeseran besar. Para petani di kawasan tersebut berbondong-bondong mengganti tanaman kopi dengan durian, memburu peluang emas dari ledakan permintaan China terhadap buah berduri tajam yang dijuluki "raja buah" itu. Fenomena ini bukan sekadar tren pertanian, melainkan cerminan perubahan peta ekonomi komoditas di Asia Tenggara.
Vietnam baru resmi menembus pasar durian China melalui protokol perdagangan pada 2022. Namun, dalam waktu singkat, negara ini berhasil menjadi pemasok durian terbesar ke China berdasarkan volume pada tahun lalu, mengakhiri dominasi Thailand yang bertahan hampir dua dekade. Data Kementerian Pertanian Vietnam menunjukkan luas area tanam durian melonjak lebih dari lima kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir, mencapai 200.000 hektare di seluruh negeri.
Salah satu petani yang merasakan langsung berkah durian adalah Pham Xuan Lan (56 tahun). Pria asal Ea Knuec, Provinsi Dak Lak, ini mulai diversifikasi tanam dua dekade lalu dan kini memiliki 400 pohon durian yang menghasilkan 60 ton buah per tahun. Dari hasil panennya, ia memperkirakan pendapatan tahun ini mencapai US$76.000, jauh berlipat dibandingkan jika ia tetap bertahan dengan kopi yang hanya memberi US$10.000. "Dengan durian, saya bisa membeli mobil, rumah untuk anak-anak, dan membangun vila untuk keluarga," ujarnya, seperti dikutip AFP.
Kesuksesan Lan diikuti banyak petani lain yang kini fokus pada varietas premium seperti Ri6, Musang King, dan Dona. Pada musim panen Agustus-Oktober, jalan-jalan di Dak Lak dipadati truk pengangkut durian. Bahkan, dalam festival durian bulan ini, 525 kendaraan pengangkut buah membentuk parade terbesar yang diakui Guinness World Records. Pemandangan ini menunjukkan betapa masifnya geliat ekonomi durian di kawasan tersebut.
Di balik euforia ini, ada kekhawatiran yang mengemuka. Ketergantungan yang sangat tinggi pada pasar Chinaโ90 persen ekspor durian Vietnam mengalir ke negara ituโmembuat ekonomi petani rentan terhadap gejolak permintaan dan kebijakan Beijing. Pemerintah Vietnam sendiri telah mengeluarkan peringatan pada awal Agustus tentang "risiko kelebihan pasokan dan hilangnya kendali kualitas seiring meluasnya area tanam". Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan; Malaysia baru saja mengalami anjloknya harga durian akibat panen raya yang tak terduga.
Fenomena ini juga menarik dicermati dari sisi Indonesia. Sebagai negara agraris dengan potensi besar di sektor perkebunan, Indonesia sebenarnya memiliki peluang serupa untuk memanfaatkan pasar China yang haus akan durian. Namun, pengalaman Vietnam menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, melainkan juga kualitas, standar ekspor, dan jejaring distribusi. Indonesia, yang memiliki durian lokal seperti durian Medan dan durian Banyuwangi, masih perlu bekerja keras untuk menembus pasar ekspor secara signifikan. Regulasi dan infrastruktur pendukung menjadi kunci.
Di sisi lain, China tidak tinggal diam. Beijing tengah gencar mengembangkan perkebunan durian domestik di Pulau Hainan seluas lebih dari 3.000 hektare. Meski demikian, Feng Xuejie, pakar durian dari Akademi Ilmu Pertanian Hainan, mengakui bahwa "durian Hainan hanya akan menjadi pelengkap bagi durian Asia Tenggara". Hal ini menunjukkan bahwa posisi Vietnam dan negara Asia Tenggara lainnya masih kuat dalam jangka pendek.
Namun, tidak semua petani merasakan manisnya durian. Hung, seorang petani yang enggan menyebut nama lengkapnya, mengaku gagal setelah beralih total dari kopi ke durian lima tahun lalu. Ia kembali menanam kopi dua tahun kemudian karena kesulitan memenuhi standar kualitas yang ketat. "Saya tidak bisa melakukannya. Saya gagal," ujarnya. "Jadi saya tidak akan pernah kembali ke durian lagi." Kisah Hung menjadi pengingat bahwa durian bukanlah jaminan kesuksesan instan; dibutuhkan keahlian dan modal yang tidak sedikit.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Vietnam mampu menjaga keseimbangan antara mengejar pertumbuhan ekspor dan menjaga kualitas serta keberlanjutan lingkungan. Dengan semakin banyaknya petani yang beralih ke durian, risiko oversupply dan penurunan harga mengintai. Pemerintah perlu memperketat pengawasan dan mendorong diversifikasi pasar agar tidak terlalu bergantung pada China. Bagi Indonesia, pelajaran dari Vietnam adalah pentingnya membangun daya saing komoditas unggulan secara serius, tidak hanya mengandalkan pasar domestik, tetapi juga menembus pasar global dengan standar yang diakui.


