Tottenham Terpuruk di Dasar Klasemen: De Zerbi Tetap Tenang, tapi Suporter Mulai Geram
Baca dalam 60 detik
- Tottenham menelan kekalahan kedua beruntun dan kini menjadi juru kunci Premier League tanpa satu gol pun.
- Investasi musim panas senilai lebih dari ยฃ300 juta belum membuahkan hasil, memicu kekhawatiran akan musim yang suram.
- Pelatih Roberto de Zerbi menolak panik, tetapi kritik tajam datang dari mantan kiper Inggris soal kurangnya identitas permainan tim.

Laga kandang yang seharusnya menjadi momentum kebangkitan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Tottenham Hotspur. Dua gol Newcastle United yang tercipta dalam rentang sepuluh menit di babak kedua memaksa Spurs menelan kekalahan 0-2 di hadapan pendukungnya sendiri, sekaligus mengokohkan posisi mereka di dasar klasemen Premier League dengan dua kekalahan beruntun dan tanpa satu gol pun.
Kekalahan ini terasa semakin perih mengingat ambisi besar yang diusung klub pada musim panas lalu. Lebih dari ยฃ300 juta telah dikucurkan untuk mendatangkan sederet pemain anyar, termasuk Sandro Tonali dari Newcastle dengan nilai transfer ยฃ100 juta dan Mateus Fernandes dari West Ham seharga ยฃ85 juta. Harapannya, investasi sebesar itu mampu membawa Tottenham kembali bersaing di papan atas dan menembus kompetisi Eropa. Namun kenyataannya, tim asuhan Roberto de Zerbi justru tampil tumpul dan gagal menunjukkan progres yang diharapkan.
Catatan buruk Tottenham di kandang pun menjadi sorotan. Dari 23 laga terakhir di stadion megah mereka, hanya tiga kemenangan yang mampu diraih. Kondisi ini memicu frustrasi di kalangan suporter, yang bahkan banyak meninggalkan stadion lebih awal saat laga melawan Newcastle masih berjalan. Pertanyaan besar pun muncul: apakah proyek besar De Zerbi akan kembali gagal seperti dua musim sebelumnya yang nyaris berujung degradasi?
Di tengah tekanan yang semakin besar, De Zerbi justru memilih untuk tetap tenang. Pelatih asal Italia itu menilai hasil pertandingan melawan Newcastle tidak adil, mengingat timnya tampil lebih dominan sebelum kebobolan gol pertama. "Saya tidak marah. Kami bekerja dengan baik dan kurang beruntung hari ini," ujarnya. Ia juga menegaskan tidak ada kepanikan dalam timnya, dan ia yakin dengan rencana jangka panjang yang sedang dijalankan.
Namun, pernyataan De Zerbi itu tidak sepenuhnya meredakan keraguan. Joe Hart, mantan kiper Tottenham dan Timnas Inggris, menilai timnya gagal menunjukkan identitas permainan yang jelas. "Sulit untuk tidak bertanya-tanya apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh tim ini," katanya. Hart juga membandingkan dengan Newcastle yang meski mengalami banyak perubahan, justru tampil solid dan terorganisir di bawah pelatih Matthias Jaissle. "Para pemain Newcastle tampak memahami apa yang mereka lakukan. Untuk Tottenham, saya belum melihat hal itu," tambahnya.
Senada dengan Hart, Rob Green yang juga mantan kiper Inggris menyoroti minimnya kreativitas dan daya gedor Tottenham. "Mereka kekurangan ide, kreasi, dan gol. Pertanyaan yang sama seperti musim lalu masih menghantui mereka hingga kini," ujarnya. Green menilai Tottenham membutuhkan karakter kuat untuk bangkit, sebelum kepercayaan diri para pemain semakin terkikis dan suporter berbalik arah.
Jendela transfer yang akan ditutup pada Selasa mendatang menjadi peluang terakhir bagi De Zerbi untuk memperbaiki skuadnya. Ia sebelumnya mengaku masih membutuhkan satu pemain lagi di posisi spesifik. Namun, ia juga membuka pintu bagi pemain yang ingin hengkang, seperti Kevin Danso, Pape Matar Sarr, dan Richarlison, selama ada solusi ekonomi yang menguntungkan klub. "Jika mereka ingin pergi, mereka harus membawa solusi finansial," tegasnya.
De Zerbi yang baru ditunjuk pada akhir Maret lalu memang berhasil menyelamatkan Tottenham dari degradasi musim lalu. Namun, ia sadar bahwa perubahan besar tidak bisa instan. "Mengubah dua musim yang buruk tidak mungkin dilakukan dalam sepuluh hari atau hanya dengan aktivitas di bursa transfer," akunya. Ia berkomitmen untuk terus bekerja keras di lapangan dan membangun koneksi antar pemain.
Kekhawatiran kini muncul dari berbagai kalangan, termasuk para pengamat sepak bola di Indonesia yang turut menyoroti performa tim-tim besar Eropa. Bagi para penggemar Premier League di tanah air, nasib Tottenham menjadi pelajaran bahwa belanja besar tidak menjamin kesuksesan instan. Pertanyaannya, mampukah De Zerbi membalikkan keadaan sebelum tekanan semakin menghimpit? Atau akankah Tottenham kembali terpuruk dalam krisis berkepanjangan?



