Banjir Bandang Himalaya Tewaskan 750 Orang, 3.000 Lebih Hilang: Krisis Iklim dan Tantangan Evakuasi Lintas Batas
Baca dalam 60 detik
- Bencana akibat longsoran gletser di perbatasan Nepal-Tibet telah menewaskan 750 jiwa dan membuat 3.044 orang hilang, dengan operasi penyelamatan yang terhambat cuaca buruk dan ancaman banjir susulan.
- China dan Nepal meningkatkan kerja sama darurat, termasuk bantuan teknis penyelamatan terowongan dan identifikasi korban, di tengah tuduhan bahwa krisis ini dipicu oleh pemanasan global.
- Dampak bencana ini berpotensi meluas ke kawasan Asia, termasuk Indonesia, yang perlu mewaspadai risiko hidrometeorologi serupa akibat perubahan iklim.

Banjir bandang yang dipicu longsoran gletser di kawasan Himalaya telah menewaskan sedikitnya 750 orang di Nepal dan Tibet hingga Minggu (30/8), sementara lebih dari 3.000 lainnya masih dinyatakan hilang. Tim penyelamat terpaksa dievakuasi ke tempat lebih tinggi setelah hujan deras kembali meningkatkan debit sungai, memperumit upaya pencarian yang sudah berlangsung sejak Rabu pekan lalu.
Bencana ini bermula dari runtuhnya gletser di perbatasan Nepal-China yang memicu aliran lumpur, es, dan bebatuan menghantam permukiman serta pembangkit listrik tenaga air. Di Nepal, jumlah korban tewas mencapai 734 orang dengan 2.498 hilang dan 7.514 berhasil diselamatkan. Sementara di sisi China, 16 orang tewas di Kabupaten Gyirong dan 546 lainnya hilang. Yang memprihatinkan, 261 warga asing dari 23 negara ikut hilang di wilayah Tibet, termasuk 104 warga Nepal, 49 orang India, serta sejumlah warga Latvia, Amerika, dan Inggris.
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dalam percakapan telepon dengan mitranya dari Nepal, menyebut musibah ini sebagai "bencana lintas batas terparah" dalam beberapa tahun terakhir. Ia menekankan tingkat kesulitan operasi penyelamatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, terutama karena medan yang ekstrem dan ancaman banjir susulan. Danau yang terbentuk akibat longsoran sempat menggenang di perbatasan dan mengancam pemukiman, meski sebagian besar airnya telah surut. Namun, drone mendeteksi longsor baru di hilir danau yang membendung aliran sungai, memaksa tim penyelamat kembali menjauh dari zona bahaya.
Fokus evakuasi kini tertuju pada ratusan orang yang diduga terjebak di terowongan pembangkit listrik tenaga air. Pemerintah Nepal mengakui keterbatasan peralatan, sehingga meminta bantuan internasional untuk penyelamatan terowongan, tes DNA, serta pendinginan jenazah. India dan China telah mengirimkan ahli untuk membantu membuka akses ke terowongan tersebut. Sementara itu, Palang Merah memperkirakan lebih dari 90.000 orang terkena dampak langsung bencana ini.
China secara eksplisit mengaitkan bencana ini dengan perubahan iklim. CCTV melaporkan bahwa banjir tersebut disebabkan oleh ketidakstabilan gletser akibat pemanasan global jangka panjang, sebuah fenomena yang disebut sebagai "ciri baru bencana kriosfer" di Dataran Tinggi Tibet. Rekaman kamera pengawas memperlihatkan dinding air dan puing yang menghantam bangunan dalam hitungan menit setelah longsor terjadi. Para ilmuwan China mencatat bahwa aliran lumpur mencapai pos perbatasan Gyirong hanya dalam enam hingga tujuh menit.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan Asia terhadap dampak perubahan iklim. Meski Indonesia tidak memiliki gletser, risiko hidrometeorologi seperti banjir bandang dan tanah longsor meningkat seiring dengan intensitas cuaca ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berulang kali memperingatkan potensi bencana serupa di daerah pegunungan seperti Papua. Selain itu, kerja sama regional dalam penanganan bencana lintas batas, seperti yang dilakukan China dan Nepal, dapat menjadi pelajaran bagi negara-negara ASEAN dalam membangun ketahanan bersama.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana negara-negara berkembang dapat meningkatkan kapasitas adaptasi terhadap fenomena kriosfer yang semakin tidak menentu. Investasi dalam sistem peringatan dini dan infrastruktur tahan iklim menjadi keniscayaan, bukan sekadar pilihan. Apakah bencana Himalaya ini akan menjadi momentum bagi dunia untuk bertindak lebih nyata dalam mitigasi perubahan iklim, atau justru tenggelam dalam rutinitas tanggap darurat yang reaktif?


